Presentasi di Seminar Pengembangan Proyek Film

MASIH PADA HARI yang sama, yakni Rabu, 30 Mei 2018, sekitar pukul satu siang, Ben mendatangi saya yang tengah asik memeriksa beberapa film Graham Ellard dan Stephen Johnstone. Ia memberitahukan bahwa sesi diskusi di mana saya menjadi speaker (atau pemicu topik) akan segera dimulai. Seperti yang sudah kami sepakati kemarin, sesi acara ini dimaksudkan sebagai agenda presentasi yang saya ajukan di dalam proposal penelitian kuratorial Vaulting the Oceans.

Kegiatan yang saya ikuti tersebut merupakan sebuah seminar dalam bentuk diskusi kecil (roundtable) yang diadakan dan difasilitasi oleh LUX, tentang proyek pengembangan film. Para partisipan yang terlibat dalam seminar itu adalah sejumlah seniman yang merupakan mahasiswa pascasarjana dari MA Artists’ Film and Moving Image, Goldsmiths, University of London. Para mahasiswa yang tengah mengikuti seminar itu, antara lain berasal dari Australia, Korea Selatan, Thailand, Lithuania, Jerman, Palestina, dan Inggris. Pada kesempatan itu, selain Ben, hadir juga Jacqui Davies, seorang produser film yang juga pernah berkolaborasi dengan Ben Rivers dan Apichatpong Weerasethakul, yang bertindak sebagai salah satu pemateri. Ben meminta saya untuk mempresentasikan Program AKUMASSA Forum Lenteng dalam kaitannya dengan perbincangan mengenai ragam metodologi pengembangan atau produksi film.

Pada kesempatan tersebut, saya menjelaskan akar pemikiran dan awal gerakan lokakarya video yang dilakukan oleh Forum Lenteng sejak tahun 2003 lewat Massroom Project, dan bagaimana gagasan tentang video dokumenter itu dikembangkan secara eksperimental dalam Program AKUMASSA. Saya berangkat dari gagasan mengenai “kerja kolektif” dan falsafah “gotong-royong”. Bahwa, prinsip-prinsip kerja sama dalam falsafah gotong-royong yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Timur, khususnya Indonesia, bisa menjadi cara alternatif untuk menyiasati kendala-kendala produksi film, misalnya kendala biaya dan fasilitas. Lewat eksperimen dalam bentuk lokakarya itu, AKUMASSA juga mengembangkan sebuah gaya artikulasi visual—dengan aturan-aturan artistik dan estetika yang disepakati secara bersama-sama.

Dalam konteks estetika video AKUMASSA, “subjektivitas sutradara” direduksi dan otoritas kepengarangan dialihkan dalam kerja kolektif (kolaborasi partisipatoris). Bidikan-bidikan gambar yang diambil ialah harus beartikulasi “kesetaraan”, dalam arti sederhananya, tidak mengobjektivikasi subjek yang direkam. Hal ini dapat dicapai dengan ketentuan pengambilan gambar yang eye-level, secara umum menggunakan static shot, dan pembingkaian terhadap isu yang terjadi di lokasi perekaman didapatkan lewat pendekatan yang induktif. Para pembuat menyeleksi persoalan berdasarkan apa yang terekam ke dalam footage-footage yang didapatkan selama proses observasi di lapangan. Metode pengambilan dan penyuntingan gambar menjadi karya video ini, oleh Forum Lenteng disebut sebagai “teknifikasi akumassa”.

Pada presentasi itu, saya juga menyinggung soal mekanisme produksi, distribusi, dan pengarsipan yang dilakukan oleh sejumlah komunitas yang telah tergabung dalam jaringan Program AKUMASSA. Arsip dikelola bersama-sama secara terbuka, dan antar satu komunitas dengan komunitas yang lain dapat saling berbagi materi, konten, dan arsip. Inisiatif ini menjadi strategi untuk memudahkan akses dan produksi karya.

Sebagai penutup presentasi saya, saya menampilkan salah satu karya video AKUMASSA yang pernah dilakukan oleh Forum Lenteng di Tangerang Selatan, berkolaborasi dengan Komunitas Djuanda, pada tahun 2009. Video tersebut berjudul Apel Malam (atau Night Shift).

Penjelasan saya tentang “teknifikasi akumassa” menjadi aspek yang menarik perhatian partisipan seminar. Terutama, ialah mengenai output karya yang pada kenyataannya dapat menyajikan suatu konstruksi visual yang berbeda daripada gaya dokumenter jurnalistik. Sejumlah partisipan menilai bahwa inti “eksperimental” dari AKUMASSA justru terletak pada usaha menransformasi gagasan “gotong-royong” menjadi “bahasa visual” tersebut.

Ben sempat bertanya kepada saya tentang posisi AKUMASSA terhadap isu-isu yang dibingkai dan dikritisi ke dalam video dokumenter; ia juga bertanya tentang bagaimana tanggapan para subjek yang berhubungan dengan isu yang diangkat menjadi “video dokumenter akumassa”. Menanggapi hal itu, saya menjelaskan tentang pengetahuan literasi media yang menjadi basis pemikiran dan praktik AKUMASSA. Sebagai suatu metode yang juga aplikatif dalam kerja-kerja pemberdayaan, AKUMASSA mendorong warga untuk mau memproduksi informasinya sendiri secara independen, berangkat dari pengalaman mereka sehari-hari. Aksi AKUMASSA dalam produksi video dokumenter bukanlah dalam rangka untuk mengkritisi para subjek, tetapi justru mendorong subjek untuk berbicara sendiri mengenai aktivitas dan perilakunya sehari-hari, atau tentang situasi dan kondisi lingkungan terdekat mereka. Karya-karya video AKUMASSA, dengan kata lain, menjadi cermin otokritik yang dibuat dan diperuntukkan oleh warga itu sendiri.

Beberapa partisipan juga bertanya tentang manajemen organisasional dari komunitas. Salah seorang—yang tak sempat saya catat namanya—tertarik dengan strategi Forum Lenteng dalam mengelola jaringan komunitas AKUMASSA. Menjawab pertanyaan itu, saya menjelaskan bahwa visi utama dari AKUMASSA sesungguhnya bukanlah semata karya video dokumenter, tetapi pembangunan “media center” yang bersifat lokal, yang dikelola oleh warga setempat. Untuk mencapai tujuan itu, Forum Lenteng dan komunitas yang bersangkutan menjaga korespondensi—dalam satu periode tertentu, sekitar satu hingga dua tahun, Forum Lenteng melakukan semacam pendampingan organisasional terhadap komunitas yang telah mengikuti lokakarya AKUMASSA, dan juga menerapkan program upgrading untuk meningkatkan kemampuan dan wawasan para “alumni lokakarya”. Dengan kata lain, kolaborasi tidak berhenti saat lokakarya selesai. Setiap komunitas yang terlibat di AKUMASSA juga berhak mengakses materi-materi yang dikoleksi oleh Forum Lenteng secara gratis sehingga dapat dikelola sebagai bahan produksi pengetahuan mereka. Berbagai output yang dihasilkan atau dikembangkan oleh Forum Lenteng dalam program ini juga didistribusikan ke semua komunitas secara cuma-cuma sehingga hubungan intelektual dapat terjaga. Hubungan ini lebih berbentuk hubungan pertemanan-kekeluargaan ketimbang hubungan formal organisasi.

Saya kira, diskusi antara saya dan partisipan seminar hari ini cukup membuka kerangka berpikir tentang pendekatan berbasis komunitas dalam rangka produksi film, yang kiranya bisa menjadi opsi alternatif bagi para partisipan tentang metode produksi film di luar gaya arus utama.

Presentasi dan diskusi tersebut berlangsung lebih kurang satu setengah jam. Sesi saya sekaligus menjadi penutup kegiatan seminar bersama mahasiswa pascasarjana itu. ***


Catatan: Karena kendala teknis, dan karena kegiatan tersebut berlangsung dengan begitu cair, baik saya maupun pihak LUX tidak mengambil dokumentasi foto dari acara tersebut.


Klik di sini untuk kembali ke halaman utama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: