Catatan #1 Dari Suburban Ilsan

Artikel ini saya tulis untuk liputan Forum Lenteng mengenai The 6th DMZ International Documentary Film Festival, dan dimuat di Jurnal Footage dengan judul yang sama, pada tanggal 30 September 2014.

I.

Sejak kedatangan saya ke Korea, pagi hari pada 20 September, saya sulit mendapat waktu luang khusus untuk menulis artikel mengenai festival filem pengundang salah satu karya Forum Lenteng ini. Sisa waktu empat setengah hari itu sungguh tak cukup bagi saya menyaksikan 111 filem, gratis sebagai tamu undangan. Diskusi dan perbincangan santai bersama beberapa profesional, pakar, kurator/programer, sutradara, dan penulis filem juga sayang jika dilewatkan begitu saja. Oleh karenanya, setiap pukul setengah sepuluh pagi, saya beranjak dari kamar hotel menuju venue setelah sarapan, lalu kembali lagi setelah lewat tengah malam, tidur.

Venue DMZ International Documentary Film Festival tahun 2014.

Rangkaian acara The 6th DMZ International Documentary Film Festival, 17-24 September, 2014, memang padat dan dihadiri oleh orang-orang penting dalam scene perfileman dunia, khususnya Asia. Dua di antaranya berasal dari Filipina, Nick Deocampo dan Lav Diaz, yang memang sudah saya incar sejak awal untuk diajak berdiskusi. Karena Deocampo merupakan salah seorang juri, dan begitu sibuk, saya hanya berpapasan dengannya sekali saja setelah penayangan filem Storm Children, Book One-nya Lav Diaz, sesaat sebelum Lav Diaz mengajak saya untuk nongkrong di salah satu warung bir di sekitaran Lakins Mall.

Tahun ini, The 6th DMZ International Documentary Film Festival diselenggarakan di salah satu suburban, bernama Ilsan, Kota Goyang, Provinsi Gyeonggi. Pada tahun pertamanya dengan struktur organisasi yang tak lagi menjadi bagian dari Gyeonggi Film Commission, DMZ Docs masih membawa semangat dasariahnya akan fungsi dokumenter sebagai pewacana perdamaian, kehidupan dan komunikasi (Peace, Life and Communication). Tahun 2014 merupakan kali kedua Forum Lenteng diundang untuk International Premiere pada Program “Asian Perspective”. Setelah filem Dongeng Rangkas (Forum Lenteng & Saidjah Forum, 2011) pada The 3rd DMZ Docs, 2011, kini giliran Marah di Bumi Lambu (atau The Raging Soil, 2014) karya Hafiz Rancajale. Saya mendapat kesempatan hadir di festival ini untuk mewakili Rancajale.

II.

Ada tiga kategori kompetisi di festival ini. Pertama, International Competition, menayangkan duabelas filem terpilih —dari keseluruhan 534 yang terdaftar— berdurasi lebih dari 40 menit dan berasal dari berbagai negara. Kedua, Korean Competition, menayangkan sembilan filem terpilih —dari keseluruhan 86 terdaftar— tanpa batasan durasi, yang mencoba membaca perkembangan kecenderungan terbaru filem-filem Korea, sehubungan dengan sejarah dokummenter di negeri tersebut. Ketiga, Youth Competition, yang menayangkan enam filem terpilih —dari keseluruhan 47 yang terdaftar— yang dianggap dapat menyumbangkan terobosan baru bagi perkembangan filem dokumenter Korea di tengah-tengah kemonotonan masyarakatnya.

Terdapat juga filem-filem dalam Program Non-Competition “Global Vision” yang mengkurasi karya-karya yang dianggap kontroversial dan telah mendapat pengakuan dunia; Program Non-Competition “Asian Perspective” yang menggali sekaligus mengetemukan gagasan dari karya filmmaker Asia yang mengeksplorasi beragam metode produksi, medium (filem dan video) serta pendekatan ide terhadap isu-isu kontekstual, guna mengenali ‘visi Asia’ itu sendiri. Filem The Raging Soil masuk ke dalam kategori ini. Selanjutnya ada Program Non-Competition “Korean Docs Showcase” yang menayangkan filem-filem Korea yang merefleksikan eksistensi dokumenter Korea di hari ini dan kemungkinan perkembangannya di masa depan; dan Program Non-Competition “All About Docs” yang menayangkan beragam dokumenter menarik dan dapat menjadi pilihan bagi para penonton yang lebih umum.

Suasana diskusi di Asian-Korean Forum.

Pembahasan khusus terhadap Marc Karlin, si filmmaker radikal garda depan Inggris, yang hidup sekitar tahun 1970-an, disajikan dalam program retrospektif Marc Karlin —ada tujuh filemnya yang ditayangkan— yang mencoba mengangkat tema tentang hubungan antara karyanya (sebagai filem) dan isu-isu politik, sejarah dan budaya. For Memory (1982) adalah salah satu filemnya yang sempat saya tonton dalam festival ini. Lalu ada Program Non-Competition “Passage” yang menjadi semacam peron untuk memperkenalkan filem-filem yang mengekspresikan masa depan dokumenter sebagai seni, di kala bioskop (theaters) saling berbagi ‘ruang’ dan ‘wacana’ dengan galeri (galleries), demikian juga antara dokumenter dan fiksi, pelaku sinema dan seniman.

Cuplikan film For Memory (1982).

Program spesial Italian Documentary juga dihadirkan dalam festival ini untuk memperkenalkan bahasa filem dokumenter yang berbeda secara geografis dan sudut pandang kultural kepada penonton di negeri Korea. Karya Pier Paulo Passolini dielaborasi dengan karya-karya sutradara dokumenter alternatif Italia lainnya, seperti Cecilia Mangini, Di Gianni, D’Anolfi dan Parenti. Melengkapi sajian lintas geo-politik dan geo-kultural ini, DMZ Docs juga bekerjasama dengan Hot Docs Canadian International Documentary Festival, dalam “Program Hot Docs Strand”, untuk mengkurasi beberapa filem, termasuk di dalamnya karya Barbara Kopple (Harlan County U.S A, 1976)) dan Liz Garbus (Bobby Fischer Against the World, 2011).

The 6th DMZ Docs juga menyelenggarakan dua buah forum yang mempertemukan para profesional, filmmaker collectives, akademisi, dan sutradara filem Asia, yakni “Asian-Korean Docs Forum” yang mendiskusikan inisiatif para pembuat filem independen yang bergabung dalam bentuk collective dan implikasinya bagi perkembangan sinema dokumenter Asia; dan “Documentary Network Meeting” yang mempertemukan beberapa sutradara filem untuk berbagi ide dan pengalaman mereka terkait filem masing-masing yang ditayangkan di DMZ Docs 2014.

III.

Bagi Forum Lenteng, penyelenggaraan sebuah festival filem bukanlah sekadar perayaan, tetapi merupakan suatu strategi bermedia untuk menyebarluaskan wacana filem sebagai ilmu pengetahuan (knowledge). Melalui festival, peluang terjadinya interseksi gagasan, yang tidak hanya menitiktemukan perbedaan-persamaan gaya bahasa (estetika) sinema, tetapi juga pengalaman-pengalaman kultural yang unik dan beragam dari masing-masing wilayah yang ‘melintaskan’ atau ‘mempersinggungkan’ dirinya pada lokasi atau sejarah lokasi tempat si festival berada: filmmaker, produser, pelaku industri, pengamat, akademisi, masyarakat umum, dan bahkan ruang dan nuansa lokasi, saling beradu fisik dan psikis sehingga memunculkan harapan baru akan masa depan yang lebih cemerlang.

Oleh sebab itu, kedatangan kali kedua Forum Lenteng ke The 6th DMZ International Documentary Film Festival menjadi momentum penting untuk meluaskan dan memperpanjang niatan akan meng-“interseksi gagasan” tersebut. Walau tidak semua program acara dapat saya hadiri, usaha untuk memilih satu atau dua program acara untuk dituntaskan tentulah tetap dibebani oleh target utama: selain mempresentasikan visi Forum Lenteng melalui filem The Raging Soil-nya Rancajale, perlu dilakukan suatu pengamatan dan penafsiran terhadap titik terjauh capaian gerakan kebudayaan di bidang filem dalam konteks secakup hubungan antara Indonesia, Korea, dan Asia sekitarnya.

Berdasarkan pertimbangan itu, perlu kita melihat filem Crying Boxers (2014) karya E Il-ha dari Korea, yang menjadi pembuka perhelatan The 6th DMZ Docs. Dokumenter yang mengangkat isu diskriminasi yang dialami etnis Korea di Jepang, tepatnya sekolah menengah Tokyo Joseon, melalui keseharian para siswa/i yang tergabung dalam sebuah klub ekstrakurikuler tinju. Filem yang saya tonton pada penayangannya yang kali ketiga, 23 September, ini hadir dalam kemasan drama yang menurut amatan saya masih setia pada gaya dan cara televisi mempertahankan penontonnya: emosi terluar dan paling banal penonton menjadi sasaran, sebagaimana sinetron di Indonesia, tetapi tak sampai pada pendalaman transeden atas makna perjuangan melawan diskriminasi tersebut. Namun, paling tidak, filem ini merepresentasikan ruh utama DMZ Docs mengenai suatu perdamaian lintas batas wilayah, yang mencoba memancing kritisisme penonton tentang praktik ideologi yang masih saja menjadi bumerang bagi kelompok-kelompok minoritas pada era ter-kontemporer sekalipun.

Crying Boxers (2014)

Demi mencari kemungkinan wacana baru yang melawan kanon lama, dalam jumlah hari yang terbatas, saya memaksa diri untuk langsung melompat dan fokus pada filem-filem dalam Program “Asian Perspective”. Gym Lumbera dari Filipina, melalui Anak Araw (2013), berusaha membongkar kuasa ideologi kolonial melalui bahasa yang lebih eksperimentatif: membenturkan performa tubuh subyek di dalam frame (hiu di laut, gerombolan warga, prosesi pemakaman, sosok-sosok tubuh yang melompat ke permukaan air laut, atau aksi seseorang yang menodong langit dengan senapan) dengan performa teks-teks dari kamus (Inggris-Tagalog; Tagalog-Inggris). Secara halus, dokumenter ini menunjukkan jalan lain bagi konstruksi sebuah filem dalam mengembalikan refleksi atas posisi yang terjajah, tidak hanya dalam artefak berupa benda, tetapi juga yang lebih konspetual, seperti bahasa.

Anak Araw (2013) karya Gym Lumbera.

Karya Ariani Djalal, Die Before Blossom (2014) merupakan dokumenter yang mengobservasi kehidupan dua orang siswi di sebuah sekolah dasar selama lebih kurang dua tahun, dan turut merekam detik-detik kelulusan dua siswi tersebut hingga mereka mendaftar ke sekolah menengah. Secara bentuk (form), dokumenter ini tidak memberikan kesegaran estetika, walau isu yang ia angkat sangat signifikan: sistem pendidikan yang dibelenggu oleh percampuran antara fundamentalisme agama dan kepercayaan lokal, prestise, dan tekanan-tekanan sosial yang berdampak pada kualitas peserta didik.

Pengaruh kuat fundamentalisme agama, agaknya, juga coba diangkat oleh Aryo Danusiri dalam The Flaneurs#3 (2013). Rekaman video sekali take yang memperlihatkan fanatisme jamaat dalam suatu kelompok Muslim. Kelompok-kelompok keagamaan semacam ini kiranya mulai marak sejak lima tahun pasca peristiwa Reformasi. Keimanan kemudian menjadi hal yang mulai diragukan esensinya di tengah-tengah serangan isu kontemporer terkait fanatisme berlebihan dan agenda politik kelompok-kelompok kepentingan. Karya ini, walau terasa ‘belum selesai’, mencoba berusaha membicarakan hal itu.

The Flaneurs#3 (2013) karya Aryo Danusiri.

Konstruksi yang menarik terlihat dalam The Gleaners (2013)-nya Ye Zuyi. Pada filem pertamanya ini, Ye menggunakan teknik bidikan kamera yang diam pada setiap shot-nya. Kamera diletakkan dengan posisi yang mantap untuk menangkap keseluruhan latar ruang, lalu dibiarkan menangkap aktivitas dan interaksi Ye dengan ayah, ibu dan warga desa yang ia ajak berbincang. Seketika akan kita sadari bahwa tindak-tanduk ini merupakan sebuah riset tentang pola hidup desa yang semakin bergeser: pertanian telah semakin hilang akibat pembangunan rumah-rumah bagi pemukiman penduduk. Pada beberapa bidikan, Ye memancing lawan bicaranya untuk membahas topik tersebut, dan pada bidikan-bidikan lain, ia mempersilakan kamera merekam konflik pribadi yang ia alami bersama keluarga. Rekaman ini kemudian dikonstruk secara naratif, yang awalnya hanyalah shot, berubah peran menjadi skena lantas sekuen dalam konstruksi filem, yang perlahan menjelaskan persoalan tentang isu agraria yang berdampak signifikan pada nasib keluarganya, keluarga petani. Dengan pendekatan self-reflective yang menolak jarak antara pemegang kamera dan subyek/obyek bidikan, filem ini menantang dominasi dokumenter obyektif yang menggembar-gemborkan isu penindasan sebagai perbincangan publik.

Gaya self-reflective juga diterapkan oleh Adjani Arumpac dalam filemnya, War Is A Tender Thing (2013). Tanpa visual kekerasan fisik sedikit pun, filem ini berhasil menunjukkan adanya praktik kekerasan yang paling pedih sebagai dampak dari distorsi sosial yang diakibatkan oleh kepentingan politis, yakni kepentingan-kepentingan yang memanfaatkan isu agama untuk memperkeruh konflik. Adjani membongkar sisi lain dari sentimen keagamaan itu melalui untaian bergaya visual diary. Ia berangkat dari celah atau hubungan terdekatnya terhadap persoalan tersebut: keluarga. Tak lupa mengandalkan obyek riil sebagai permainan tanda, dan suaranya yang mengiringi cerita, kamera Adjani juga menunjukkan jawaban kunci atas dilema mengenai penerimaan-penolakan sebuah perbedaan melalui tangis sang nenek, yang paling natural yang pernah saya lihat.

War Is A Tender Thing (2013) karya Adjani Arumpac.

The Raging Soil karya Rancajale, tentunya, juga berada di jalur yang mencoba memberikan tawaran akan visi Asia dalam memandang isu global, yakni Hak Asasi Manusia, melalui kasus perjuangan atas hak tanah di sebuah desa di bagian Timur Indonesia. Rancajale mengaplikasikan ide “sinema observasional”, mengandalkan kekuatan kamera untuk mendadar memori dan trauma terhadap ketidakadilan di masa lalu. Aplikasi ide yang juga hampir sama, yakni kamera (dan gagasan sinema) sebagai alat observasi sosial, juga diterapkan oleh Lav Diaz dalam Storm Children, Book One (2014). Karya Lav Diaz ini menjadi salah satu dokumenter yang berhasil mempuisikan gejolak dan pola kehidupan sosial pasca bencana. Namun, filem ini justru muncul bukan sebagai filem tentang bencana itu sendiri, melainkan tentang spirit optimis yang justru muncul dari keluguan anak-anak, yang tak hanya merefleksikan realitas lingkungan, tetapi lebih sebagai pendorong agar penonton melakukan refleksi terhadap lingkungannya.

IV.

Sudut pandang yang kemudian dapat saya tangkap dalam program “Asian Perspective” ini ialah cita-cita akan sebuah filem yang keluar dari batas pemahaman umum masyarakat mengenai dokumenter. Mengesampingkan pembahasan terhadap The Raging Soil-nya Rancajale, kecenderungan yang saya maksud tersebut terlihat begitu mencolok pada filem Ye Zuyi dan Lav Diaz. “Keluar dari batas” yang saya maksud ialah keberaniannya untuk menyajikan konstruksi filem yang di luar dugaan. Alih-alih menangkap visual tentang lokasi yang porak-poranda, Lav Diaz justru bermain melalui metafora hujan dan bangkai kapal untuk menunjukkan betapa dahsyatnya badai yang selalu melanda Filipina. Rekaman yang ia konstruksi tak melepaskan sama sekali aspek-aspek yang menjadi bagian dari proses produksi. Akan tetapi, melalui pertimbangan komposisi yang cermat, Lav Diaz mampu membuat ‘kebocoran-kebocoran’ produksi (seperti suara batuk di adegan menjelang akhir filemnya) menjadi sesuatu yang dapat diterima oleh indera penonton. Demikian halnya Ye Zuyi, yang mencairkan posisi kamera sebagai sesuatu yang sesekali menggelitik rasa penasaran kita dengan aksi pra-pemencetan tombol rekaman, tetapi kemudian memakluminya (bahkan melupakannya) tatkala kita menyadari bahwa rekaman yang dibiarkan menyala itu hadir sebagai sebuah adegan tanpa intervensi si pemegang kamera. Sebab, Ye Zuyi juga menjadi protagonis yang hadir di dalam frame, bukan di belakang kamera.

The Raging Soil (2014) karya Hafiz Rancajale.

Keberanian ini seakan memberikan harapan akan datangnya era cinéma vérité khas Asia, yang tentunya berbeda dengan sejarah kemunculan teori itu. Konstruksi filem tidak lagi hanya berupa improvisasi penggunaan alat rekam yang mengungkap kebenaran yang bersembunyi di balik realitas baku, tetapi menegaskan bahwa kebakuan kenyataan itu adalah kebenaran itu sendiri, dan berpeluang untuk ditransformasi menjadi kebenaran yang lain di dalam frame. ***

1 thought on “Catatan #1 Dari Suburban Ilsan

  1. Pingback: Catatan #2 Dari Suburban Ilsan: Usulan Bagi ‘Kolektif’ | manshurzikri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.