a Jakarta-based film critic

Dari sebuah sajak yang saya baca tadi pagi

Teks ini ditulis pada pagi hari, 3 Agustus 2017, pukul 09:55. Kira-kira lima menit yang lalu, saya berbagi cerita kepada Asti yang baru saja datang dari rumahnya ke sini, markas Forum Lenteng. Saya sedang duduk di depan meja panjang, di teras belakang, bersiap-siap menghadap layar laptop untuk mengetik… apa saja yang ingin diketik.

“Gue dapet sajak bagus!” saya berseru.

“Apaan?!” Asti menanggapi.

Saya membuka buku Arundhati Roy, The Ministry of Utmost Happiness, sebuah buku yang saya pilih untuk dibaca dalam beberapa waktu ke depan. Buku terbitan Penguin Books itu kebetulan saya beli dengan uang sisa perjalanan ke London dua bulan lalu (28 Mei – 13 Juni), di salah satu toko buku di bandara Heathrow, ketika akan pulang ke Jakarta. Setelah menemukan sajak yang saya maksud, di halaman ke-44 buku itu, saya menyodorkannya kepada Asti—dia cukup antusias.

Melafalkannya dengan bibir yang bergerak tanpa suara, dia membaca sajak itu, yang tertulis begini:

Fisey ishq ka tiir kaari lage
Usey zindagi kyuun na bhari lage

For one struck down by Cupid’s bow
Life becomes burdensome, isn’t that so?

‘Gara-gara satu hujaman panah Dewa Asmara, hidup jadi memberatkan, bukankah begitu?’ celetuk Wali Dakhani, si Penyair Cinta (dan disebut-sebut sebagai Bapak-nya puisi Urdu), lewat salah satu ghazal-nya.

Menurut pendapat saya pribadi, sajak itu pastinya bisa menyentuh perasaan siapa pun terkait pengalaman-pengalaman yang dirasa “memberatkan”, terutama soal asmara. (Anjaaay…!). Tapi, yang justru lebih memancing decak kagum saya secara pribadi ialah, sajak yang dikutip Roy tersebut bukan hanya mengingatkan kita untuk segera menyadarkan diri dari kemurungan yang sia-sia, tetapi juga menambahkan satu informasi lain: orang-orang yang memiliki pikiran kultural, seperti Roy ataupun Wali, mempunyai ketangguhan yang khas dalam menawar luka kemanusiaan. Dalam waktu yang bersamaan, mereka memiliki kebijaksanaan yang sungguh memukau dalam memaknai luka itu, yaitu dengan menarik satu atau lebih konteks persoalan sejarah dan geopolitik, sehingga luka yang mereka coba maknai kemudian menjadi cermin bagi kita dalam mengoreksi ketidakadilan global. Saya jadi teringat cerita Otty tentang ketangguhan dan kebijaksanaan yang sama, yang juga ada di dalam diri orang-orang seperti Nina Simone dan (yang lebih kini) Erykah Badu. Semuanya tiba-tiba menjadi saling terkait, persis seperti pepatah Lulus Gita: yang perlu kita lakukan adalah connecting the dots.

Meskipun saya belum tuntas membaca novel kedua dari si penulis The God of Small Things (1996) yang terkenal ini (dan saya malah belum membaca sama sekali novelnya yang pertama), saya sudah bisa menduga-duga rasa dari “modus kecanggihan sastrawi” yang konon, oleh para pengamat sastra, sering dilekatkan pada Roy saat menganalisa karya dari pemenang Man Booker Prize for Fiction ini: gaya tuturnya sangat khas karena sarat komedi sekaligus tragedi; novel Roy dengan unik menggunakan bahasa Inggris yang dikonstruk lewat logika si pengarangnya sendiri (bukan sebagaimana logika literatur Inggris lainnya—saya mendengar tentang hal ini dari Otty, tapi jujur, saya belum terlalu memahami konteks tersebut). Roy juga sering menyematkan sejumlah adegan penanda terkait isu-isu atau peristiwa-peristiwa aktual yang lebih luas cakrawalanya daripada dunia di dalam latar cerita yang ia ciptakan (—yang ini selalu menjadi karakteristik para pengarang besar, tentu saja). Semua aspek itu dirangkai Roy lewat kalimat-kalimat yang luar biasa tampil sederhana, bukan dengan kalimat-kalimat yang keindahan permainan kata-katanya dilebih-lebihkan sebagaimana gaya penceritaan yang kita temukan di dalam tetralogi Laskar Pelangi.

Sajak Wali yang Roy kutip itu, sebagai contoh, hadir di dalam cerita, tentunya, bukan asal kutip hanya karena kata-katanya indah atau menarik. Seperti yang bisa kita telusuri, Urdu adalah salah satu bahasa resmi Pakistan, negara yang bersiteru dengan India. Ahmedabad adalah kota terbesar (dan ibukota di masa lampau) Gujarat, lokasi di mana Wali menutup usia. Tahun 2002, di Gujarat terjadi kerusuhan besar—sering diistilahkan sebagai peristiwa Godhra train burning. Di dalam ceritanya, Roy menyebut bahwa Gujarat adalah kota yang dikunjungi Anjum (tokoh di dalam cerita) setelah perjalanannya ke Ajmer, kota kelahiran Jahanara Begum (salah satu putri Kerajaan Mughal)—menariknya, ibu Anjum juga bernama Jahanara Begum. Tapi Roy juga sempat mengaitkan latar cerita tersebut dengan peristiwa penyerangan 11 September 2001 di New York yang memicu fear of terrorism, meningkatkan sentimen keagamaan secara global; dengan menyinggung ini, Roy seakan menawarkan refleksi bahwa jangan-jangan, kerusuhan global memang terjadi karena dramatization of evil (model teoretik yang dicetuskan oleh Frank Tannenbaum, Bapaknya Teori Labeling, dalam menjelaskan sebab-musabab terjadinya peristiwa kejahatan, yang dari segi tertentu ternyata dipicu oleh psikologi massa. Istilah ini sering saya dengar di masa kuliah Kriminologi di UI dulu).

Dapat kita lihat, dengan kata lain, ada keterkaitan peristiwa sejarah dan geopolitik kontemporer yang signifikan, yang Roy rekam sebagai latar kisah di novelnya ini.

Mengingat bahwa cerita Roy, sejauh bab yang sudah saya baca, adalah tentahg Hijra—transgender—yang mengafirmasi kehidupan, kutipan sajak Wali di situ seakan menjadi sebuah celah tipis bekas sayatan tajam di atas helaian sutra; yang disayat dengan kesadaran penuh oleh orang-orang marjinal yang berjuang dalam suatu pergumulan yang esensinya, sepertinya, tak akan pernah dapat kita— “orang-orang bukan marjinal”—pahami dengan utuh jika kita tidak berhasil meletakkan diri dalam suatu mode empatik paling tinggi dari yang tertinggi.

“…hidup jadi berat, bukankah begitu?!”

Ya, memang benar-benar berat tatkala kita hanya berpangku-harap pada keajaiban mitos-mitos dan lupa merasakan pengalaman paling nyata. Saya pun rasa-rasanya jadi agak paham, bahwa orang-orang marjinal-lah yang paling mengerti dan paling bijak menyikapi kejamnya kehidupan karena mereka begitu terlatih—karena sepanjang hidupnya—mempelajari kenyataan dunia kita yang sebenarnya, tanpa henti sedetik pun. Beratnya hidup bukan lagi persoalan yang berat buat mereka. Sedangkan bagi kita, para mayoritas, yang kerap kali lupa dengan polemik dunia, biasanya hanya berharap tanpa juang, dan semata manut-manut saja dengan keadaan, serta mengeluh-kesah jauh lebih sering daripada mereka yang berhak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: