47.

Jakarta, 01:30 am.

Beberapa detik lalu, saya berniat menguntai kalimat lembut yang cukup panjang. Sudah sempat terketik, tapi lantas saya hapus.

12:31 pm.

Belum pernah seumur-umur leher saya merasa demikian ringan seusai rapat panas. Baru kemarin sore, itu pengalaman pertama. Dan di sini saya hendak berspekulasi pula: apakah pengerjaan buku yang ditawarkan Jakarta 32°C itu akan berjalan seringan dan semenggairahkan rapat kemarin? Jawabannya bisa saja “Ya!”, dengan ketentuan bahwa jika saya—[oke, dalam konteks ini, etisnya saya harus menyebut “kita”]—jika kita berada sangat dekat dengan “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”. Itulah situasi yang sejak jauh-jauh hari selalu saya dambakan: kesetaraan.

13:40 pm.

Dan rasanya, baru kali ini saya sangat berhati-hati memilah kalimat untuk “Marginal”. Kenapa, ya?

Ada tiga orang yang merespon Instagram Stories saya semalam; mereka merespon cuplikan catatan No. 46 yang dengan sengaja saya post untuk… [alasannya akan saya utarakan lain waktu]. Hanya satu orang yang tahu persis apa catatan ini. Kau bisa menebak siapa, kan?


Sekarang ini, di lantai dua, di ruang studio, Yonri bermain gitar, menyenandungkan satu lagu yang kami nyanyikan tadi malam untuk menghibur hati Robby. Oh, ya! Satu hal lagi (yang saya rasa penting untuk dicatat): Yuki belakangan sering memutar lagu-lagu The Cranberries setelah kami semua bosan dengan NDX.

Tapi tahukah kau, tadi malam, beberapa menit setelah saya berkata, “Duduklah di sini! Sekarang waktunya jujur-jujuran!” kepada beberapa teman yang menghadiri makan malam, salah satu teman kami menerbitkan post di Instagram pribadinya sembari menyatakan kekagumannya pada kinerja tim yang bekerja untuk festival yang baru saja berlalu. Dapat diduga, tersirat dalam post itu suatu maksud yang diharapkan oleh si pemilik akun Instagramnya akan dapat ditangkap oleh seseorang yang sebenarnya ia tuju. Saya dan Anggra, atau saya dan Asti, cukup sering membahas topik-topik seperti ini.

Itu jadi salah satu alasan lain, mengapa saya selalu bertanya—sebagaimana sering saya cantumkan pada catatan saya yang dulu-dulu—mengapa ada demikian banyak orang yang senang “mendefinisikan” dirinya sendiri? Dan… mengapa saya juga senang mendefinisikan diri sendiri—[atau berharap didefinisikan oleh orang lain?]…?

Terkadang saya menganggap hal ini manusiawi, tapi tak jarang pula saya menyadarinya sebagai “penyakit” yang bisa jadi akan menjebak cara berpikir kita semua ke dalam sebuah kekeliruan.

Namun, saya harus mengakui bahwa teruntuk tiga catatan terakhir, motif saya ialah memang untuk “ingin dibaca” oleh satu orang saja; satu orang yang saya tempatkan bukan sebagai rekan bincang sebagaimana kehadiran tokoh dalam narasi sebelumnya. Saya justru ingin bercerita ketimbang berbincang.

Karena ini adalah cerita tentang “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”, dan juga tentang ia yang memiliki nama yang lebih-kurang sama dengan figur yang menemukan hukum itu.

Akan tetapi, bukan soal “nama” yang sebenarnya menarik perhatian saya. Melainkan: bunyi.

Yumni pernah menyatakan bahwa “bunyi” memiliki kemampuan visualnya sendiri yang dapat melampaui keajaiban “visual”-nya visual.

Asal kau tahu, saya sangat mudah terlena dengan suara…, dengan bunyi. Dan bunyi, ia sering kali mengandaikan gerak meskipun tak ada gerakan yang terlihat mata. Mungkin kini Pascal bisa sedikit lebih mengerti—atau justru di matanya semakin terlihat betapa ribet-nya saya—mengapa joget itu menyenangkan dan mengapa saya senang melakukannya. Saya pun heran, mengapa ada orang yang susah sekali diajak berdansa—si barista yang sudah pulang ke Bandung itu, salah satunya [dengan menyisakan satu orang depresi pula]—?

Tapi, oke, argumen Hafiz dua hari lalu menyadarkan saya: kita harus menghargai pilihan sikap orang lain; atau ujaran GM (sebenarnya dia sendiri mengutipnya dari Barbara Ward): “Kita tak boleh mengabaikan kapasitas orang untuk tergerak oleh argumen kebaikan.”

Yah, apa pun itu, yang jelas bunyi adalah pangkal dari semua ini. Di suatu pagi, beberapa hari sebelum festival dimulai, perhatian saya ditarik oleh suatu daya magnetis yang demikian kuat, yang berasal dari suara satu orang saja. Daya magnetisnya semakin kuat terasa sejak kemarin sore, apalagi setelah ia menerangkan bagaimana cara mengucapkan nama, tadi malam.

Saya teringat sebuah pengalaman ketika masih kuliah di UI dulu: tanpa melihat tampang seseorang yang tengah menyapa teman saya yang berdiri di balik punggung saya sore itu, saya langsung menyadari bahwa dalam beberapa semester ke depan, kepala saya akan dipenuhi oleh suatu kegalauan; kegalauan yang dapat diartikan macam-macam—konyolnya, kegalauan waktu itu tidak berlangsung dalam suatu alur yang pas untuk diurai dalam catatan. [Eh, tapi kau harus ingat, ya, bahwa dalam memutuskan apakah saya akan menulis catatan atau tidak, saya tidak pernah mengacu pada kisah-kisah sedih atau bahagia!].

Produksi catatan ini, faktanya, didasarkan oleh alasan untuk dapat memahami “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”, lewat suatu penciptaan hubungan yang sungguh personawi dan intim. Saya sedang membuka jendela saya sendiri, dan berharap jendela di seberang sana juga terbuka, sehingga bisa mendengar kelanjutan bunyi yang tentunya jauh lebih menarik.

Ringkasnya, “Kal” adalah bunyi bagi sapaan yang tidak biasa di telinga dan lidah saya. Dan inti dari catatan ini, dan catatan-catatan selanjutnya nanti, sungguh sangat sederhana. Saya yakin bahwa kau pun sudah dapat menduganya sejak saya memberikan pengumuman tentang keputusan untuk mengakhiri narasi lama dan sekaligus mengawali narasi baru ini—[Wah, sudah seperti Kafka saja, ya, kelihatannya? Oh, tidak, tidak! Jangan salah paham! Catatan ini tentu konteksnya sangat jauh berbeda sama sekali…].

“Sederhana, dan mudah ditebak. Tapi ditulis dengan demikian ribet,” mungkin begitu Pascal akan berujar.

Tapi, bukankah tulisan panjang ini sesungguhnya bagian dari usaha untuk memvisualkan bunyi (sebagaimana puisi)…?

Lagi-lagi, perbincangan kita kembali ke bunyi.

Bunyi…, bunyi, dan bunyi.

Kira-kira, akan bagaimanakah nanti bunyi yang akan saya dengar di kala menenggak secangkir alpukat sore ini (kalau kesempatan itu dapat dilakukan—dan kalau stok alpukatnya masih ada di warung Popo)? Dan akan bagaimanakah suasana dan situasi berikutnya setelah catatan ini terbaca? Saya memutuskan untuk tidak melemparkan cuplikan catatan ini ke Instagram Story—tapi mungkin khusus untuk catatan No. 47 ini saja—dan menyerahkannya kepada kehendak bunyi-bunyi elektronis kita.

Apa pun yang akan terjadi setelah ini, catatan saya sepertinya belum akan berakhir dalam 5 atau 6 catatan mendatang. Dan memang, kelanjutan catatan ini sangat pantas untuk tidak diprediksi, sebagaimana sifat dasar suatu bunyi.

Saya begitu takjub ketika mengetahui bahwa, untuk berbicara sinema, Deleuze dan Bazin malah menggunakan rumus fisika. Saya berasa ditampar: “Berarti, selama di sekolah menengah dulu, gue ngapain aja, yak…???!”

Masalahnya sekarang, rumus “hukum tekanan air” adalah salah satu mata pelajaran fisika yang tidak saya kuasai sewaktu di bangku kelas 7 dulu. Hahaha! Apa yang akan terjadi dengan catatan ini, kalau begitu? Haha!

Eh, sebentar…! Rumus untuk “tekanan bunyi” itu yang seperti apa, ya…??? ***

2 Responses to “”

  1. Ikha

    Bahkan di catatan kedua ttg orang baru ini, saya baru inget hukum p…. setelah hukumnya disebutkan di atas. Kemarin2 hanya menggali memori.

    Liked by 1 person

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: