Menyongsong Kehadiran “Daging” pada OK. Video Flesh di Galeri Nasional Indonesia

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di Jurnal Footage dengan judul yang sama pada tanggal 3 Oktober 2011.

“…kita berpikir tentang bagaimana melihat representasi tubuh-tubuh, representasi manusia, dan kehadiran masyarakat dalam konstelasi masyarakat kontemporer sekarang, dengan hadirnya teknologi media,” ujar Hafiz, salah seorang kurator OK. Video – 5th Jakarta International Video Festival, pada sesi jumpa pers yang diadakan di Kafe Tjikini, Jl. Cikini Raya No.17, Jakarta, Senin 3 Oktober 2011. “Bagi kami, ini perlu dibaca sebagai fenomena yang menarik untuk dilihat dalam konteks sosial, politik dan kebudayaan.”

Sebelum Hafiz berbicara, ke hadapan pers diputar tiga video submission yang dianggap dapat mewakili 150 karya video yang membicarakan tema tersebut, yaitu Seven Shorts karya Bryan Lauch dan Petra Pokos dari Slovenia, Dunia Pembelajaran Etika Moral Dan Budi Pekerti karya Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha dari Indonesia, dan Leap of Faith karya Shahar Marcus dari Israel.

Fenomena perkembangan teknologi audiovisual di tengah-tengah masyarakat masa kini memicu satu pandangan tentang ‘bertransformasinya’ entitas biologis manusia ke dalam entitas digital (citra, suara dan teks), dan video dipandang sebagai karakter organik yang tumbuh dalam ruang virtual melintasi batas spasial dan temporal, bertransformasi ke dalam ragam medium, memproduksi dirinya karena alasan viralitas. Teknologi semakin tak berjarak dengan manusia, orang-orang tak perlu lagi berhubungan secara fisik karena kecanggihan teknologi, dan bisa dikatakan hampir semua piranti teknologi komunikasi nirkabel memiliki teknologi video dan fotografi. Fenomena-fenomena tentang produksi representasi ini lah yang dibicarakan dalam Festival OK. Video yang bertemakan FLESH, dalam Bahasa Indonesia berarti ‘daging’, tema ke-5 dari festival video internasional dua tahunan yang telah diselenggarakan sejak tahun 2003.

Festival video yang diklaim sebagai salah satu festival video terbesar di Asia Tenggara itu, akan dibuka ada tanggal 6 Oktober 2011 dan berlangsung hingga 17 Oktober 2011, membagi tema utama menjadi 4 sub tema, yang masing-masing dikuratori oleh Hafiz (sub tema face-dominated), Farah Wardani (sub tema digital viral), Agung Hujatnika (sub tema [in]corporeal), Mahardhika Yudha dan Rizki Lazuardi (sub tema surveillance & self portrait).

Face-dominated memiliki fokus pada tema pertarungan simbolis antar berbagai kekuatan: ideologi, pemikiran, tradisi dan modernitas, yang kemudian dapat memicu kekerasan dan penindasan. Digital viral mempersoalkan kesadaran atas berkembangnya sifat-sifat video yang kian organik, dengan melakukan eksperimentasi untuk menyelidiki dan membaca pola pergerakan video di ranah virtual. [in]corporeal menekankan performativitas dalam video, yang melihat tubuh sebagai entitas yang ‘fisik’ sekaligus ‘non-fisik’. Sedangkan surveillance & self portrait berbicara tentang kehadiran video di antara ranah ‘yang privat’ dan ‘yang publik’. Semuanya dihadirkan dalam karya video dalam rangka memaknai persoalan tersebut dalam konteks sosial, politik dan budaya.

Yang menarik untuk disimak, dalam sesi tanya jawab antara kurator dan wartawan media, ialah tentang hasil dari proses pengkurasian yang dilakukan oleh para kurator terhadap seluruh karya video yang diterima melalui Open Submission,dapat dilihat satu kemajuan yang signifikan dari perkembangan seni video di Indonesia saat ini. “Dari 500 karya yang masuk, hampir 99% merupakan karya dari seniman yang sadar sedang membuat karya seni video,” ujar Hafiz.

Zaman terus berubah, gejolak sosial, politik dan budaya juga terus berkembang beriringan dengan kemajuan mutakhir dari teknologi informasi. Dengan berjalannya waktu, perkembangan paradigma dan cara pandang kita juga harus mampu mengikutinya.

Sejatinya, selain sadar akan potensi video, kita memang harus pula sadar dengan fenomena yang berkembang di sekitar medium itu sendiri. Diselenggarakannya festival OK. Video dengan tema FLESH, yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi itu, haruslah menjadi satu wadah bagi masyarakat kita, untuk kalangan seniman video khususnya, untuk membentuk kembali pandangan kita tentang apa itu seni video sebenarnya. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk harus mulai berpikir ‘secara video’. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.