Imajinasi Warna dalam Meng-“Ada”-kan yang Di-“Tiada”-kan

Kesadaran interpretasi “antropologis” atas Lewat Djam Malam menjadi poin dari studi yang dilakukan oleh Milisifilem Collective, yaitu upaya untuk menganalisa visual dari ruang-ruang interior dan eksterior pada bangunan intrinsiknya.

Esai ini saya tulis tanggal 17 November 2018 sebagai pengantar kuratorial Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” (18 – 24 November 2018) di Forum Lenteng, Jakarta.

Image diambil dari sini.

Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail dianggap sebagai film klasik Indonesia yang mengandung konteks sejarah penting tentang perebutan kepentingan antara hak-hak sipil dan otoritas militer dalam sebuah periode pascarevoulsi Indonesia; selain juga mewakili aktivisme sinema yang mengkritisi dinamika industri perfilman pada masa itu, karena orientasi Usmar yang menjadikan film sebagai sarana ekspresi, baik dalam konteks estetika (seni) maupun pandangan sosial-politiknya.[1] Sementara itu, oleh Karl G. Heider, film ini dinilai sebagai salah satu karya yang mengandung ide individualisme, tetapi dilengkapi dengan suatu kesadaran yang memadukan identitas nasional (keindonesiaan) dalam konstruksi sinema.[2]

Kita dapat memahami bahwa film bisa memainkan fungsinya sebagai “ruang antropologis”, yang melaluinya kita mempelajari perilaku, pola hidup, dan psikologi masyarakat.

The Future of Visual Anthropology (2005) karya Sarah Pink adalah salah satu bacaan penting untuk memahami esensi dari antropologi visual. Gambar sampul didapat dari sini.

Dalam sejarah perkembangan sinema di Indonesia, saya menganggap bahwa Lewat Djam Malam adalah salah satu referensi penting untuk memahami bagaimana unsur dramatik di dalam film dapat dibangun lewat konstruksi gambar (yakni, melalui montase). Hal itu dapat kita temukan, misalnya, pada adegan ketika Iskandar, tokoh utama di dalam film ini, berusaha menghindari kejaran tentara saat malam hari di waktu yang melebihi batas “jam malam” —suatu peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah dalam rangka menertibkan masyarakat. Sementara itu, Norma, kekasihnya, beberapa kali merasa kehilangan sosok Iskandar. Usmar membangun tegangan dalam adegan itu dengan memasukkan sejumlah shot dari adegan pesta yang berlangsung di rumah Norma. Jukstaposisi gambar yang saling berganti satu sama lain, tapi sekaligus juga saling menegaskan, dalam montase yang ritmis, antara shot-shot Iskandar yang sedang berlari dan shot-shot orang-orang yang berdansa di dalam pesta, adalah contoh bagaimana unsur dramatik sebenarnya dapat dibangun melalui bahasa sinematik yang lebih menekankan visual daripada sekadar unsur naratif belaka. Dalam pendekatan yang lain, Usmar juga menghadirkan bingkaian sinematik yang bermain dengan kompleksitas ruang (interior) dan eksterior yang sangat puitik. Kita bisa melihat contohnya pada adegan-adegan ketika Iskandar berada di rumah Laila, seorang tokoh perempuan yang diceritakan terjebak dalam prostitusi sembari memupuk mimpinya untuk bisa menjadi perempuan kelas atas; atau pada adegan kilas-balik ketika ia mengeksekusi warga yang dituduh sebagai mata-mata musuh di dalam hutan.

Kompleksitas ruang di rumah Dahlia; salah satu adegan Lewat Djam Malam.

Iskandar mengeksekusi warga yang dituduh sebagai mata-mata musuh; salah satu adegan dalam Lewat Djam Malam.

Berkaitan dengan luasnya khasanah visual dan eksplorasi gaya ungkap yang dimiliki Usmar untuk mengonstruksi kisah Iskandar dalam Lewat Djam Malam, film ini (sebagaimana film-film lain) tentunya juga “merekam” referensi-referensi yang berhubungan dengan latar sosio-ekonomi masyarakat di era tertentu, apakah itu merujuk pada era masyarakat di kehidupan riil pada masa film itu dibuat, ataupun era kehidupan masyarakat dalam konteks realitas naratif yang dibingkai dalam film (yaitu: dunia fiksi yang dikarang oleh sutradara). Jika menganalisanya dari sisi ini, kita dapat memahami bahwa film bisa memainkan fungsinya sebagai “ruang antropologis”, yang melaluinya kita mempelajari perilaku, pola hidup, dan psikologi masyarakat. Kesadaran dalam menginterpretasi konteks “antropologis” dari narasi Lewat Djam Malam itulah yang kemudian menjadi poin dari studi yang dilakukan oleh Milisifilem Collective, yaitu upaya untuk menganalisa visual dari ruang-ruang interior dan eksterior pada bangunan intrinsik Lewat Djam Malam.

Partisipan Milisifilem Collective berfoto bersama saat acara pembukaan Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” di Forum Lenteng, 18 November 2018. (Foto: Andang Kelana.)

Manshur Zikri, Pensil Warna Lewat Djam Malam (Seri Part I, No. 1 – 10). 2018. Medium: pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm. Tampilan dalam Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” di Forum Lenteng, 18-24 November 2018. (Foto: Forum Lenteng).

Praktik yang dilakukan oleh Milisifilem Collective adalah, masing-masing partisipan menginterpretasi sepuluh hingga limabelas adegan dalam Lewat Djam Malam, yang mereka pilih berdasarkan selera masing-masing. Adegan-adegan itu kemudian digambar ke atas kertas berukuran A4 dengan format portrait (vertikal), menggunakan pensil warna. Interpretasi yang dilakukan oleh 12 orang anggota Milisifilem Collective yang berpartisipasi pada pameran ini, tidak hanya berkutat pada persoalan tentang bagaimana cara Usmar membingkai sebuah latar atau menata suatu dramaturgi untuk kepentingan adegan, tetapi juga ke wilayah-wilayah yang lebih detail, seperti kehadiran objek-objek yang dipilih Usmar sebagai elemen-elemen artistik dalam membangun atmosfer tertentu dalam shot-shot yang ia konstruk menjadi adegan.

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 01 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 02 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 03 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 04 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 05 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 06 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 07 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 08 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 09 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Manshur Zikri, 2018, “Pensil Warna Lewat Djam Malam” No. 10 (pensil warna di atas kertas, 210 x 297 mm)

Dalam prosesnya, para partisipan seolah-olah melakukan tindakan zooming, baik itu yang bersifat zooming-in (yaitu melakukan pembesaran terhadap satu bidang/elemen tertentu dari sebuah shot untuk menelaah bentuknya lebih jauh ke dalam gambar yang dibuat), maupun yang bersifat zooming-out (yaitu melakukan perluasan terhadap keseluruhan isi dari shot-shot yang mereka pilih sebagai image, untuk kemudian digambar, demi mencapai area imajinatif yang dimungkinkan dari shot-shot tersebut).

Aspek “kehadiran” dan “ketidakhadiran”, atau “ada” dan “tidak ada”, menjadi permainan tanda yang berorientasi pada aspek kemanusiaan.

Suasana persiapan Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?”. (Foto: Forum Lenteng).

Imajinasi partisipan, ketika menerjemahkan realitas filemis milik Usmar di film Lewat Djam Malam, menjadi sangat penting. Terlebih lagi, interpretasi tersebut dilakukan terhadap sebuah film hitam-putih; adegan-adegan hitam-putih itu digambar ulang ke atas kertas dengan medium berwarna. Dengan kata lain, dapat kita lihat bahwa di dalam gambar-gambar yang dipamerkan ini, terdapat persoalan “konteks warna”, yang mana kehadirannya di atas kertas sesungguhnya bergantung pada kemampuan berimajinasi dan keputusan-keputusan subjektif para partisipan ketika mereka melakukan proses menggambar adegan-adegan pilihan tersebut. Di dalam Lewat Djam Malam, tidak ada rujukan historis mengenai warna benda-benda (atau konsepsi warna yang khas) tahun 1950-an sehingga para partisipan mau tidak mau harus membangun dan mengartikulasikan sejarah warna mereka sendiri. Referensi visual (khususnya, referensi warna) milik para partisipan yang hidup di zaman ketika situasi bermedia telah berbeda sama sekali dengan zaman ketika Usmar aktif memproduksi film, pada akhirnya, akan memperkaya kemungkinan dalam memahami film Lewat Djam Malam sesuai kebutuhan mata masyarakat penonton Indonesia kontemporer. Pada tahap itu, produksi makna terhadap latar sosio-ekonomi masyarakat yang dibingkai oleh Usmar menemukan kontekstualisasi baru.

Selain itu, jika kita mencoba menyinggung bingkaian kuratorial pameran ini, kita bisa menyadari bahwa pada semua gambar, sosok-sosok manusia dan/atau konsepsi tentang kehadiran manusia dengan sengaja ditiadakan; para partisipan fokus pada objek-objek visual selain manusia. Hal ini seakan menggaungkan kembali ide cerita Lewat Djam Malam yang memancing penonton untuk meresapi suatu kegamangan yang menekan, tentang kehadiran dan ketidakhadiran protagonis di tengah-tengah konflik antara pemberlakuan suatu peraturan ketertiban dari otoritas pemerintah, tuntutan asmara, dan polemik domestik, serta benturan antara pola hidup masyarakat modern yang sarat praktik korupsi dengan konflik batin tokoh utama yang sifatnya sangat personal, bahkan mengarah ke persoalan moral.

Menurut saya, aspek “kehadiran” dan “ketidakhadiran”, atau “ada” dan “tidak ada” ini menjadi permainan tanda yang berorientasi pada aspek kemanusiaan. Sebagai suatu ungkaian dan ekspresi estetik, seni mengutamakan rasionalitas subjektif seniman dalam memilah hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan hingga menjadi bagian dari stand point karyanya. Eksperimentasi visual tentang kemanusiaan bisa dilakukan, salah satunya, dengan meniadakan figur manusia dalam konstruksi visual. Konsepsi “ada”, dalam konteks tersebut, justru ditegaskan oleh “ketidak-ada-an”.

Seri karya pensil warna untuk Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” – Dhanurendra Pandji (kiri) – Manshur Zikri (tengah) – dan Anggraeni Widhiasih (kanan) – 2018

Seri karya pensil warna untuk Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” – Dhuha Ramadhani (bawah) – Afrian Purnama (atas) – 2018

Seri karya pensil warna untuk Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” – Maria Christina Silalahi (bawah) – Luthfan Nur Rochman (atas) – 2018

Seri karya pensil warna untuk Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” – Pingkan (kiri) – Yuki Aditya (kanan atas) – dan Prashasti Wilujeng Putri (kanan bawah) – 2018

Seri karya pensil warna untuk Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” – Robby Ocktavian – 2018

Seri karya pensil warna untuk Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” – Wahyu Budiman Dasta – 2018

Sehubungan dengan praktik kekaryaan, interpretasi subjektif semacam itu, dalam proses produksi Pameran Drawing “Apa Kau Lihat Iskandar?” ini, juga menegaskan kembali ide tentang esensi kesenimanan. Bahwa, keputusan-keputusan untuk memilih objek mana yang akan digambar, entah itu untuk didetailkan, dideformasi, dipiuh, ataupun dihilangkan, adalah “keputusan seni”. Jika kita menyepakatai bahwa Usmar memang berangkat dari pendekatan individualistik (Barat) tapi secara jenial memadukannya dengan kepentingan nasionalisme (Indonesia) sebagai bumbu konstruksi Lewat Djam Malam, pertanyaan “Apa kau lihat Iskandar?” dalam hal ini menjadi suatu model pertanyaan dalam rangka mendekati kemungkinan-kemungkinan subjektif para partisipan demi mengonstruksi ekspresi yang serupa tapi dalam konteks karya drawing. Pertanyaan itu juga sekaligus menjadi ujaran pengantar untuk mengajak para penikmat karya mengalami kegamangan antara apa yang “ada/hadir” dan “tiada/tidak-hadir” tersebut.

 

End Notes

[1] Hal ini merujuk pada pendapat JB Kristanto, yang dikutip oleh Lusiana Indriasari (5 Juni 2012), “”Lewat Djam Malam” Bisa Ditonton 21 Juni”, diakses dari situs web Kompas (https://goo.gl/Q6fquw) tanggal 17 November 2018, pukul 19:13 WIB. Informasi ini juga tercantum dalam Wikipedia Bahasa Inggris.

[2] Karl G. Heider (1991), Indonesian Cinema: National Culture on Screen, Honolulu, University of Hawaii Press, hal. 130-131.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: