Marginal
Comment 1

46.

Jakarta, 11:12 am.

Uninstall tumblr, [re-]install WordPress. Itu yang saya lakukan beberapa saat setelah terbangun pagi ini—”sudah siang”, kalau menurut si orang baru, ketika saya berbasa-basi kemarin dengannya via WhatsApp.

Beberapa hari lalu saya berpikir akan terus melanjutkan pengelanaan tentang “ketakutan” karena merasa bahwa kunci yang saya dan Suitcase Kid cari memang belum ditemukan—jangankan mendapatkannya, mengetahui lokasinya saja, kami belum. Saya jadi teringat dengan catatan No. 29. Di dalamnya, saya membubuhkan kalimat-kalimat spekulasi tentang apa yang akan terjadi di masa depan jika kiranya salah satu di antara kami menemukan kunci itu. Tapi sepertinya spekulasi itu tidak akan menemui keadaan riilnya; saya pun sudah menduga hal ini dan menuliskan keraguan akan spekulasi tersebut di catatan nomor entah berapa. [Kau tahu, kan, mengetik di layar smartphone itu kadang menjengkelkan karena kita tidak bisa membolak-balik layar yang satu ke layar yang lain dengan mudah? Jadi, abaikan saja catatan nomor berapa yang saya maksud mengandung prediksi tentang ketidakmungkinan bagi penemuan kunci itu secara bersama-sama antara saya dan Suitcase Kid.]

Mungkin akan ada orang yang bertanya-tanya mengapa di catatan kali ini, saya masih juga menyebut nama “Suitcase Kid”. Soalnya, narasi tentang si orang baru ini belum terkumpul banyak. Dua hari terakhir saya sudah berbincang cukup panjang dengannya (dengan tidak bertatap muka), tapi kami belum sampai ke soal-soal yang dirasa cukup menggugah untuk diurai. Saya yakin, sangat yakin, hal-hal menggugah itu akan segera ada, setidaknya dari kepala saya sendiri nantinya. Sedangkan Suitcase Kid…? Ia semakin hadir di dalam bingkai vertikal yang berumur 24 jam itu.

Oh, iya! Umi Sholikhah ternyata masih menyimak catatan-catatan “Marginal” ini. Ia bahkan mengucap salam kepada si orang baru, dan dengan jelas pula menyebut “yang belum diberi nama”, seakan-akan menegur si empu blog ini agar si empu segera memberi nama kepada orang baru yang tengah hadir di dalam dunia catatan saya. Hm…?!

Tadi malam, saya dan si orang baru itu sebenarnya sempat berbincang tentang nama. Saya bahkan menjelaskan padanya—saya merasa geli ketika menjelaskan hal itu padanya, jujur saja—asal muasal nama “Tooftolenk”. 

Ia mengaku terpingkal saat membaca—[apakah tadi saya sudah menyebut lagi bahwa kami berbincang via WhatsApp?]—penjelasan saya yang cukup panjang. Entah karena ceritanya memang lucu, atau mungkin dia terpingkal melihat tingkah laku saya yang mengetik dengan cukup lama, seolah-olah saya—sebagaimana guyonan yang ia lontarkan tadi malam—sedang menulis esai. Barangkali, ia geli melihat teks “Zikri is typing…” di bagian atas kolom chat WhatsApp-nya itu.

“Zikri is typing…”??? … …???

Sebentar… saya sekarang jadi bertanya-tanya, dengan nama apakah ia menyimpan nomor ponsel saya di dalam contact list di ponselnya? “Zikri”? “Kak Zikri”? (dengan tambahan label “arkipel”-kah?) Atau justru kata “Kak”-nya ditulis seperti ini: “Kakkk” …? Atau “Tooftolenk”?

Wah! Dengan memikirkan soal nama ini saja, saya jadi terpingkal sendiri. Mungkin saja bagi orang lain hal ini tidak penting, tapi ini jelas penting buat saya karena yang tengah kita perbincangkan adalah daftar nama yang tercantum dalam electronic devices, bukan di Yellow Pages ataupun di buku catatan nomor telepon yang biasa dulu digunakan oleh Ayah dan Ibu saya. Saya kira, ini adalah salah satu hal kecil yang sering luput dari pembahasan-pembahasan di dalam forum-forum yang mengkaji perkembangan media.

Saya jadi ingin berargumen di sini, yakni: “nama” pun bisa berubah hakikat dan form-nya tatkala diletakkan di medium baca, atau medium penyimpanan, yang berbeda. Jonas Mekas pernah berkata bahwa kata-kata dalam bait-bait puisi yang ditulis/diketik di Facebook memiliki sifat dan realitas yang berbeda dengan kata-kata yang tertulis di dalam lembaran-lembaran kertas halaman sebuah buku (fisik). Dan saya tambahkan: meskipun kata-kata yang dimaksud sama ejaannya, perbedaan hakikat dari keberadaanya akan muncul dengan seketika akibat medium yang digunakan si penggubah kata.

Bukankah hal yang sama juga dapat berlaku pada “nama” yang tercantum di dalam ponsel pribadi, bahwa nama-nama itu pasti memiliki hakikat yang berbeda dengan nama-nama (walaupun sama ejaannya) yang tertulis di buku harian seseorang? Ketika saya mengetik “Pascal” di catatan ini—di WordPress via smartphone—dalam rangka “catatan harian”, maka kata “Pascal” di sini tentunya akan berbeda ketika saya menuliskannya di buku catatan harian saya. Meskipun catatan “Marginal” saya yang ada di WordPress ini juga berfungsi sebagai ruang personal sebagaimana buku catatan harian saya, isi kata-kata dan kalimat-kalimatnya tetap akan memiliki hakikat yang berbeda. Bahkan, walaupun isinya sama (maksud saya, ejaan setiap kata dan kalimatnya sama), hakikat dari kedua isi catatan itu jelas berbeda karena tools atau medium yang saya gunakan juga berbeda. Medium yang berbeda menegaskan hakikat sebuah konten, dan dengan sendirinya akan menegaskan perbedaan “logika bahasa”. Buku catatan harian memiliki kultur yang lebih konvensional ketimbang electronic devices (contohnya: smartphone) meskipun yang kita uraikan adalah teks yang sama persis susunan huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat, dan tanda-tanda bacanya. Sekali lagi—[saya jadi sedikit nyinyir, sepertinya]: Teks di layar ponsel memiliki hakikat yang berbeda dengan teks di lembaran kertas meskipun teksnya sama. Teks di buku catatan harian saya exists sebagai tinta pena yang digoreskan, sedangkan teks di layar smartphone ini exists sebagai suatu algoritma. Sebuah “nama” yang ada di dalam daftar nama pada buku catatan harian, dengan demikian, akan berbeda juga hakikatnya dengan sebuah nama yang ada di dalam daftar kontak pada sebuah ponsel.

Pertanyaan saya kemudian: sejauh apakah personalitas sebuah ponsel di diri si pemiliknya? Sepenting apakah Pascal menyikapi ponsel pribadinya? Dan sedalam apakah posisi masing-masing nama yang tercantum dalam “daftar kontak” pada ponselnya itu? Kau bisa menduga bahwa perbedaan tentang penting atau tidaknya sebuah “nama kontak” di dalam ponsel kita, bisa ditakar dari bagaimana kita menuliskan nama tersebut di dalam daftar kontak yang tersedia. Apakah kau menulis nama pacarmu dengan sebutan (ejaan) yang spesial dibandingkan dengan ejaan nama-nama lainnya yang ada di dalam daftar kontak ponselmu?

Oh, apakah saya sudah menyebutkan nama si orang baru? ***

This entry was posted in: Marginal
Tagged with: ,

by

A researcher, critic and curator with 5+ years of experience in the field of media, arts and film. A member of Forum Lenteng, an egalitarian and non-profit organization based in Jakarta which focuses on cultural activism.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.