a Jakarta-based film critic

52.

Jakarta, 03:36 am.

Tanggal 2 September 2017 lalu, saya tahu Cerita Kulkas (2017, karya Shindy Farrahdiba—bisa diakses di Storial.co) dari Pascal. Cerita 32 bab; narasi setiap babnya pendek-pendek. Si pengarang menempatkan pembaca sebagai tokoh kulkas, untuk menyimak peristiwa di dapur di dalam rumah sepasang suami-isteri yang baru saja menikah. Kuantitas ceritanya minimal, begitu pula latarnya. Tapi kualitasnya boleh diperhitungkan.

Ada satu bab yang membuat saya terpingkal geli, yang menyinggung fenomena WhatsApp. Selebihnya, karya ini adalah kisah sederhana tentang suasana di bawah atap rumah kelas menengah; karya yang, menurut kesan saya pribadi, mengandung upaya untuk mencapai utopia domestik. Hanya saja, Cerita Kulkas masih belum membongkar “isi” kulkasnya sendiri dengan total. Lagipula, cerita ini pun masih dimotori oleh subjek, sedang kehadiran objek di dalamnya tak lebih dari sekadar perenyah mood pembaca.

Menyimak Cerita Kulkas di layar komputer yang tampil ke hadapan mata saya dalam bentuk halaman website, yang menjadi menarik justru esensinya sebagai “karya online“. Komentar si pengarang pada bagian bawah—serta bagaimana sejawat-sejawatnya memberikan tanggapan di kolom komentar—mungkin juga bisa dilihat sebagai lapisan lain dari “narasi” Cerita Kulkas. Terkait hal ini, konteks yang saya tangkap justru aroma “urbanista” yang berdamai dengan rivalitas-rivalitas yang berhubungan dengan mekanisme kapital.

Saya pernah menggunakan istilah “abstraksi” di salah satu kuratorial film yang saya buat. Cerita Kulkas, agaknya, bisa dijadikan sebagai contoh karya tulis yang “mengabstraksikan” ekspektasi pembaca. Sebagai karya sastra, saya tidak berani berkomentar banyak, selain tak menemukan polemik apa pun yang sifatnya politis—jangan salah paham, saya bukan sedang menyinggung “politik praktis”!—dari dramaturgi dapur yang dicoba untuk digambarkan oleh si pengarang. Andaikan Cerita Kulkas bisa merepresentasikan “politik dapur”… [Oke…! Biasanya, kalau kritik ini diteruskan, obrolan kita akan jadi sangat serius dan membosankan. Hahaha!]

Tapi, apa pun itu, membaca cerita tersebut, yang nongol di kepala saya justru suatu latar yang, menurut saya, juga tergambarkan secara tidak langsung di dalam sebuah lirik lagu. Atau, dengan mendengar lagu itu, saya sering mengimajinasikan suatu hubungan yang mirip dengan Cerita Kulkas.

Saya tidak tahu, apakah Pascal mendengar lagu ini juga…?

Dari segi selera, saya lebih suka versi cover di atas daripada versi original yang disenandungkan oleh Beirut. ***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: