Sumpah Pemuda di Mata Warga RT 10/02

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di jurnal akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 30 Oktober 2012.

Ide tentang kerukunan umat beragama, suku dan bangsa, atau yang lebih populer disebut sebagai multikulturalisme, terdengar pada malam itu. Seorang bertubuh tinggi mengenakan jas dan kopiah, berdiri di atas mimbar sembari membaca sebuah teks pidato. Beberapa saat kemudian, orang itu membacakan sebuah teks lagi, teks yang berisikan ikrar atau sumpah, yang pernah dibacakan pula 84 tahun yang lalu: teks Sumpah Pemuda. Setiap bait yang ia bacakan diikuti kemudian oleh orang-orang yang saat itu menyaksikannya. Iringan lagu pun membahana dari balik panggung dan menambah suasana romantisme sejarah tentang masa-masa awal pergerakan nasional.

Sebenarnya, peristiwa itu hanyalah cuplikan dari sebuah drama yang dilakoni oleh anak-anak di lingkungan warga RT 10/02, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Si orang berjas hitam dan berkopiah itu, diperkenalkan oleh sang narator sebagai Soekarno, Bapak Proklamator yang telah menjadi ikon pemuda pada era awal pergerakan nasional. Aneh memang, karena adegan itu justru bertentangan dengan beberapa catatan atau literatur sejarah kita. Pada tanggal 28 Oktober 1928, yang membacakan teks Sumpah Pemuda ialah Soegondo, dan lantas dijelaskan panjang lebar oleh Muhammad Yamin kepada Jong-jong perwakilan daerah yang hadir dalam forum, karena dia lah yang merumuskan teks tersebut. Sedangkan Soekarno, katanya, tidak terlibat begitu banyak dalam peristiwa yang digadang-gadang sebagai salah satu dari lima simpul sejarah penting perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan kaum penjajah.

Para aktor drama yang berperan sebagai tentara Belanda.

“Gebyar Kreasi dan Seni” baru pertama kali diadakan di RT 10/02. Sebuah acara, yang mana ‘drama sumpah pemuda’ itu menjadi salah satu bagian dari rangkaian acaranya, yang diselenggarakan pada Hari Sabtu, 27 Oktober 2012 malam hari itu, terbilang relatif meriah dengan kemasan sederhana. Warga masyarakat yang tinggal di lingkungan rukun tetangga itu mengapresiasinya dengan begitu antusias. Sebagai sebuah acara yang digagas untuk menyambut Hari Sumpah Pemuda, para pemuda-pemudi setempat jelas terlibat banyak dalam realisasi acaranya. Mulai dari pembacaan puisi, drama, lomba menggambar bertema “lingkungan sehat”, dan penampilan hiburan berupa musik akustik, semuanya melibatkan anak-anak muda. Acara ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh ketua panitia acara, Ir. Sutiyo Budi Irianto, memang memiliki tujuan untuk menunjukkan bahwa pemuda-pemudi Lenteng Agung, khususnya RT 10/02, memiliki potensi di bidang kreasi dan seni dan mampu memberikan sumbangsih bagi kemajuan Ibu Pertiwi.

Salah satu adegan dalam drama.

“Kalau di sini, kegiatan anak-anak mudanya apa aja, sih, Pak?” tanya Ageung ketika ia datang bersilaturahmi ke rumah Pak Juanda, Ketua RT 10/02, keesokan harinya.

“Awalnya nggak ada, biasa saja,” jawabnya menjelaskan. “Secara umum, nggak ada. Kalau individu, ya, ada. Tapi, kan, kalau sudah berbicara lingkungan, kan, umum. Pendidikan, ya, biasa aja… sarjana, sedikit.”

Ketika ditanya tanggapannya tentang etos kerja dan kreatifitas anak-anak muda di lingkungan RT 10/02, Pak Juanda menjelaskan, “Jadi, melalui media ini (akumassa.org), di balik gitu, loh! Menurut saya, seharusnya orang yang sudah dewasa, yang sudah ahli, yang sudah kaya, yang sudah mampu, harus begini, gitu, loh! Menyadarkannya, gitu, loh!” katanya mencoba menjelaskan dengan semangat seraya memperagakan gerakan tangan membalik sesuatu.

Berdasarkan penjelasan Pak Juanda, acara tersebut merupakan satu usaha untuk mengubah pola perilaku warga masyarakat agar mau produktif dan aktif melakukan aksi-aksi pemberdayaan masyarakat.

“Saya kemarin, tuh, pelopor-pelopor saya, tuh: saya, Pak Irwan, Pak Anto, ya, kan… bertiga…!” Pak Juanda bercerita tentang usaha-usahanya dulu. “Kalau anak-anak, kan, nggak ngerti urusan sosial lainnya. Tahunya… ‘Saya siap!’ kalau ada ini itu… Terus saya ajak berpikir… berusaha meninggalkan pola-pola kebodohan… sirik, dengki, kikir, terus… sok ‘wah’… sok ‘weh’… Itu nggak gampang.”

Warga RT 10/02, Lenteng Agung.

Performa dari kelompok Hadro, yang menyenandungkan syair-syair sholawat, menjadi penampilan pembuka pada acara tersebut. Sekitar setengah jam kemudian, dua orang pembawa acara (dua orang pemudi), naik ke panggung dan memandu acara. Meskipun dengan malu-malu atau canggung, acara tetap berjalan dengan tertib di bawah panduan mereka berdua. “Merdeka! Merdeka! Merdeka! Yes, yes, yes! Huuuu ha!” begitulah salah satu yel-yel yang mereka teriakkan untuk menjaga semangat warga RT 10/02, yang satu demi satu mulai meramaikan lokasi acara, berupa tanah lapang di depan rumah Pak RT, tempat panggung kecil dan loud speaker sederhana didirikan.

Pada waktu awak akumassa.org, Zikri dan Ageungdatang, Pak Juanda terlihat sibuk mondar-mandir, mengurusi beberapa pemuda-pemudi yang masih sibuk menggergaji triplek (mungkin untuk persiapan drama) dan menyambut beberapa tamu kehormatan, salah satunya perwakilan dari Lurah Lenteng Agung..

“Ini Ageung, penulis dari media massa lokal Lenteng Agung!” ujar Pak Juanda sembari memperkenalkan kami kepada Wakil Lurah, Muhammad Nafis.

Mereka kemudian duduk di tempat yang telah disediakan. Pihak Lurah pun berpendapat sama, ketika memberikan kata sambutan, bahwa pemuda-pemudi memiliki kekuatan tersendiri untuk membangun bangsanya, dan kegiatan-kegiatan di bidang kesenian seperti ini merupakan salah satu cara untuk mendidik anak-anak agar tidak terjerumus ke lingkaran hitam kenakalan remaja, seperti narkoba dan premanisme.

Kanan, Bapak Wakil Lurah Lenteng Agung (Muhammad Nafis), kiri, Bapak Ketua RT 10/02 (Juanda).

Ketika awak akumassa.org bertanya tentang proses penyelenggaraan acara tersebut, Pak Juanda menjelaskan, “Alhamdulillah semuanya semangat! Kalau saya sendiri, kan, hanya harapan-harapan. Dengan harapan itu, begitu saya turunkan, itu berjalan, mendapat tanggapan positif. Rupanya, pemikiran itu ada, begitu bertemu, nyatu! Terbentuklah program, rencana, dan rencana itu juga proses. Apa pun yang kita kerjakan, kalau itu bisa, kita laksanakan. Kalau nggak, tinggalkan! Dengan hasil sepuluh hari kerja kemarin, anak-anak, yang teater juga, atau secara umum panitia, saya menitipkan beberapa program, seperti ‘rumah sehat’ dan ‘tempat usaha sehat’. Mereka melakukan sosialisasi ke warga.”

Para pemenang Rumah Sehat dan Tempat Usaha Sehat.

“Dananya, itu ngumpulin, ya, Pak?” tanya Ageung.

“Minta sumbangan. Sistemnya, kita edarkan pamflet ‘Kegiatan pemuda-pemudi RT 10/02 yang akan mengadakan acara Sumpah Pemuda: live music, sandiwara, baca puisi’. Mereka (warga) pada tahu, kan?! Masuklah proposal, dua hari, tiga harinya langsung disambut, terhimpunlah sekian…” jelas Pak Juanda sembari menghisap rokok.

Yang menarik, kemasan acara ini tidak jauh-jauh dari keluhan masyarakat Indonesia tentang negerinya. Konflik antar agama, suku, dan etnis, pengaruh buruk media massa, pola hidup masyarakat yang masih tak bisa lepas dari unsur-unsur klenik, serta ketidakadilan negara yang masih memunculkan ketimpangan sosial, menjadi topik-topik yang direfleksikan pada acara itu. Maka jangan terkejut ketika dua orang pemudi seumuran siswa Sekolah Dasar, menyerukan sebuah kritik tentang pengaruh buruk sinetron saat mendeklamasikan puisi bertema Sumpah Pemuda. Begitu pula dalam drama, ‘Soekarno’ berjas hitam dan berkopiah itu menyerukan persatuan dan kesatuan seluruh rakyat Indonesia, dengan mengesampingkan identitas kesukuan dan kepentingan kelompok agama, agar dapat bersatu-padu melawan penjajah.

Dua putri membaca puisi.

Mpok Indun, salah satu tokoh dalam drama yang diperankan oleh gadis jelita bernama Alda, terlihat malu-malu. Bahkan, sadar tidak sadar, ia berkata, “Gak mau! Malu!” kepada soundmen yang menyodorkan microphone padanya ketika berakting menangisi seorang pejuang lokal yang mati tertembak senapan kompeni. Bukannya terharu, penonton justru tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan ini. Namun demikian, Alda mendapat penghargaan sebagai pemeran perempuan terbaik malam itu, sedangkan Adit, yang berperan sebagai Jenderal Kompeni, menerima penghargaan pemeran laki-laki terbaik. Tentunya, drama diakhiri dengan happy ending, penjajah kalah, dan rakyat Indonesia tidak lagi terpecah-belah. Drama itu seolah menjadi sebuah esai dari warga tentang harapan-harapan mereka akan tatanan masyarakat yang sejahtera, khususnya, di tanggal 28 Oktober, ketika gagasan persatuan itu dikumandangkan oleh para pemuda-pemudi tahun 1928 untuk merangsang semangat rakyat Indonesia agar tak mau berlama-lama menjadi masyarakat terjajah.

Pemuda-pemudi di balik acara Gebyar Kreasi dan Seni.

Pemuda-pemudi adalah kunci bagi tumbuhkembangnya bangsa ini. “Saya, sebagai RT, mengajak dan mengingatkan bahwa pemuda-pemudi itu punya mandat walaupun itu tidak tertulis!” ujar Pak Juanda. “Negara merdeka 1945, Sumpah Pemuda 1928… coba pikirkan… ada kontribusi pemuda di sini. Negara tanpa pemuda, nggak akan merdeka!”

Di penghujung acara, semua anak-anak yang mengikuti lomba menggambar mendapat piala penghargaan. Satu per satu, anak-anak menerima piala yang diserahkan oleh Pak Juanda setelah rangkaian acara terakhir berupa hiburan musik akustik dari panitia. Setelah itu, sebuah kata penutup disampaikan oleh ketua pemuda Karang Taruna Sub-Unit di lingkungan setempat, Pak Irwanto. Dia menghimbau warga untuk terus memberikan dukungan dan apresiasi kepada anak-anak muda di Kelurahan Lenteng Agung agar tetap kreatif dan produktif, khususnya di bidang kesenian. Dia juga menegaskan bahwa drama atau teater adalah salah satu bidang yang harus terus dihidupkan karena mampu melatih kreatifitas. “Biar kemampuan mereka terasah, jago acting, mudah-mudahan bisa sampai menjadi artis sinetron!” ujarnya. Hal itu mengingatkan kami, awak akumassa.org, kepada bait puisi yang sempat dibacakan di pertengahan acara: sinetron memberikan dampak buruk bagi masyarakat. Mungkin harapannya, dengan tenaga aktor-aktris berbakat dari pemuda-pemudi seperti ini, kualitas sinetron dapat menjadi lebih baik kedepannya.

Putra-putri RT 10/02 mendapat penghargaan untuk gambar Rumah Sehat yang mereka buat.

Acara pun ditutup dengan iringan lagu Kemesraan yang dipopulerkan oleh Iwan Fals. Satu per satu warga pulang ke rumah masing-masing sementara panitia acara mulai membereskan panggung. Setelah mengambil jatah kue, awak akumassa.org pun turut pulang dengan membawa segudang refleksi tentang Hari Sumpah Pemuda.

Bagaimana pun, acara “Gebyar Kreasi dan Seni” malam itu merupakan sebuah bingkaian dari sudut pandang warga. Semangat Sumpah Pemuda telah menjadi hal yang begitu melekat dan lantas dirayakan tahun ini oleh warga RT 10/02. Pemahaman yang mendalam tentang sejarah yang sesungguhnya, seperti kontroversi politisasi Sumpah Pemuda di era Orde Lama dan Orde Baru, misalnya, bukan lagi jadi ide yang utama. Toh, apa yang kita bayangkan, sebagai warga masyarakat, tentang kehidupan yang sejahtera, aman dan damai ialah sebuah aspirasi yang mutlak untuk disuarakan. Melenceng sedikit dari kebenaran sejarah, selama untuk tujuan bersama yang baik, tidak masalah. Bukankah Soekarno juga pernah melakukannya untuk membangkitkan semangat para pemuda agar mau membangun bangsanya? Bagi warga, tentunya hal itu sah-sah saja. *

1 thought on “Sumpah Pemuda di Mata Warga RT 10/02

  1. Pingback: Kumpulan Artikel akumassa | manshurzikri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.