a Jakarta-based film critic

53.

Jakarta, 05:12 am.

Mba Tami baru saja datang ke markas kami untuk bersih-bersih. Markas ini memang selalu berantakan; ia yang membersihkannya setiap pagi.

Menulis catatan berikut agak merepotkan karena jaringan internet dini hari ini sedikit bertingkah, padahal tidak hujan—biasanya hujan menyebabkan mood yang berubah-ubah di diri Wi-Fi markas yang sudah berdebu itu.

Sebentar…! Coba saya ingat-ingat dulu apa saja PR yang seharusnya saya selesaikan segera: dua kuratorial untuk di Yogyakarta (harus kelar minggu ini), makalah untuk di Lombok (juga minggu ini), editorial untuk e-journal Sayurankita edisi pertama (bulan depan), melengkapi informasi tentang Apium graveolens L. di katalog tanaman (minggu ini), TOR untuk buku media art for beginners (sudah harus ada setidaknya bulan depan), materi-materi untuk residensi (kalau ternyata saya benar ditugaskan untuk berangkat), artikel kritik untuk dimuat di Jurnal Footage, dan terjemahan makalah Song Jihyeon…

Nah, oke! Nama yang saya sebut terakhir itu adalah nama dari seorang kurator asal Korea Selatan. Kemampuan bahasa Inggrisnya (speaking) tidak terlalu baik, tetapi makalahnya cukup penting untuk ditafsirkan ke bahasa Indonesia. Dan sebenarnya ini PR yang paling urgent—[Oh, iya! Saya juga ingat harus menuntaskan membaca buku karya si Huizinga itu sesegera mungkin supaya saya tidak terlalu bego saat berdiskusi untuk membahas tema festival tahun depan! Anggra sudah memegang versi bahasa Indonesianya, kalau saya tak salah…]

Apakah saya sudah pernah mengatakan—oh, salah, seharusnya saya tidak bertanya “apakah”, tapi seharusnya berseru “tahukah kau”—bahwa sebenarnya ada satu catatan yang masih tersimpan sebagai draft (yang semestinya menjadi catatan No. 52)…? Sampai sekarang, saya masih menimbang-nimbang, apakah akan menerbitkannya atau tidak, atau justru menghapusnya saja. Dhuha pernah berpendapat bahwa catatan-catatan saya yang sudah terbit memang berisi cerita yang cukup “frontal”; akan bagaimana reaksinya kira-kira jika membaca draft itu…? Hahaha! Saya pun penasaran, bagaimana pula reaksi Pascal kalau ia juga membacanya? Hm…!?

Mungkin Pascal sudah tiba di Gambir sekarang ini. Gila juga dia! Saya kira tak akan ada jeda yang cukup untuk memejamkan mata sejenak sebelum ia kembali bekerja, pagi-pagi [?] Melelapkan diri di dalam kereta selama perjalanan tentu bukan pilihan istirahat yang benar, apalagi hanya dua-tiga jam perjalanan. Oh, atau mungkin jam kerjanya baru akan mulai sore nanti? Ya, semoga saja…

Haduuu! Sebenarnya saya ingin mencukur rambut, tapi enggan juga rasanya harus berjalan kaki menuju ATM untuk mengambil cash!

Tadi malam, saya dan beberapa teman di markas membaca buku Mochtar Lubis, Harimau! Harimau! (1975) di kegiatan klub baca. Setiap satu bab dibaca oleh satu orang dengan lantang; jadi kami membaca bergantian hingga buku itu tuntas pada pukul (kira-kira) setengah dua malam. Pascal sendiri memberi kabar bahwa kegiatan penutupan yang berlangsung di sana—sayangnya tidak berbentuk party (“Haha closing doang mana ada kemdikbud party,” begitu ketiknya, di pesan WhatsApp)—baru selesai pada pukul dua malam. [Dan ia segera bergerak menuju Jakarta dini hari tadi…?! Gila! Hahaha!]

Ada satu lagu yang saya rasa menarik untuk Pascal dengarkan selama berada di kereta. Lantunan nada pada musik lagu ini, paling tidak, bisa membuat kepala kita bergerak sedikit-sedikit melepas penat—tapi liriknya justru mengandung nuansa penat (menurut saya). Tapi saya sudah bilang, kan, bahwa saya lebih tertarik pada bunyi…? Bunyi lebih ekspresif ketimbang hanya kata-kata. [Oh, iya! Beberapa hari lalu, masalah pilihan “kata” saja bisa membawa saya ke sebuah perdebatan yang tidak menarik; bukan karena berkecil hati, tapi justru karena hilangnya rasa respect saya terhadap lawan debat saya itu, akhirnya saya tak menanggapi opininya lebih jauh.]

Bunyi memang “bahasa” yang lebih bijak. Jadi, abaikan saja lirik lagu di bawah ini—atau kau boleh saja menginterpretasi liriknya dengan cara dan sudut pandang yang berbeda; tafsir suka-suka. Saya sendiri mencoba mencari-cari artikulasi tafsir atas lirik lagu ini yang barangkali bisa sesuai dengan ke-giat-an dan ke-ringkas-an yang melekat pada Pascal.

Bukan teknis video musiknya yang membuat saya terkesan, tapi justru tarian si figur utama. Betapa menari adalah hal yang benar-benar #asyek untuk diamati. Penelusuran saya di YouTube, beberapa menit lalu, lantas menjalar ke video-video tarian. Dan sampailah saya pada satu video di bawah ini; ada gerakan dari tari mereka yang mirip (atau mengingatkan saya) pada suatu gerakan yang selalu dilakukan Hanif kalau mood jogetnya muncul ketika sedang berada di tengah-tengah party (lihat menit 01:02 dan menit 01:17).

Oke, baiklah! Saya akui juga, memang, bunyi bagaimanapun tak bisa lepas dari visual, dan karenanya [terutama untuk konteks lagu] juga tak lepas dengan kata (atau…, kemudian lirik).

In case you don’t know, let me tell you: ada hal yang disebut dalam lirik lagu Korea yang melatari dance di atas, yang menurut saya, juga melekat di diri Pascal. Tapi saya ragu apakah Pascal bisa (atau bersedia) menari selepas itu…[!?] *colek-colek! Bwahahaha!

06:16 am. Ah, untung saja Yuki sudah memesan nasi uduk pagi ini! #asyek ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: