Marginal
Comment 1

54.

Jakarta, 17:38 am.

Sesaat setelah saya membalas pesan itu via email—ya, semoga saja saya tidak ngegembel di London—Dhuha yang duduk di sebelah saya memutar lagu “Sombody That I Used To Know”-nya Gotye di YouTube. Saya dulu pertama kali mendengar lagu ini (dan memutarnya berkali-kali) justru karena melihat versi covernya di YouTube—saya tahu versi cover itu dari Harris. Di Papua, saya dan Gelar juga memutar video cover lagu itu berkali-kali di kala rehat dari kegiatan workshop.

“Now and then I think of when we were together; Like when you said you felt so happy you could die; Told myself that you were right for me.” Begitu lirik awalnya. Saya sedikit mengira Dhuha sedang merefleksi isi lagu ini. Tapi saya ingat bagaimana para lelaki di kosan saya yang dulu berseru dengan takjub ketika si perempuan di video di bawah ini mulai bernyanyi.

Kami—saya dan Dhuna—kembali geleng-geleng kepala (saya sambil berseru, “Nemu aja, nih, orang, lagu bagus!”) saat UTM meminta kami memutar lagu Kimbra, berjudul “Settle Down”. Sebelumnya saya sempat bilang ke Dhuha untuk memutar lagu “Bad Liar”-nya Selena Gomez. Bukan apa-apa, saya jadi mendengar lagu ini karena kebetulan beberapa hari lalu saya melihat video tari di bawah ini (beberapa teman saya ada yang selalu meledek dan mencemooh orang-orang yang mengidolakan K-Pop; tapi saya biasanya berujar kepada mereka, “C’mon, Bro! We’re talking about culture!”)

Pada video tari di atas, lihat gerakan kaki mereka pada detik 00:31-00:36 dan detik 00:43-00:45, lalu pada detik 00:52-00:54 gerakan badan mereka! Saya mengamati bagian-bagian itu berkali-kali. Keserempakan yang terasa sudah otomatis!

Di catatan yang terbit sebelumnya, saya mengatakan bahwa ada draf catatan yang awalnya diniatkan terbit lebih dulu, tapi urung saya terbitkan. Begitu juga dengan catatan ini, ada versi catatan yang semata saya tinggal sebagai draf dan batal untuk saya terbitkan (dan saya malah membuat versi yang sedang kau baca sekarang). Soalnya, saya sedang di tengah kondisi galau, apakah akan mengakhiri catatan-catatan macam ini (dengan kata lain, mengakhiri “Marginal”) atau tidak. Kau ingatkan, saya pernah mencatat bahwa seri si orang baru ini membuat kondisi saya menulis dalam posisi “diketahui”…(?) dan karenanya saya harus menimbang-nimbang akan menerbitkan catatan yang mana. Sudah ada dua draf yang batal terbit karena kesadaran saya akan risiko-risiko yang bisa muncul tanpa diduga di kemudian hari. [—Saya jadi teringat kejadian di Pekanbaru lalu, ketika salah seorang kawan, mau tak mau, terjebak di kondisi sulit karena cukup keliru mem-post sesuatu di Instagram stories-nya.]

Lagi pula, perlu saya akui bahwa saya memang tak jago “fisika” (bahkan, untuk memahami sinema pun, tulisan-tulisan Deleuze yang menggunakan logika fisika itu saja, belum tuntas saya baca karena saya justru “keblinger” dengan kalimat-kalimatnya.) Dan hukum [si] Pascal pun memang juga sulit saya mengerti.

Pasalnya, kerumitan di dalam kepala saya, setidaknya, tergambarkan di lirik lagu “Bad Liar” itu.

Tapi, setelah menyaksikan dan kemudian sedikit menelusuri secuil trivia “Settle Down”, saya tarik kata-kata saya yang menyatakan bahwa “Bad Liar” adalah representasi dari apa yang saya gelisahkan. Bwahahaha!

“Settle Down” barangkali adalah yang paling pas mewakili hasrat saya yang sebenarnya terhadap… [akan saya jelaskan lain waktu—jadi, catatan “Marginal” tak jadi pula saya tutup!]

Lihatlah gerakan tarian figur utama dalam video di bawah ini! [Masih mau membantah kalau berjoget itu tidak menyenangkan…?]

Bagas, teman saya di kampus dulu, sering menyampaikan kata-kata pamungkas ke junior-juniornya saat dia “bertingkah” memberi petuah. Di akhir petuahnya, dia selalu berkata: “Ngga semua yang lu denger itu bener!”. Apa yang akan kau pikirkan jika saya menulis rima yang sama: “Nggak semua yang lu baca itu bener!” [?]

Dan UTM pun sempat menyuruh kami mendengar lagu “The Tale” dari Meredith Monk. Dan lagi-lagi saya hanya bisa melongo menyimak referensi dari orang ini. [Kalau meminjam ekspresi Tyas, saya akan berseru, “Pakyu!”]

Sudah, Bor! Catatan kali ini cukup sampai di sini dulu, yes! Hahaha!***

This entry was posted in: Marginal

by

A researcher, critic and curator with 5+ years of experience in the field of media, arts and film. A member of Forum Lenteng, an egalitarian and non-profit organization based in Jakarta which focuses on cultural activism.

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.