a Jakarta-based film critic

56.

Lombok Utara, 04:53 pm.

Semakin saya menimbang-nimbang untuk menyudahi narasinya, makin kuat pula daya magnetis itu menjerat, bukan saja rasa penasaran, tapi juga perasaan saya sendiri—terjerat nyaris utuh; perasaan yang dengan sangat sadar dan rendah diri, saya akui, tidak pula penting dituliskan untuk kau baca. Tapi bukankah nyatanya memang cerita ini yang membangun rasa itu, Zikri…? Atau sebaliknya, rasa inilah yang jangan-jangan malah menjadi energi paling dominan bagi kemunculan catatan-catatan baru(?).

Saya bahkan merapalkan kembali kata-kata itu dua hari lalu: “Embarasa! Embarasa!”

*

Detik ini, bersama Gozali dan Pak Zul, saya berbincang tentang kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak ideal mengapresiasi bidang kesenian untuk masyarakat. Kami berbincang di atas berugaq kecil di bawah gerimis yang cukup berisik menerpa atap bambu yang berjarak 30 cm di atas kepala kami. Perbincangan itu menarik dan lucu, sebenarnya; tapi saya sedang terganggu oleh perasaan gundah yang samar-samar karena pikiran saya otomatis selalu mencuri-curi ingat “tos tinju” yang saya dapatkan darinya, dua puluh satu hari yang lalu, serta pesan-pesan yang bergulir dengan kurang lancar.

Saya tak bisa berbohong lagi (atau tak bisa mencari ujaran lain untuk mengalih-alihkan perhatian kita). Saya tengah jatuh hati, Kawan, pada ia yang sudah kita sepakati sejak beberapa minggu lalu menjadi subjek baru bagi catatan-catatan ini. Pada akhirnya, ini bukan hanya catatanku, tapi juga catatan untukmu. Mantra “embarasa” konon mengajarkan, walau ada kemungkinan gagal menjadi nyata, rasa harus (tetap) dikelola.

Ini semua adalah fragmen-fragmen kecil yang bisa kau gunakan sekadar untuk menerka-nerka.

Oh, iya! Paman saya bilang, selera dan gaya berujar saya masih sekelas “sinetron”. Catatan-catatan yang kau baca sejauh ini pun bisa jadi juga begitu.

Apa pun itu, udara Kerujuk (yang dingin dan berangin kencang di malam hari, tapi begitu terik pada pagi menjelang sore), ternyata berhasil memaksa saya untuk berhenti berkilah lagi. Saya lantas tak bisa tidak menerima tawaran untuk berendam di kali di balik taman-taman warga yang mengupayakan kebijakan duniawi. Di ujung sana, ibu-ibu dan gadis-gadis masih belum berhenti merendam diri. Kami harus menunggu giliran; saya pun menunggu pula diiringi kegelisahan di hati.

Handphone saya hampir saja terjatuh.

06.30 pm. Kini, di Lombok hingga tiga hari mendatang. Lalu, beberapa hari kemudian setelah tiba di Jakarta nanti, jika permohonan visa dikabulkan, perjalanan dilanjutkan ke Inggris selama seminggu.

Adakah mungkin kami akan sempat berbincang tentang Cerita Kulkas di sela-selanya…?

Sedangkan pesan-pesan via WhatsApp itu, hanya dibalasnya singkat-singkat saja.

Pukul 07:00 pm, di sisi barat daya dari lokasi bocah-bocah yang sedang menonton YouTube di tengah hamparan sawah kering, beberapa menit sebelum teman-teman Kopdar dari Gorontalo tampil ke hadapan warga Kerujuk, sambil menahan terpaan angin dingin senja, saya hanya baru bisa mengharapkan kemungkinan terjadinya pertemuan itu, pertemuan Cerita Kulkas (dan dunia-dunia utopia di bawah satu atap) sembari membayangkan senyumnya, juga mengingat bunyi nada medok Surabayanya.

Begitu merindunyakah saya…?!

10:02 pm. Pantomim di depan saya liris sekali… tentang mitos lokal. Tapi kegembiraan dan mood saya hanya berhasil terpicu menjadi baik (sedikit) oleh pertunjukan sebelumnya, yakni saat Three O Amphibi menyenandungkan kisah kepergian seseorang yang penting ke Cina sehingga membuat hati gerakan-gerakan yang sedang berlangsung di negeri siq siq o bungkuk ini sempat gundah, walau tak segulana saya. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: