a Jakarta-based film critic

jawabnya tidak ada

Dan ketika saya menemukan sesuatu yang sangat dekat sebagai sebuah jawaban, saya menerimanya dengan tangan kiri. Karena kiri, apakah bisa menyebutnya sebagai kesadaran? Bukan bisa atau tidak bisa, jawabannya justru tidak ada. Titik balik dari pencapaian sebuah peradaban layar serba supra; titik kritis dari segala impian ‘budaya-perlawanan’. Jatuhnya, kita berhenti di rimba sinting yang menyajikan segala macam kebingungan dan kegundahan. Apakah saya harus menegaskannya dengan kata ‘titik’ di akhir ini? Bukan harus atau tidak harus, jawabannya justru, sekali lagi, tidak ada. Akhirnya saya enggan untuk mendapat jawaban yang ketiga karena akan sama saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: