Marginal
Comment 1

29.

Jakarta, 2:46 am

Tatkala mimpi dan ramalan membutuhkan tafsir, itulah waktunya bagi kaki untuk melangkah menemukan jalan. Ke mana? Ke toko tempat dijualnya ketakutan sebagai suatu kunci untuk memahami krisis hari ini.

Mungkin suatu hari nanti, saat ia—yang sekarang ini tampaknya belum menyadari bahwa kunci jawaban untuk saya mungkin sedang tersembunyi di dalam kaus kakinya—menemukan catatan ini—yang bisa jadi merupakan kunci jawaban baginya—dengan sengaja atau tidak, saya sudah melewati titik exstasis yang entah bagaimana. Mungkin juga, ia justru tengah duduk di sebelah saya di suatu hari (di masa depan) sambil tertawa, atau justru mencibir?

Apa pun yang akan terjadi nanti, ia akan tahu bahwa visual pada video musik inilah—abaikan saja liriknya (dan mungkin juga ia tak suka lagu-lagu semacam ini…? Saya hanya bisa menebak-nebak)—yang mengobati kegelisahan saya detik ini, di waktu dini hari ini, ketika saya tengah tersentuh oleh julukan “suitcase kid” yang ia sematkan sendiri sebagai sebuah penanda pada catatan pribadinya, tertanggal 15 Februari 2017.

Catatan itu penuh dengan kalimat-kalimat yang sulit untuk saya cerna, penuh dengan bagasi pengalaman yang demikian jauh dan tak bisa (atau semoga saja, masih “belum bisa”) saya gapai di minggu-minggu, bulan-bulan, atau tahun-tahun ini (atau mungkin justru tak akan pernah bisa?). Isinya penuh kemarahan dan keputusasaan, barangkali, tapi rasanya juga menuansakan optimisme untuk bangkit dari keterpurukan. Setidaknya, kebangkitan itulah yang terlihat setiap kali ia menyilangkan tangan, beraksi menyapa lingkungannya dengan kejenakaan seni. Ia sebenarnya jagoan.

Julukan itu, yang tak bisa saya duga apakah jangan-jangan memang ada hubungannya dengan kisah Jacqueline Wilson, dengan eloknya justru membuat saya mengerti apa kiranya yang sudah membuat saya tertarik pada perempuan ini. Jawabannya, tinggi tapi sederhana, sederhana tapi berarti: cita-cita.

This entry was posted in: Marginal
Tagged with:

by

A researcher, critic and curator with 5+ years of experience in the field of media, arts and film. A member of Forum Lenteng, an egalitarian and non-profit organization based in Jakarta which focuses on cultural activism.

1 Comment

  1. Pingback: Enter title here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.