Catatan #2 Dari Suburban Ilsan: Usulan Bagi ‘Kolektif’

Artikel ini saya tulis untuk liputan Forum Lenteng mengenai The 6th DMZ International Documentary Film Festival, dan dimuat di Jurnal Footage dengan judul yang sama, “Catatan #2 Dari Suburban Ilsan: Usulan Bagi ‘Kolektif'”, pada tanggal 1 Oktober 2014. Silakan juga baca artikel bagian pertamanya, “Catatan #1 Dari Suburban Ilsan”.

V.

Forum diskusi dalam program DMZ Docs Forum pada The 6th DMZ International Documentary Film Festival, 2014, adalah salah satu acara yang paling menarik untuk diulas. Sebab, selain keterlibatan Forum Lenteng sebagai salah satu tamu yang diundang untuk mempresentasikan ide dan pengalaman kerja komunitasnya, perbincangan yang terjadi dalam forum semi formal ini menunjukkan secara mencolok perbedaan, di satu sisi, dan kesamaan di sisi lain, dari beberapa negara di Asia yang masih terus membangun wacana perfilman (dokumenter)-nya, sekaligus berusaha menemukan benang merah dari kesemuanya.

Saya, dari Forum Lenteng, hadir sebagai salah satu keynote speaker pada Session A, Asian Korean Docs Forum, dengan pokok bahasan “A proposal on Asian-Korean documentary collective”. Bertempat di sebuah kafe di LAKINS Mall, lantai 2F, beberapa pegiat film (dokumenter) bertemu dan berbagi pandangan mereka.

Yang menjadi keynote speaker selain saya, antara lain adalah Chin-Tong Tsai (Profesor dari Tainan National University of the Arts, Taiwan), Wook Steven Heo (Profesor dari Departemen Film di Yong In University, Korea), Makiko Wakai (YAMAGATA International Documentary Film Festival), dan Park Jaeyong (Kurator dari Ilmin Museum of Art, dan juga dari Work on Work, Korea). Selain mereka, turut hadir juga di dalam forum tersebut Jeon Sung-kwon (Chief Programmer dari DMZ Docs), Wojciech Szczudło (Produser dari Studio Filmowe Kalejdoskop, Polandia), Kim Dong-won (pendiri Purn, sebuah organisasi/kolektif film independen di Korea), Ye Zuyi (Sutradara dari Cina), Ariani Djalal (Sutradara dari Indonesia), Adjani Arumpac dan Lav Diaz (dua sutradara dari Filipina).

Makiko (kiri) dan Ye Zuyi (berkacamata).

VI.

Mr. Tsai dari Taiwan mendapatkan giliran pertama untuk berbagi pengalamannya dalam mengembangkan sebuah metode belajar film (dokumenter) di tempatnya berasal. Secara umum, terdapat empat prinsip yang menjadi pedoman dalam pendekatan yang ia lakukan. Pertama, mendorong siswa untuk tak hanya mengetahui arsip-arsip visual, tetapi juga memproduksi dan mengkaji tentang image-image historis yang dianggap penting bagi perkembangan wacana film dan seni. Kedua, agenda pengajarannya memiliki fokus pada konteks lokal, yakni menyasar wilayah desa dan melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat di lokasi tersebut dengan membangun kesadaran terhadap database. Ketiga, mengembangkan jaringan dengan pegiat atau sekolah-sekolah film dari luar, semisal program lokakarya yang pernah mereka selenggarakan di Cina. Hal ini bertujuan untuk mendapat gagasan baru melalui pengalaman lintas budaya. Dan yang terakhir, mengembangkan pemahaman dan kesadaran jangka panjang terhadap film di kalangan peserta didiknya.

Mr. Tsai (berkacamata).

Saya mendapatkan giliran kedua. Dengan harapan dapat mengelaborasi diskusi ini lebih jauh, saya sendiri mempresentasikan perkembangan secara umum dokumenter di Indonesia, yang didukung dengan maraknya kemunculan komunitas atau organisasi independen di Indonesia, salah satunya Forum Lenteng. Berhubung pokok pembicaraan adalah ‘kolektif’ (collective, yang bisa diartikan sebagai ‘koperasi’ atau ‘komunitas’ dalam konteks Bahasa Indonesia), saya mendeskripsikan tiga program utama Forum Lenteng yang berhubungan dengan film, sinema, dan video, yakni Program akumassa (dan websitenya www.akumassa.org), Program jurnal online https://jurnalfootage.net, dan Program ARKIPEL International Documentary & Experimental Film Festival. Tak lupa saya juga menerangkan bahwa tujuan utama dari kerja-kerja Forum Lenteng ialah terciptanya tatanan masyarakat madani dan mandiri yang peka dan sadar terhadap media. Dengan kata lain, Forum Lenteng berada di jalur pendidikan dan perbaikan sistem pendidikan tersebut. Melalui Program akumassa, terutama, Forum Lenteng berbagi ilmu dan pengalaman kepada masyarakat lokal di beberapa wilayah mengenai literasi media dan jurnalisme warga, serta strategi-strategi untuk membangun pusat data (atau media center). Kerja-kerja tersebut memberikan implikasi yang nyata, di mana komunitas yang berkolaborasi dengan Forum Lenteng, dan Forum Lenteng sendiri, mampu meningkatkan posisi tawarnya sehingga bisa menjadi partner bagi pemerintah untuk melakukan aksi yang lebih luas agendanya. Program ARKIPEL seakan menjadi ujung tombak untuk menegaskan agenda tersebut, bahwa film dan sinema adalah pengetahuan yang harus disebarluaskan kepada masyarakat.

Ketika giliran keynote speaker ketiga, Makiko Wakai, ia justru meminta saya menunjukkan katalog ARKIPEL Electoral Risk 2014. Hadirin cukup heran dengan tebal katalog yang diproduksi oleh Forum Lenteng. Melalui itu, Makiko kemudian menegaskan bahwa Forum Lenteng dapat menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah kolektif mendedikasikan hidupnya dalam aktivitas kebudayaan yang murni untuk masyarakat. Lalu, Makiko membandingkan dengan katalog YAMAGATA yang tidak seberapa tebalnya.

“Ini menunjukkan bahwa yang seringkali luput dari kita, penyelenggara festival, ialah tujuan untuk mendidik masyarakat,” ucap Makiko. Bahkan, menurutnya, YAMAGATA sendiri pun menjadi tempat berkumpul para filmmaker dan audience guna mendapatkan ide-ide yang baru, tetapi belum pada titik yang benar-benar meluaskan wacana film sebagai pengetahuan publik seperti yang dilakukan oleh ARKIPEL.

Sementara itu, Park Jaeyong, pada giliriannya, justru melempar pertanyaan kritis: “Mengapa saya yang merupakan orang seni (rupa) diundang ke forum diskusi film dokumenter?”. Pertanyaan itu ia jawab sendiri dengan menerangkan bahwa batas-batas antara seni (yang dalam hal ini bisa merujuk ke seni rupa dan seni visual) dan film dokumenter sudah lebur. Bahkan, karya film eksperimental dan karya video art seringkali diperdebatkan dalam wacana yang sama mengenai bentuk dan strategi estetis dalam mewacanakan sebuah isu.

Namun demikian, arah diskusi dicoba dikerucutkan oleh Mr. Heo dari Yong In University, dengan kembali ke pertanyaan dasar mengenai fungsi strategis dari kolektif/komunitas. Ia berpendapat bahwa saat ini sudah saatnya kita mencoba membaca kembali secara lebih jauh bagaimana perlintasan dari segi kebangsaan dan wilayah tersebut berperan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

“Mengapa kolektif begitu sangat penting?” tanyanya.

Mr. Heo (kiri) dan Park Jaeyong (kanan).

VII.

Programmer yang memediasi forum, Jeon Sung-kwon, mencoba melemparkan kesempatan kepada peserta forum selain keynote speaker. Adjani Arumpac kemudian memberikan pendapatnya, sehubungan dengan posisi universitas (atau lingkungan akademik). Adjani menilai, hampir di setiap universitas di Asia tidak memiliki standar silabus pengajaran film yang ‘Asia’, dan masih berkiblat pada kanon Barat. Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan kondisi beberapa universitas yang ada di negaranya, Filipina. “Bagaimana kita dapat memulai wacana itu melalui koneksi ini?” tanyanya.

Saya mengambil kesempatan ini untuk menyampaikan gagasan yang saya pahami tentang kerja kolektif. Saya sungguh berterima kasih kepada sang penerjemah —saya lupa namanya— yang dapat meluruskan dan membenarkan Bahasa Inggris saya yang seadanya.

Saya berpendapat bahwa sesungguhnya kultur Asia memiliki modal pokok yang tak ada di dalam cara berpikir Barat. “Di Indonesia, kami mengenal filosofi itu —atau kultur itu— dengan istilah gotong-royong,” kata saya menjelaskan. “Masyarakat lokal mau merelakan waktu dan tenaganya untuk bekerja bersama tanpa pamrih. Seharusnya, kebiasaan ini dapat kita jadikan sebagai salah satu strategi untuk mengembangkan gaya perfilman, bahkan pada tataran estetika, yang khas Asia. Forum Lenteng, melalui Program akumassa, pada dasarnya menerapkan konsep ini melalui kerja-kerja atau aktivitas berkarya kolaboratif.”

Di tengah-tengah kerut kening para peserta forum yang mencoba memahami pemaparan saya, Mr. Tsai dari Tawan kemudian berbisik kepada saya, “Benarkah seperti itu?”

“Ya!” jawab saya dengan yakin.

“Wow, persis seperti komunis?!” serunya tergelak. Saya hanya mengangkat bahu, juga tertawa.

Lalu saya juga tak lupa menjelaskan bagaimana kerja kolaboratif itu kemudian berlanjut hingga pada tahap distribusi karya, menyebarluaskan ide-ide tentang media (warga), melalui pemutaran di tingkat lokal, penulisan artikel jurnalisme warga, dan kerja berkelanjutan di mana Forum Lenteng secara terus-menerus melakukan pendampingan terhadap komunitas lokal yang terlibat dalam Program akumassa.

Diskusi itu kemudian dicoba disimpulkan oleh Mr. Heo. Menurutnya, ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian kita di masa yang akan datang. Pertama, tentang (ko)produksi, sehubungan dengan strategi berbagai kolektif dalam menghasilkan output yang terlepas dari orientasi modal. Kedua, tentang distribusi, sehubungan dengan strategi melalui kekerabatan sosial yang menjadi sifat dasar dari warga masyarakat lokal. Ketiga, tentang edukasi, yakni sehubungan bagaimana kerja-kerja tersebut memiliki orientasi bagi peningkatan pengetahuan masyarakat secara merata.

(kiri – kanan) Wojciech Szczudło, Ariani Djalal, Adjani Arumpac, dan Lav Diaz.

VIII.

Secara umum, saya melihat bahwa apa yang sedang dibicarakan dalam diskusi tersebut, sebenarnya telah dilakukan oleh Forum Lenteng secara konkret melalui Program akumassa sejak tahun 2008. Bahkan, sebelum itu, kerjasama antara Forum Lenteng dan organisasi atau artist initiative lainnya di Indonesia, semacam ruangrupa dan serrum, telah membuktikan bahwa perkembangan wacana perfilman —yang tidak lagi membedakan batas-batas bidang seni— di Indonesia, yang diinisiasi oleh komunitas-komunitas atau kolektif-kolektif, berada di garis terdepan di Asia.

Ketika perbincangan ini menjadi hangat di DMZ Docs tahun 2014, dan tokoh sekelas Kim Dong-won masih mengeluh bahwa festival-festival di Korea masih sibuk berdiskusi dan belum melangkah ke tingkat aksi lapangan (beberapa menit setelah diskusi itu selesai, ketika kami dijamu makan malam oleh penyelenggara festival), saya justru dapat berbangga diri karena berbagai kolektif di Indonesia telah berada di tahap yang ‘ketiga’,[1] yakni mendekonstruksi aksi-aksi komunitas-komunitas itu ke sebuah estetika baru: estetika komunitas.

Catatan saya tentang isi diskusi yang berlangsung.

Ironisnya, walaupun presentasi saya menarik perhatian orang sekelas Lav Diaz, saya mendapat informasi mengenai kenyataan yang sungguh sangat disayangkan, yang terjadi di bagian belahan negara lain di Asia.

“Di negara kami, tidak ada satu pun kolektif seperti kalian,” aku Adjani kepada saya, malam hari setelah diskusi, yang mana pengakuan itu dibenarkan oleh Lav Diaz keesokan harinya. ***


Endnote:

[1] Tahap pertama ialah perancangan ide, yang saya percaya telah dilakukan sejak awal pembentukan Forum Lenteng dan ruangrupa. Tahap kedua adalah pelaksanaan ide di lapangan, yakni sejak penyelenggaraan OK. Video dan program-program pemberdayaan masyarakat berbasis media dan filem, semacam akumassa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.