Marginal
Comment 1

50.

Jakarta, 03:12 am.

Ketika saya menoleh dengan kegalauan karena pesan WhatsApp belum juga dibalas, saya berujar di dalam hati: “Ah, betapa senangnya dia…?!”

Saat itu, UTM sedang melukis menggunakan tinta Cina di atas kertas; melukis wajah saya—awalnya ia ingin melukis botol di dalam gelas, tetapi urung dan memutuskan untuk melukis saya saat saya memperhatikannya.

“Kalau ditulis di dalam katalog, disebutnya bagaimana, Om?” tanya saya. “Tinta Cina di atas kertas, atau…? Dalam bahasa Inggris, maksud gue…”

Chinese ink on paper,” jawabnya, lugas sambil menganggukkan kepala. “Atau bisa ‘ink‘ saja. Tapi, kan, ada tinta India juga. Jadi, ‘Chinese ink‘ lebih tepat.”

Wajah saya yang dilukis oleh UTM beberapa menit lalu.

Sebenarnya, saya sudah tahu bagaimana ketentuan tentang penulisan informasi medium sebuah karya di dalam katalog. Hampir setiap tahun, sejak 2014, saya mendapat pekerjaan sebagai editor (dan asal kau tahu, sampai sekarang saya masih saja panik kalau mengingat bahwa, pada katalog-katalog yang kami terbitkan, masih ada beberapa kesalahan, baik dalam hal isi maupun layout. Itu sangat menjengkelkan, memang. UTM adalah guru yang selalu menegur saya tentang kesalahan-kesalahan itu. Ketelitiannya luar biasa!).

Jadi, beberapa menit lalu itu, saya sebenarnya bertanya basa-basi saja kepada UTM. Juga, karena saya melihat medium yang digunakan UTM: tinta Cina. Soalnya, tiga hari terakhir ini, telinga, mata, dan perasaan saya cukup peka dengan kata atau hal-hal yang berhubungan dengan “Cina”, “China”, “Tionghoa”, “Tiongkok”, atau “Chinese”, atau apa pun yang mengarah ke sana atau berkaitan dengannya. Dia menjadi sesuatu yang sedang ingin saya dekati sekarang ini (dan nanti). Mendekatinya dalam bentuk dan cara yang bagaimana, saya juga belum tahu pasti. Akan tetapi, saya memiliki maksud yang sudah pasti untuk apa. [Maksud yang saya miliki tentu saja berbeda dengan Melisa, tapi beruntunglah ia karena sudah pernah menginjakkan kaki di negara itu!]

“Ah, betapa senangnya dia…?!” seru saya dalam hati, saat melihat UTM melukis. Orang ini tampak begitu ringan; sosok yang [konon] bisa dibilang telah melepas beban-beban hubungan sosial-ekonomi dan mendedikasikan hidupnya hanya untuk kebudayaan. Dalam kasus kehidupannya, barangkali, tidak ada lagi jenis kegalauan hati sebagaimana yang tengah saya alami saat ini. Terkadang, saya berpikir ingin menjadi seperti dia. [Tapi itu adalah hal yang tidak mungkin—beberapa orang ada yang berkata, “Dia itu kasus khusus, satu berbanding satu juta orang, sosok yang muncul sesekali dalam beberapa dekade,” bagitu kata mereka (kalimat mereka dengan sengaja saya lebih-lebihkan dalam catatan ini, memang!)]

Bahkan, ada juga yang pernah berkata, kalau kau ingin tahu contoh konkret seorang Nihilis dan Anarkis, dialah UTM. “Wow! Keren sekali!” seru saya dalam hati saat mendengar cerita itu. Tapi belakangan saya sadar, kekaguman seperti itu hanya akan menjadi kontradiksi (dan juga kontraproduksi) bagi signifikansi kehadiran orang-orang semacam UTM di kehidupan kita. Bentuk “kekaguman” yang tepat dan bijak terhadap orang-orang seperti itu, mungkin, adalah dengan “menganggapnya biasa saja, seperti kita”. Tapi—silakan kau tanya satu per satu orang-orang yang mengenal dekat UTM!—menuruti saran untuk “berhenti” mengagumi UTM itu tidak mudah. Saya tidak bercanda!

Kau, yang sudah menyimak catatan saya sejak catatan No. 29, tentu tahu bahwa seharusnya ini bukan tentang UTM. Ya, memang bukan tentang dia. Singgungan mengenai lukisan itu sebagai pengantar catatan kali ini, terlintas begitu saja di dalam kepala saya sesaat setelah UTM menyelesaikan dan memberikan lukisannya kepada saya. Saya menyukai lukisan itu.

Menceritakan UTM, saya kira, akan jadi menarik karena saya juga sudah menceritakannya sedikit (dalam obrolan) kepada Pascal—yang juga punya aktivitas menggambar (walaupun kini sudah tidak seintens dulu, akunya). Saya mencoba membayangkan, bagaimana jika Pascal mengenal dekat UTM atau orang-orang seperti UTM? [—Eh, sebentar…! “Orang-orang seperti UTM”…??? Rasa-rasanya, sekarang ini UTM tiada duanya, deh…?!].

Mas Andang—[Bwahahaha! Bosque dipanggil “Mas”, Heib!]—tadi pagi memberikan komentarnya tentang kinerja Pascal di Sinekol kepada saya. Dapat diketahui dari komentar itu, Andang kagum dan salut dengan inisiatifnya. Nah, benar, kan…?! Ternyata kebiasaan saya mengobservasi kualitas para relawan festival tiap tahun berbuah baik juga. Tahun lalu dan tahun sebelumnya, saya juga bertemu dengan relawan-relawan potensial yang kini sudah jadi teman-teman seperjuangan: Dhuha, Anggra, Asti, Ika, Melisa, dan Pingkan. Sejumlah relawan lain juga sudah aktif di forum yang berbeda, tapi sangat berkaitan dengan apa yang kami lakukan kini. Kalau Rayhan, dia kasus khusus yang lain lagi; bukan saya yang menemukannya, tapi dia membawa dirinya sendiri ke ranah yang kini sedang saya geluti. [Waduh! Saya seharusnya tidur sekarang karena pukul delapan pagi mesti ke UI untuk menghadiri simposium yang salah satu panelisnya adalah Rayhan! Njir, bangun pagi, woey!!!]

Di sini, sekarang ini, juga sudah ada Walay, (dan Naufal yang tinggal di Surabaya), dan Robby, dan Yonri (yang terakhir ini, sih, salah satu aktivis yang terpercaya!). Semoga saja mereka semua bertahan! Sebab, hidup bergerak untuk apa yang organisasi saya cita-citakan bukanlah pekerjaan mudah. Apa yang sebenarnya dilawan, tidak akan pernah hilang. Organisasi dan jaringan pertemanan ini hanya akan terus ada dan bertahan jikalau apa yang kami lawan juga tetap ada.

Tapi, saya mengajak Pascal terlibat di kegiatan-kegiatan semacam ini, jujur saja, bukan dalam rangka mendesakkan apa yang benar/tepat kepadanya tentang film/seni/budaya. Jangan salah paham! Alasan sebenarnya adalah untuk menawarkan pengalaman yang berbeda. Bisa jadi, ajakan ini akan menjadi sesuatu yang berarti dan berkesan, kan…? Memang inilah yang tengah kami rencanakan dalam obrolan-obrolan kecil, bahwa kami berencana melakukan kegiatan kreatif untuk mengalami hal yang menggembirakan. [Dan masih ada satu alasan lagi, sejujurnya! Haha!]

Sinekol—kita sebut saja begini karena alasan yang rasanya tak perlu saya jelaskan—adalah ruang aksi yang sangat potensial di Jakarta sekarang ini, menurut saya. Tentu, dengan catatan jika mereka mengelola diri dengan disiplin yang tinggi. Menimbang pengalaman yang sudah dimiliki oleh si orang baru yang saya ceritakan ini, Sinekol adalah tawaran ruang yang paling tepat untuknya. Secara resiprokal, Pascal dan Sinekol akan saling membangun. Kita bisa lihat nanti—tapi, sekali lagi, dengan catatan jika mereka (yang kini sudah beranggotakan lima orang, dan juga dengan beberapa tambahan SDM yang bukan menjadi “anggota inti”) mau mengelola diri dengan disiplin yang tinggi.

Sinekol juga bisa menjadi forum dan kanal yang terbijak bagi dunia perfilman mahasiswa. Pasalnya, mereka mengumpulkan film-film mahasiswa bukan dengan tolok ukur dikotomis “film bagus” dan “film jelek”. Misi mereka justru mengumpulkan sebanyak-banyaknya film, karena visi mereka adalah “membaca” gejala-gejala yang ada dengan memahami faktor-faktor yang melingkungi semua film yang pernah diproduksi para mahasiswa [yang targetnya mencakup] se-Indonesia. Dengan begitu, candrawala—istilah “cakrawala” sudah tidak laku, Heib! Seriously!—perkembangan sinema dan sineas muda dapat dipelajari. Jika sudah jadi, database yang sedang dikembangkan Sinekol, suatu saat nanti (CATAT: jikalau mereka berhasil mengelola diri dengan disiplin yang tinggi) akan menjadi source yang tak ternilai pentingnya.

Belum lagi jika kita membahas potensi dari jaringan yang [akan] mereka miliki. Saya demikian bergairah ketika pertama kali mendengar Andang bercerita tentang inisiatif ini. Bayangkan: suatu jaringan luas untuk konteks disiplin pengetahuan yang sangat spesifik; jaringan film mahasiswa!

Dan kini, Sinekol memiliki space yang dapat mereka kelola dengan leluasa—dan baik pula dampaknya bagi space itu sendiri jika ia dikelola oleh Sinekol. Saya merasa beruntung karena mengetahui gerakan ini dari nol, dan akan terus melihat perkembangannya! Kalaupun gerakan ini berhenti, paling tidak di masa depan saya dapat bercerita kepada anak saya—[mungkinkah anak saya nanti bermata sipit? Hahaha! *ngarep]—bahwa, “Dahulu, [sebuah niat atau] gerakan progresif yang sangat keren di bidang film juga pernah ada di zaman Ayah muda!” *tsaaah

Jika kau mengabaikan celetukan-celetukan yang sengaja saya selipkan di beberapa bagian dalam catatan ini, kau tentu akan menyadari bahwa catatan ini cukup penting sebagai sebuah dokumen historik—dan ini berlaku untuk semua tulisan karya siapa pun, tentu saja—meskipun tak akan pernah dimuat ke dalam jurnal akademik. Atau, lebih tepatnya begini: saya berpikir bahwa apa yang saya coba jelaskan di atas merupakan sesuatu yang penting, dan karena itu saya mencatatnya. Paling tidak, ini memang penting sebagai catatan saya pribadi.

05:29 am. Saya sengaja mengulur-ulur waktu supaya dapat mengetik kalimat ini tepat di pukul 05:29, hanya karena niat ingin menyebut “tiga jam yang lalu”. Ya, tiga jam yang lalu ia mengatakan di kolom chat bahwa ia akan berangkat pukul lima—Aha! Saya ingat kalau saya pernah menulis puisi tentang kota tujuannya itu, beberapa tahun yang lalu! [Tapi di mana puisi itu sekarang?]. Dan untuk mengulur-ulur waktu, saya sempat membaca beberapa bab Cerita Kulkas, sekadar mencari poin-poin menarik untuk diobrolkan dengannya nanti, lebih-kurang 10 hari lagi.

Sudah bangunkah ia? Barangkali ia sedang bakbikbuk—Ya, saya membayangkannya dengan suara yang memang berbunyi “bak bik buk”. Hahaha!—karena mengejar waktu untuk segera menuju stasiun[?]

Kepentingannya pergi ke kota itu karena terlibat menyelenggarakan kegiatan yang juga berhubungan dengan sinema, adalah alasan yang pas (bagi saya) untuk menganggapnya bukan orang sembarangan.

“Orang yang mana lagi ini?!” begitu mungkin kau menggerutu, ketika (ternyata) masih membaca catatan saya sampai di paragraf ini. Hei, sudahlah! Jangan pula kau tanya ini siapa! Karena, kelanjutan gumam saya, seperti ini jadinya:

“Beberapa menit setelah rancangan surat-surat itu ditulis, saya melihat senyum yang bertahan cukup lama dan menyegarkan di wajahnya tatkala ia melihat gawai pintarnya. Jelas bukan karena ke-supra-antropologis-an teknologi mobile, juga bukan karena cahaya elektronis yang samar menerpa hidungnya, melainkan ultima dari konten yang tengah ia baca dan ia tanggapi pada momen itu. Detik itu, saya tersadarkan bahwa ada suatu hubungan sosial miliknya yang tak mampu saya terka bagaimana petanya, orang-orangnya, dan harapan-harapannya atas hubungan-hubungan itu.

Saya juga menjadi sadar: jalan menuju Cina memang masih sungguh sangat jauh sekali. Dan apakah kira-kira saya mampu menyentuhnya? Gerak dunia hari itu (hingga kini dan nanti) tiba-tiba jadi terasa berat, atau menjadi lambat layaknya langkah kaki sang rahib di film Tsai Ming-liang. Tapi, toh, ini bukan sebuah perjalanan spiritual-estetis atau apa pun yang berbau-bau seperti itu. Ini kegelisahan yang sebenarnya jauh lebih sederhana saja. Pikiran yang kemudian mampir di kepala saya: ternyata keakraban yang dicapai juga berkonsekuensi pada tertegaskannya jarak (karena jarak itu justru semakin terlihat dalam sebuah keakraban). Seandainya dunia ini persis seperti sinema, kita tak butuh banyak energi dan kekhawatiran selain melarutkan diri dalam ruang gelap, menikmati alur sebagaimana adanya—atau, jika boleh saya memodifikasi perkataan Huizinga, kita hanya perlu “enjoying the play (hal yang pasti dilakukan oleh Homo Ludens; oleh kita semua).”

06:17 am. Kegelisahan yang sama seperti tadi malam, saat saya memperhatikan UTM melukis. Belum ada balasan. Barangkali seseorang yang sedang saya tunggu balasan pesan WhatsApp-nya itu memang tengah bergegas dengan bunyi “bak bik buk”…, atau mungkin tidak menganggap pesan saya penting sama sekali[?] Bwahahaha! (tawa masygul yang menggelikan…! Haha!).

Dan sepertinya tak mungkin saya memejamkan mata pagi ini, karena saya ingin melihat Rayhan mempresentasikan Visual Jalanan di panggung Kriminologi. ***

This entry was posted in: Marginal
Tagged with:

by

A researcher, critic and curator with 5+ years of experience in the field of media, arts and film. A member of Forum Lenteng, an egalitarian and non-profit organization based in Jakarta which focuses on cultural activism.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.