Meninjau Empat dari Sejumlah Film karya Ellard dan Johnstone

AKTIVITAS LUX DIMULAI pada pukul 09:00. Saya tiba di sana pada pukul 10:00 dan langsung menunju meja kerja yang telah disediakan khusus untuk agenda penelitian saya selama lebih-kurang dua minggu ke depan. Tanpa menunda-nunda, saya langsung memeriksa sejumlah karya film dan video yang ada dalam database di situs web milik LUX. Saya menonton beberapa film yang dibuat oleh Graham Ellard dan Stephen Johnstone.

Sekitar tiga jam kemudian, Ben mendatangi saya untuk mengajak saya ikut serta berdiskusi dalam lokakarya yang tengah berjalan di ruang pertemuan LUX. Ini adalah agenda yang disebutkan oleh Ben kemarin, tentang kesempatan bagi saya memberikan presentasi singkat mengenai metode produksi gambar bergerak berbasis komunitas yang digiatkan oleh Forum Lenteng lewat program AKUMASSA sejak tahun 2008.

Meja kerja saya selama bekerja meneliti di kantor LUX.

Sebelum saya menarasikan peristiwa pada acara presentasi tersebut, berikut beberapa catatan singkat tentang beberapa film yang telah saya tinjau pada hari ini:

Film pertama yang saya tonton berjudul For An Open Campus (2015) karya Graham Ellard dan Stephen Johnstone. Film ini cukup menarik karena kesan pertama yang saya tangkap ialah kedua sutradara tersebut berbicara tentang form, dalam pengertian dasar yang berkaitan dengan disiplin senirupa. Kamera mengeksplorasi aspek arsitektural dari bangunan Aichi University of the Arts, Jepang, sekaligus juga bentuk interaksi subjek-subjek di situs tersebut.

Film kedua, oleh seniman yang sama, berjudul Machine on Black Ground (2009). Kesan pertama yang saya tangkap usai menontonnya adalah, duo seniman tersebut agaknya memang memiliki perhatian yang cukup kuat terhadap elemen-elemen dasar senirupa: titik, garis, bidang, ruang, dll. Elemen-elemen itu dijelajahi pada gambar-gambar hasil tangkapan kamera terhadap situasi dan kondisi lingkungan yang direkam. Film ini juga menggunakan materi arsip.

Tampilan database di situs web LUX dengan kategori spesifik. Kata kunci “Human Body” menjadi titik berangkat saya untuk menelusuri film-film yang dikoleksi oleh LUX.

Setelah meninjau dua film berikutnya, yang berjudul Proposal for an Unmade Film (Set in the Future) (2017) dan Things To Come (2011), semakin jelas terlihat bahwa fokus kedua seniman ini memanglah terhadap konstruksi visual dengan basis senirupa, bukan pada konstruksi yang bersifat naratif. Hal itu juga terwakilkan dalam pernyataan Stephen Johnston dalam salah satu wawancara yang diterbitkan oleh LUX (sebagaimana saya terjemahkan di bawah ini):

“…berkaitan dengan kemungkinan bagiamana Anda memunculkan kesan gerakan atau pengembangan tanpa naratif, yaitu dengan bergerak dari satu citra ke citra lainnya melalui sesuatu yang visual atau sebuah pergerakan di dalam citra itu sendiri.”

“Kami perlu menjelaskan bahwa semua yang kami lakukan didorong secara visual. Jadi, salah satu hal yang seketika terpikirkan oleh kami saat melihat materi temuan untuk ‘Machine on Black Ground’ adalah koneksi visual antara baling-baling helikopter saat terbang di atas katedral, setelah menjatuhkan paku di tempat itu, dan gulungan kaset Tangerine Dream yang muncul sepanjang Coventry Cathedral dalam video mixing yang sedikit fantastis karya Tony Palmer. Jadi, awal dan akhir dari film ini memiliki bentuk yang ‘memutar’ dan ‘muncul’ itu.”

Pernyataan tersebut mengindikasikan bagaimana metode atau kerangka berpikir yang melatarbelakangi pengonstruksian dari film-film tersebut, bahwa kesalingsinambungan antara satu citra dengan citra yang lain, di dalam konstruksi utuh karya-karya mereka, disusun atas dasar pertimbangan visual daripada isi yang sifatnya naratif. Things to Come mengindikasikan ranah perhatian kedua seniman tersebut dengan lebih jelas: bagaimana konstruksi karya milik duo seniman ini ditentukan oleh kesinambungan dan nuansa/impresi rupa dari objek-objek yang ditangkap ke dalam bingkai film.

Empat film karya Graham Ellard dan Stephen Johnstone yang saya tonton hari ini menjadi temuan awal yang cukup relevan dengan visi kuratorial saya yang mencoba melihat metode kerja pengonstruksian ‘dramatika’ dan ‘gramatika’ film yang secara utuh dan tegas berbasis pada visual dan mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan naratif. ***


Klik di sini untuk kembali ke halaman utama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: