a Jakarta-based film critic

all I want is nothing more…

63.

Jakarta, 00:44 am.

Katanya, kita bisa menemukan jiwa terbijak di lara kehidupan, di momen paling menyakitkan. Tapi, di dalam momen itu, juga ada hasrat kebencian yang berusaha menggoda kita untuk memilihnya. Kita hanya bisa memilih salah satu.

Saya tak bisa menentukan pilihan: “jiwa terbijak” atau “hasrat kebencian”. Yang jelas, kini saya hanya bisa merasakan sakit tak terkira dan keputusasaan tiada tara karena momen itu.

Hhh…! Kau biarkan Zikarumu terluka dan hancur, Heib!
Ingatlah bahwa lukanya tak akan pernah sembuh dan dirinya yang seutuhnya tak akan pernah pulih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: