Tafakur Agustus-an di Jalanan

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di situs web akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 16 Agustus 2011.

Aku tidak tahu apakah kata-kata yang aku baca saat itu merupakan penuturan yang tepat atau tidak, karena nyatanya aku memang sama sekali tidak merasakan, baik ketertegunan, ketersindiran maupun ketersadaran ketika meng-klik kata ‘like’ pada kalimat status dari sebuah akun facebook milik seorang profesor dan guru besar kriminologi, Universitas Indonesia. “Mengapa banyak orang tidak mengibarkan bendera merah putih di bulan proklamasi ini, ya? Apa orang-orang sudah kehilangan rasa kebangsaan?” Begitulah bunyi kalimat tersebut, sebuah pertanyaan penyadaran, bahkan terkesan menyindir kita semua, dari mulut seorang profesor tua kepada masyarakatnya yang dianggap sudah kehilangan rasa kebanggaan terhadap hari kemerdekaan.

Ketupat Merah-Putih.

Selain aku, ada kira-kira tujuh akun facebook lain ikut membubuhkan tanda ‘like’ pada kalimat status tertanggal 2 Agustus 2011 itu, dan tiga akun yang lain justru mengomentari. Mungkin mereka juga merasakan kepedulian yang sama dengan sang profesor. Berbeda dengan aku yang sengaja memberi ‘jempol’ tanda menyukai kalimat itu hanya karena pertimbangan bahwa yang membuat kalimatnya adalah salah seorang guru besar di jurusan perkuliahan yang sedang aku geluti.

Mungkin jawaban untuk menanggapi pertanyaan itu cukup dijelaskan dengan alasan yang sederhana, sebagaimana komentar dari salah seorang mahasiswa di bawah kalimat sang profesor, “Sudah terbenam dengan suasana Ramadhan Prof… Hhe…” Atau mungkin jawaban dari temanku yang lain lebih mendekati ketepatan. “Lho, bukannya pengibaran bendera merah putih di rumah-rumah itu dilakukan sepuluh hari sebelum tanggal 17, ya?” Tanggapnya atas soal yang aku lemparkan dalam sebuah obrolan tongkrongan: tentang rasa kebangsaan masyarakat yang mulai berkurang akhir-akhir ini (tentunya berangkat dari kalimat status facebook sang profesor), dua hari setelah membaca kalimat si pakar kriminologi itu.

Benar-tidaknya kenyataan tentang kepedulian masyarakat terhadap hari kemerdekaan dan rasa kebanggaan yang telah berkurang, bagaimana pun aku memang merasakan sesuatu yang berbeda pada bulan ini. Coba saja kita tanya pada orang-orang di jalanan, “Bulan apa sekarang?” dan aku hampir yakin bahwa jawaban yang keluar dari mulut mereka, “Sekarang bulan puasa.”.

Biasanya, dimulai sejak pertengahan minggu pertama Bulan Agustus, kain merah-putih sudah menjajah trotoar dan tiang-tiang listrik serta pohoh-pohon yang berdiri di pinggiran jalan. Para pedagang di lampu merah sibuk menawari pernak-pernik hari kemerdekaan kepada para pejalan dan pengendara di jalan raya. Aku masih ingat tahun-tahun yang lalu di Bulan Agustus, terutama ketika aku pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta, saat berjalan di sepanjang Jalan Lenteng Agung menuju Stasiun Lenteng Agung, kemana pun mata memandang, para pedagang bendera membuka lapak dagangannya, umbul-umbul dan kain panjang merah-putih berkibar-kibar tertiup angin di siang hari yang terik.

Sedangkan sekarang ini, hiasan-hiasan merah-putih terasa lebih sedikit dan lebih jarang (atau lebih tepatnya: proses penuhnya jalanan dengan citra warna merah-putih pada bulan ini terasa bergerak lebih lambat). Begitu juga dengan pedagang-pedagangnya. Mungkin ini memang hanya dari sudut pandang diriku sendiri, yang menghabiskan waktu saban hari di sekitar Jalan Lenteng Agung saja. Namun itu tetap dapat menjadi pertimbangan, karena aku membandingkannya dengan pengalamanku di Lenteng Agung pada tahun-tahun sebelumnya, terkait dengan fenomena merebaknya citra warna merah-putih menjelang tanggal 17 Agustus.

Ya, tidak sepenuhnya benar pendapatku itu. Karena di akhir minggu kedua bulan ini, nyatanya kain merah-putih sudah mulai memenuhi jalanan meskipun harus bersedia berdampingan dengan umbul-umbul dan baliho-baliho para habib yang mempublikasikan kegiatan zikir bersama di berbagai tempat di Jakarta.

Lantas, apakah benar semangat tujuh-belas-agustus tahun ini berkurang? Dan apakah benar penyebabnya adalah bulan puasa yang berlangsung selama Bulan Agustus? Atau, dua pertanyaan itu malah tidak relevan sama sekali dengan apa yang sebenarnya terjadi di tengah-tengah massa pada kenyataannya?

Aku masih ingat dengan pelajaran sejarah waktu SD dulu. Katanya, detik-detik proklamasi itu berlangsung pada bulan puasa. Peristiwa Rengasdengklok saja terjadi pada jam-jam sahur. Hingga akhirnya kemerdekaan diproklamirkan, tanggal 17 Agustus 1945 itu bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364 H. Jadi sungguh tidak mengenakkan jika harus menerima kenyataan bahwa bulan puasa lah penyebab menurunnya animo masyarakat terhadap perayaan hari kemerdekaan Indonesia di bulan ini.

Aku mendapatkan sebuah sudut pandang baru, dan dasar alasan atas penjelasan yang berbeda, ketika tanpa sengaja melihat beberapa pedagang pernak-pernik hari kemerdekaan menjajakan satu bentuk hiasan yang beda pada tahun-tahun sebelumnya (atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa aku belum pernah melihat bentuk hiasan itu sebelumnya). Saat itu aku sedang berada di dalam mobil bersama teman-teman kuliahku menuju arah Pasar Minggu. Di bawah kolong jalan layang Tanjung Barat, aku melihat pedagang-pedagang itu menawarkan semacam hiasan berbentuk ketupat, berwarna merah-putih, sebagai gantungan mobil. Aku dan yang lain tidak membeli hiasan itu, tetapi kami tetap berdecak kagum atas kreativitas pedagang dalam menanggapi sebuah momentum demi mengusahakan larisnya dagangan mereka.

Ini yang namanya seni kalangan bawah. Kreativitas tidak lagi dijadikan sebagai sesuatu yang adiluhung, melainkan menjadi barang fungsional untuk kepentingan tertentu. Jika beberapa tahun belakangan, di televisi kita hanya menyaksikan iklan-iklan penyambut Bulan Ramadhan dengan tampilan yang itu-itu saja, atau program acara memperingati hari kemerdekaan yang berisi upacara di Istana Negara dan liputan konser para artis yang memeriahkan HUT RI ke-sekian, para pedagang di jalanan justru tampil dengan kejelian mereka memadukan dua momentum yang pada dasarnya merupakan bagian dari kesatuan aspek sejarah Indonesia. Hasil dari usaha untuk mencari celah dan menarik minat para konsumen itu adalah ketupat tiruan berwarna merah-putih.

Pemilihan atas sasaran mereka pun dapat dikatakan jenius: bukan lagi para pegawai kantoran, guru-guru sekolah, atau anak-anak sekolahan yang sibuk mencari umbul-umbul merah putih untuk menjadi pemeriah kegiatan lomba setelah upacara bendera pada hari H, melainkan para pengemudi mobil yang membutuhkan hiasan gantungan di dalam mobil mereka. Memang, bendera kecil yang biasa di tempel di atap mobil masih menjadi barang dagangan, tetapi pada bulan ini (seperti yang aku amati), ketupat merah-putih menjadi andalan.

Bagiku, yang bukan pengendara mobil, tetapi merupakan pelanggan setia angkutan umum, melihat ketupat-ketupat merah putih yang menggantung di tas atau kotak bawaan si pedagang yang menyusuri kemacetan dan mendatangi mobil satu persatu untuk menawari si ketupat palsu, menjadi hiburan tersendiri yang cukup unik. Dengan melihatnya, aku langsung tersadar bahwa bulan ini adalah Bulan Proklamasi, tetapi juga Bulan Puasa. Dan menurutku, secara tidak langsung para pedagang itu telah melakukan cara yang lebih memberikan efek untuk menyadarkan dan mengingatkan massanya daripada hanya berkeluh kesah tanpa arti seperti yang dilakukan sang profesor pada akun facebook-nya.

***

Ketika kutanya salah seorang pedagang soal harga, jawabnya: “Satunya, ya goceng saja lah kalau cuma satu mah!” Dia sedang duduk di trotoar di bawah kolong jalan layang, di Tanjung Barat, dan sedang asyik dengan telepon genggamnya ketika aku menghampiri.

Yah, kemahalan, Bang!” keluhku mencoba menawar.

“Itu udah setengah harga, Bos. Sebenarnya kalau mau, satunya ini dijual sepuluh ribu. Yang lain juga begitu.”

Kurangin dikit lah, Bang!”

“Kita saja modalnya tiga setengah, satunya ini, makanya kita ‘lempar’ goceng. Kan susah jadinya. Ya namanya orang dagang, nyari untung,” si penjual itu menjelaskan.

Aku diam, acuh dengan penjelasannya. Di mana-mana, para pedagang akan memberikan penjelasan yang sama, dan rengekan para pembeli juga sama. Yang satu tetap bersiteguh dengan harga yang ditetapkan sendiri dalam menghadapi pihak lain yang menuntut harga agar diturunkan.

“Ukurannya cuma yang ini aja, ya, Bang?” tanyaku setelah diam beberapa saat.

“Ya kalau yang ini, yang bagusnya, saya jual goceng lah,” katanya memperlihatkan barang yang aku tanya di awal. Kemudian mengambil barang yang lain, yang lebih kucel, tetapi berukuran lebih besar. “Kalau yang begini, walaupun lebih besar ukurannya, tetap goceng lah, karena warna putihnya agak kusam.”

“Ya sama aja, Bang, tetep goceng!” gurauku. Kemudian aku diam lagi, sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Beberapa pedagang lain sibuk mondar-mandir di jalanan, mendatangi mobil-mobil yang berhenti ketika lampu merah menyala. Ketika lampu hijau, mereka berlarian ke pinggiran jalan menunggu lampu merah selanjutnya. Hanya si abang penjual yang aku tanya itu yang tidak beranjak, sibuk dengan telepon genggamnya sendiri.

Mereka sesungguhnya adalah pedagang asongan atau pedagang mainan. Mereka memang sengaja beralih profesi menjadi penjual ketupat merah-putih pada bulan ini, berharap mencari peruntungan yang lebih. Mulai beroperasi di sekitar Tanjung Barat pada pukul delapan pagi hingga siang (sekitar pukul dua).  Dan ini menjadi alasan mengapa ketika beberapa hari yang lalu aku datang ke lampu merah Tanjung Barat pada sore hari, pukul setengah lima, aku tidak menemukan satu orang pun penjual ketupat merah putih.

“Memang mau beli berapa?” tanya si penjual kemudian.

Ng… sepuluh deh, Bang. Berapa?” kataku.

“Empat puluh dah, sepuluh…”

Yah, masih bisa kurang lah, Bang!”

“Ya itu udah harga mati, Bos. Gak mungkin tiga lima, di mana untung kita? Makanya kita taruh gopek buat untung. Ini buat Bos aja kita taruh segitu. Kalau sama yang lain, ke mobil-mobil itu, sepuluh ribu satunya, kadang lima belas ribu dua,” terangnya merayu-rayu.

“Yang lain harganya juga sama, nihbeneran?”

“Ya beda dikit lah. Kan ada yang jahit sendiri, ada yang diupahin. Kalau yang jahitnya diupahin bisa lebih mahal lagi harganya, Bos.”

“Abang diupahin?”

“Saya jahit sendiri ini, bikin sendiri ketupatnya.”

“Kalau bendera yang biasa itu berapa?” tanyaku menunjuk bendera kecil yang biasa untuk di tempel di atas atap mobil.

“Ini dua ribu aja,” jawabnya.

“Harga kain lagi naik, Bang!” jawab seorang pedagang bendera (bukan pedagang ketupat merah-putih).

Aku bertanya padanya mengapa harga bendera-bendera sekarang begitu mahal, setelah berkeliling di sekitar Tanjung Barat, sekedar ingin mengetahui harga-harga bendera (itu aku lakukan sehari sebelum bertemu tukang penjual bendera ketupat merah-putih). Dan mungkin kenaikan harga kain itu berpengaruh terhadap harga  ketupat merah-putih yang menurutku cukup mahal. Karena bahannya adalah kain, lalu kain itu dipilin seperti bagaimana kita membuat ketupat dari daun kelapa. Sedangkan isi di dalamnya adalah gabus atau sponge.

“Kalau gitu gue foto dulu lah, Bang, ketupatnya. Besok masih jualan di sini kan?

“Besok saya belum tentu ada di sini, Bos,” katanya.

“Kenapa, Bang?”

“Mau dagang mainan besok,” katanya. “Kalau dagang ginian, sepi. Jadi kadang-kadang aja, kalau gak ada mainan, baru dagang bendera.”

“Tapi tetap masih ada yang jualan, kan, Bang?”

“Ya, pasti lah. Jam-jam segini juga ada,” jawabnya.

Setelah itu aku pergi meninggalkan si penjual, di mana sebelumnya aku sempatkan untuk mengambil beberapa gambar dari ketupat merah-putih, hasil kerajinan kalangan bawah yang tidak adiluhung sama sekali itu, yang menjadi cara para pedagang untuk menarik minat para pembeli, yang ternyata juga tidak meningkatkan keuntungan bagi beberapa dari mereka secara berarti.

***

Apakah bulan puasa menjadi penyebab berkurangnya semangat hari kemerdekaan? Ternyata tidak. Ketupat merah putih itu menjadi bukti representasi kemesraan Bulan Ramadhan dan Bulan Agustus. Kenyataannya memang demikian, bahwa kemunculan para pedagang bendera yang tidak seheboh tahun-tahun sebelumnya, tetapi bukan bulan puasa penyebab hilangnya semangat kerja. Para pedagang lesu karena sistem harga yang bergerak di pasar yang mendorong mereka untuk tidak terlalu banyak menginvestasikan modal pada barang yang belum tentu akan dibeli oleh pembeli karena harganya mahal.

Dan akhirnya aku menyimpulkan: Ternyata, orang-orang tidak acuh-acuh amat dengan rasa kebangsaan. Setidaknya, para pedagang menyadari momentum ini. Kekuatan seni jalanan alias kalangan bawah memainkan perannya, menjadi satu kekuatan untuk tetap membuat aku dan massa berada dalam kesadaran tentang nasionalisme, romantisme hari kemerdekaan, namun tetap dapat merasakan euforia Bulan Ramadhan. Dan itu semua dilakukan dengan tanpa sadar oleh para pedagang asongan, yang taunya hanya mencari untung belaka.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.