hari pertama 2019

Pagi tadi, di sudut meja kecil depan kulkas, di dapur, masih tergeletak sepiring daun singkong dan setengah mangkuk sambal matah ala Minang—yang tanpa rawit itu; sisa jamuan makan malam dua jam menjelang tahun baru. Saya bersyukur, saya tidak baper pagi ini melihat sambal matah yang sudah basi itu karena sempat memakannya sekali lagi dengan nasi, sepotong ayam, dan tahu yang tersisa, di penghujung acara dini hari tadi.

Semalam, sepuluh menit sebelum kegaduhan terompet dan kembang api terdengar, hujan gerimis mulai membasahi jalan paving block di depan markas kami—yang berseberangan dengan rumah Hafiz dan Otty—dan ketika semakin deras maka rencana kami untuk berjalan-jalan ke jembatan penyeberangan di dekat McDonald’s di Jalan TB. Simatupang, Tanjung Barat, terpaksa urung dilakukan. Dengan kata lain, di malam tahun baru, kami tidak ke mana-mana, tapi gotong-royong bakar ikan, cumi, udang, dan ayam kemarin sore—yang cukup seru dan berhasil mengobati kegaringan 31 Desember tahun lalu—telah mengisi linimasa dan kanal story akun media sosial kami masing-masing. Perayaan tahun baru kemarin memang tidak mengadakan screening karya Milisifilem Collective; makan malam yang justru jadi acara utama meskipun orang-orang yang hadir tak sanggup menghabiskan semua makanan yang konon dimasak dengan “semangat kebudayaan”.

Setelah acara makan malam selesai, saat menikmati detik-detik pergantian tahun dengan ditemani tiga botol dan tiga kaleng bir, sebotol cognac, dan dua botol soda, lima orang dari kami justru asyik memperhatikan Hafiz melukis di atas ‘karton board’ menggunakan oil pastel.

Sembari ia mengolah warna dengan oil pastel milik saya, Hafiz sekali dua kali berujar bahwa sudah lama ia tak menggunakan oil pastel. Bagi kami—orang-orang yang menjadi partisipan Milisifilem Collective—memperhatikan Hafiz menggunakan oil pastel adalah kegiatan yang mengasyikkan. Setidaknya, bagi saya sendiri, karena saya bisa belajar metode lainnya dalam menaklukkan material tersebut. Sejak platform Milisifilem Collective digalakkan, markas kami kini seakan berubah menjadi Persagi.

Lukisan pertama yang dibuat Hafiz adalah interior ruang tengah dan meja makan markas kami, yang kedua adalah potret Otty, istrinya. Peristiwa itu melengkapi keseruan malam tahun baru yang sederhana, hangat, dan tidak menjemukan, ditambah dengan makan malam yang lezat dan melimpah.

Hafiz (kiri) memberikan lukisan yang ia buat di malam tahun baru 2019 sebagai hadiah kepada Onyong (kanan), salah seorang pegiat budaya dari Pemenang, Lombok Utara. (Foto: Manshur Zikri).

Hafiz membuat dua karya oil pastel dalam waktu semalam. Otty juga begitu, bisa membuat tiga bahkan hingga lima gambar dalam satu hari. Sedangkan saya, saya bisa menghabiskan waktu seharian untuk membuat satu karya oil pastel saja, kadang itu tak cukup. Waktu Onyong berkata, “Kok bisa, ya, Heib? Keren!”, saya menanggapinya: “Tangannya beda, Heib! Jam terbangnya juga.”

Hafiz dan karya oil pastelnya, Kekasih (2018), berupa potret Otty Widasari, istrinya. (Foto: Otty Widasari).


Siang ini, di tengah-tengah proses penulisan catatan ini, Ule sedang menggoreng kentang sementara Robby—sambil menyandang handuk di bahunya—menuangkan saus tomat ke atas piring, beberapa saat setelah saya bertanya apakah yang digoreng itu adalah chicken nugget. Ufik barangkali sedang mandi detik ini, sedangkan Dini sudah menggotong kertas ukuran A0 miliknya ke ruang tengah, melanjutkan gambarnya yang belum selesai. Onyong masih tidur di kamar di lantai atas. Dhuha tak terlihat batang hidungnya, mungkin dia masih mendengkur atau bermain game di studio Visual Jalanan. Akhir-akhir ini, Dhuha terlihat kecanduan game online; rutinitas barunya itu sudah membuat kesal satu-dua orang—bukan saya.

Ijul—kami jadian tanggal 16 Desember—berencana akan datang siang ini untuk melanjutkan sketsa-sketsa tinta cinanya yang belum juga selesai sejak dimulainya beberapa hari lalu. Lusa, tanggal 3, semua tugas Milisifilem Collective, Kelas Anggrek (angkatan ke-3) harus dikumpulkan. Semuanya sudah harus tuntas karena tanggal 7 kami akan fokus pada acara Akademi ARKIPEL.

Ucapan selamat tahun baru yang sedikit mewakili kegelisahan saya sekarang ini, terkait kondisi setahun ke depan, adalah kalimat Hafiz di grup WhatsApp: “Selamat tahun baru…. Semoga kerjaannya tahun depan tambah banyak.” Saya gelisah bukan karena “pekerjaan yang [selalu dan semakin] banyak” itu, tetapi karena masih lemahnya saya dalam mengatur pola hidup sehari-hari. Saya krisis keteraturan. Persoalan hidup yang tidak produktif bukanlah masalah hidup saya. Masalah utama saya adalah “keteraturan”. Saya pernah berkata kepada Ijul bahwa kami harus produktif. Tapi sebenarnya maksud saya adalah keteraturan; hidup teratur. Untuk mengupayakan itulah saya sekarang juga bertekad untuk, setidaknya, bisa menerbitkan satu catatan harian setiap hari selama tahun 2019 (kalau bisa, seterusnya), di samping tulisan-tulisan lainnya. Saya masih punya cita-cita untuk bisa menulis ulasan film dan buku secara rutin pula.

Saya kurang/lebih setuju jika Ijul merasakan ada “warna” yang sama di catatan ini dengan salah satu tulisan yang ia buat di blog pribadinya—mungkin tulisan yang ini. Saya kira, setiap orang yang senang menulis akan membuat tulisan dengan “warna-warna” yang begini setiap awal tahun, karena awal tahun adalah momen yang baik untuk menentukan harapan. Harapan saya tiada beda dengan tahun-tahun sebelumnya: hari-hari kita harus diisi dengan kegiatan-kegiatan yang berarti, produktif, dan teratur.

Tulisan ini adalah catatan pertama di tahun 2019. Niatan untuk mengerjakan “satu catatan harian setiap hari” ini pastinya akan rumit dan cukup merepotkan karena harus bernegosiasi dengan pekerjaan-pekerjaan lain yang tak bisa dikesampingkan. Namun, ini harus saya lakukan untuk bisa menguji seteratur apa saya dalam mengisi hari-hari. Jujur saja, saya sekarang ini sedang terkagum-kagum dengan sebuah situs web yang dikelola oleh seorang pembaca dan penulis yang menulis apa yang telah ia baca: Maria Popova yang benar-benar luar biasa.

Penulis tersebut memicu inspirasi baru: mengapa saya tak menulis saja apa yang saya lakukan sehari-hari? Forum Lenteng adalah ruang produksi kultural yang beroperasi 24 jam secara militan. Setiap detik dan setiap sudut adalah “peristiwa kebudayaan”. Itu semua adalah limpahan data yang bisa diolah menjadi narasi yang menarik tentang sejarah kecil seni di Jakarta, paling tidak. Dan sebenarnya ini sederhana saja: saya menulis apa yang sedang terjadi dan yang saya alami. Tapi, memang, realisasinya tak semudah menulis kalimat ini. Sial!

Dan saya baru ingat, saya harus mengerjakan laporan dan melanjutkan dokumentasi proyek Vaulting the Oceans. Tapi saya harus menunaikan janji kepada @masdalu dulu: tulisan majas kedua tentang praktik artistiknya.

 

Jakarta, 1 Januari 2019, 13:49 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: