59.

Jakarta, 01:55 am.

Ketika bibi bersabda dan legenda terkini menduga, di saat itulah saya berpikir kembali tentang selera. Tapi, anjuran-anjuran mutakhir meyakinkan saya bahwa yang termasygul pun sesungguhnya bukanlah masalah. 

Lantas saya berpikir, adakah baik jika kata-kata itu dilepaskan sebelum kaki menginjak eropa—Oh, ya! Visa saya tembus dan sudah dapat dipastikan saya akan ke London tanggal tiga—atau dibiarkan begitu saja…? Arah si pemegang pena, atau gagasan sahabat terdekat saya?

Ya…, paling tidak, catatan ini masih akan terus berlanjut. Kita lihat Minggu nanti, Goethe akan membuka jendela yang mana.

Yang paling saya harapkan ialah, semoga tiga bulan ini akan berlanjut terus dengan tiga bulan berikutnya, lalu tiga bulan berikutnya lagi, tiga bulan lagi, lagi, lagi, dan lagi, hingga kita urung mengurangi jumlah hari-hari yang bisa dilalui dengan menari.

Bukankah yang seperti itu lebih menarik…, Cal? Haha.

Ini hari ketika sejarah dipermainkan dan kemudian mewujud menjadi arena lanjutan bagi penyimpangsiuran darah-darah tradisi antara kau dan aku… 2 September lalu, kita berbincang lewat halaman-halaman narasi yang lain, memang; tapi itu mewakili kegelisahan semesta tentang kezaliman rezim 32 tahun itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: