58.

Jakarta, 07:07 pm.

Diskusi dengan Shai Heredia (India) dan May Adadol Ingawanij (Thailand, tapi kini berbasis di UK) berjalan dengan baik. Saya ternyata tak perlu menulis paper panjang, cukup memberikan teks singkat saja terkait rencana presentasi di sana. Yang menjadi PR ialah saya justru harus memikirkan masak-masak dan memilih film apa yang tepat dan layak untuk diperbincangkan di simposium itu.

Perbincangan via WhatsApp dengan Siba pun memberikan energi baru. Inisiatif yang mereka rencanakan untuk dua-tiga bulan ke depan—yaitu, berkenalan dengan para tetangga, khususnya kaum ibu—mewakili gagasan paling esensial dari gerakan perempuan (dan pemberdayaan perempuan) dalam bentuk apa pun. Tak ada yang lebih bijak dan berwibawa daripada niat untuk berkenalan secara mendalam, sedangkan gerak perlawanan yang menggebu-gebu dan banal (yang bahkan sering kali pula memicu terciptanya diskriminasi sekunder terhadap perempuan) tak masuk dalam kamus komplotan dari Kecamatan Pemenang ini.

Pengalamn di Kerujuk semakin meyakinkan saya bahwa menari adalah terapi paling jitu untuk mengobati hal-hal lainnya yang mengusik.

.

.

.

…dan rindu pada Kerujuk (dan orang-orang yang terlibat di pertemuan itu) adalah rindu yang lebih bijak daripada rindu-rindu yang lain. #asyek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: