48.

Jakarta, 02:44 am.

“I get butterflies in my stomach,” ujar salah seorang kenalan saya di suatu malam, sewaktu saya di Utrecht, Belanda, tiga tahun lalu. Ah, tapi sungguh saya lupa siapa namanya! Dia masih muda; dan malam itu, senyum tak pudar-pudar dari wajahnya. Di momen itu, saya tidak mengerti, apa yang ia maksud dengan “kupu-kupu di dalam perut”…?

Percakapan itu terjadi selang beberapa menit setelah saya melewatkan detik-detik gugup di depan sejumlah tamu—anggur di tangan saya rasanya nikmat sekali karena kelegaan yang saya dapati usai melewati detik-detik itu. Sebagai bagian dari rangkaian program residensi kurator yang saya ikuti, malam itu saya harus mempresentasikan pandangan saya tentang perkembangan seni media di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun pasca-1998.

Saat Otty menjelaskan makna idiom yang diucapkan kenalan kami, barulah saya mengerti bahwa si bujang yang umurnya sedikit lebih tua dari saya itu sedang berbunga-bunga hatinya. Sembari menanggapi ceritanya dengan seruan, “Oh, really? Good… good!”, di dalam hati, saya juga berujar: “Jiah, di perut gue kupu-kupunya lebih banyak, nih, Bor, bekas presentasi tadi… zzz..!” Meskipun sesi presentasi saya sudah berlalu, masih ada sesi ketiga di mana saya harus duduk bersama Otty untuk menjawab beberapa pertanyaan dari hadirin mengenai isi presentasi kami berdua. Percakapan yang menyebut “kupu-kupu” itu berlangsung di waktu jeda, sesaat sebelum Otty naik ke panggung untuk mempresentasikan karyanya. Saya yang masih gugup dan “mabuk” akibat presentasi was wes wos agaknya tak merasakan keringanan suasana sedikit pun oleh cerita si bujang (tapi saya mendengarkannya dengan penuh minat).

Syukur, semuanya berjalan lancar; kami cukup puas dengan hasil dari acara malam itu. Ketika meninjau video dokumentasi dari presentasi yang saya lakukan, saya baru ngeuh bahwa saya mengenakan jaket yang sangat tidak formal. Meskipun begitu, saya bangga dan merasa jenaka karena saya menampilkan wajah The Popo ke hadapan orang-orang Belanda. Hahaha!

Jadi, hari Kamis sore lalu, Popo kehabisan stok alpukat. Beberapa menit setelah Pascal pulang ke Lebul, perbincangan di tempat rapat menjadi tak menarik. Rencana minum coklat bersama Reza pun urung karena dia menghilang entah ke mana—tapi sejujurnya, saya memang enggan membeli segelas coklat saat itu karena orang yang sebenarnya ingin saya ajak minum coklat sudah tidak berada di tempat; dia bukanlah si Reza, bukan pula si bosque yang membahana itu.

Tapi, malam harinya di markas organisasi—markas yang lokasinya lain lagi—berlangsung dengan cukup menyenangkan (meskipun saya harus begadang sampai dini hari pula, menemani Otty menuntaskan esainya). Apalagi sirkulasi teks di layar ponsel saya juga memicu mood yang tidak biasa. Saya sendiri sulit menjelaskannya, apa dan bagaimana gerangan makna yang dibawa oleh mood kala itu kepada saya.

Keesokan harinya, Dhuha bangun dengan disusul oleh keluhan dari dirinya sendiri mengenai gagalnya rencana yang dia susun dalam rangka niat mengikuti sholat ied. Tapi saya kira, mood orang-orang di markas kami pagi itu cukup terobati karena si Barista tiba-tiba datang dari Bandung—ternyata dia asal Jogja, dan kini tinggal di Jakarta tapi kuliah sambil bekerja di Bandung. Topik percakapan darinya tidak ada yang menarik, malah saya yang banyak bertanya dengan jahil tentang dirinya dan aktivitasnya selama kuliah (atau sebenarnya, saya tak terlalu antusias dengannya karena isi kepala saya diganggu oleh pertimbangan: kirim pesan atau tidak). Ketika Asti bersedia untuk bercerita lebih detail mengenai rahasia-rahasia yang seharusnya sudah kami perbincangkan jauh-jauh hari sebelum festival, barulah mood saya berhasil menggerakkan jari tangan ini untuk mengetik dan mengirim pesan. Untung saja masalah deadline untuk pameran di Polandia—Otty yang akan berangkat ke sana pada bulan Oktober nanti mewakili organisasi kami—sudah sedikit tertangani, sehingga saya bisa mengirim pesan yang lain, termasuk juga pesan yang membuat perut saya dipenuhi kupu-kupu.

“Yaya?” adalah jawaban yang mendatangkan demikian banyak kupu-kupu. Meskipun bunyi dari gelas alpukat gagal terdengar, saya nyatanya bisa mendapatkan bunyi lain yang juga menarik. Saya gembira karena “The Fall” bisa membuat saya berjoget (di dalam hati). Hahaha!

“Nite..”, walaupun mungkin tak membawa (atau tidak dikandungkan ke dalamnya) maksud apa pun selain niat beramah-tamah, di mata saya ia menjadi kata yang sepertinya akan membawa tanda-tanda lain; tanda yang akan menuntun saya menuju waktu-waktu ketika saya bisa mendengar lebih jelas bunyi kepakan sayap kupu-kupu di dalam perut ini: kupu-kupu yang seperti apakah mereka kiranya?

Jadi, dini hari ini saya pun juga bisa [dan ingin] berkata: “I get butterflies in my stomach!”

Apakah kupu-kupu yang sama juga berada di dalam “tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup yang diteruskan ke segala arah dengan sama besar”…?

Zikri, bukankah kau harus tidur karena harus berjalan pagi ini pukul delapan?!! ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: