hari ini adalah hari garis

Rasanya baru sebentar yang lalu saya bangun dari tidur—saya bangun siang, memang, pukul setengah sebelas. Merokok sebatang, saya segera mandi karena Robby sudah mengingatkan bahwa kami hari ini harus pergi ke toko kaca di sekitaran Pejaten untuk meninjau harga-harga pembuatan mading seukuran 210 x 120 cm. Saya berniat, setelah mandi, akan membangunkan Ijul yang—bersama Andra—tidur di ruang admin di lantai bawah, tapi ternyata mereka sudah bangun ketika saya selesai mandi.

Sebelum berangkat ke toko kaca, saya sempatkan makan siang berdua Ijul; kami makan nasi bungkus dari warteg yang berada di dekat McDonald’s. Ijul makan dengan lauk tempe dan ayam goreng—sebenarnya dia memesan tempe saja—sedangkan saya dengan lauk ikan tuna. Ketika kami makan, Andra sudah bersiap-siap menuju kampusnya untuk mengurus tugas UAS.

Siang ini saya cukup menyesal karena warteg rumahan yang biasa saya beli tutup lagi. Warteg itu untuk sementara menempati peringkat pertama soal rasa di antara semua warteg yang saya ketahui di sekitaran Jl. Swadaya, Tanjung Barat. Nasi bungkus yang saya makan hari ini tak senikmat warteg rumahan itu.

Suasana di teras belakang Forum Lenteng pada siang hari. Foto ini saya ambil ketika makan siang bersama Ijul.

Lewat pukul dua belas siang, saya, Robby, dan Pandji pergi dengan mobil menuju Pejaten. Sesaat sebelum kami berangkat, Otty mengusulkan agar kami mendatangi toko kaca yang ada di Poltangan, tapi toko kaca yang dimaksud baru kami temukan justru setelah dari Pejaten. Kami bertiga memutuskan untuk menunda pemesanan karena berpikir bahwa lebih baik memetakan kisaran harga pembuatan mading tersebut lebih dahulu daripada langsung memesannya hari itu. Toko kaca pertama yang kami datangi menawarkan harga tiga juta tujuh ratus ribu rupiah—agak tidak masuk akal (tapi bisa jadi karena toko pertama ini tampak mewah dari bangunannya). Toko kedua menawari kami harga satu setengah juta setelah ditawar dua kali. Ketika pulang menuju Forum Lenteng, kami melewati Jalan Poltangan lagi, dan barulah kami menemukan toko kaca yang dimaksud Otty; toko kaca ketiga itu menawarkan harga yang sama dengan toko kedua. Robby menyarankan untuk memesan pembuatan mading itu hari Senin saja, berhubung hari Senin sore kami semua—anggota Forum Lenteng—akan pergi ke Puncak untuk menyelenggarakan Akademi ARKIPEL hingga tanggal 11 Januari. Jika kami memesannya di hari Senin, durasi pengerjaannya akan pas untuk diambil hari Sabtu minggu depan.

Sampai sekarang saya masih berpikir mengapa toko kaca yang pertama menawarkan harga yang kurang masuk akal. Memangnya sebagus apa, sih, kualitas mading buatan mereka? Seorang pegawai yang melayani kami di toko pertama ini menunjukkan contoh mading yang bisa mereka produksi. “Akan persis seperti ini,” katanya, sambil menunjukkan gambar yang dia cari via Google.

Pada foto di Google itu, ukurannya lebih kecil, kurang dari setengah dari ukuran yang kami minta. Ternyata foto itu berasal dari salah satu toko online, dan di situ tertera bahwa harganya satu juta delapan ratus ribu rupiah. Wajar-wajar saja, sih…! Tapi, heran juga mengapa toko kaca yang kedua dan ketiga menawarkan harga yang bahkan jauh lebih murah daripada contoh gambar via Google itu, padahal saya menunjukkan foto yang sama ke pedagang toko kaca kedua dan ketiga.

Ide membuat mading ini sebenarnya tercetus empat hari yang lalu. Saya mendorong Robby untuk merealisasikan idenya tentang membuat zine “seru-seruan” diperuntukkan kepada audiens internal organisasi kami. Karena idenya tak juga direalisasikan, saya pun menawarkan padanya bagaimana kalau kami membuat mading saja terlebih dahulu karena pengelolaannya akan lebih mudah dan sederhana, tak perlu repot-repot harus membuat layout di Photoshop. Selain itu, dengan mading, semua orang bisa berkontribusi secara harian hanya dengan menyerahkan material (misalnya kertas yang sudah diisi konten) dan dapat segera dipajang di mading, sejauh kontennya sesuai dengan redaksi yang nantinya akan disusun/ditentukan oleh Robby. Saya menyarankan agar dia yang menjadi Pemred untuk mading ini. Untung saja, inisiatif itu disambut oleh Otty dan Hafiz, jadi semuanya akan berjalan dengan lancar. Untuk produksinya, saya dan Robby sudah berkomitmen akan menggunakan uang pribadi dulu, bukan uang organisasi. Otty bahkan menyarankan agar kami menggunakan dinding-jendela ruang tengah yang menghadap ke sisi luar sebagai tempat untuk menggantung mading tersebut daripada dinding di sebelah kiri (yang menghadap ke garasi mobil) yang sebelumnya sudah kami pilih sebagai penempatan mading.

Jujur saja, saya bersemangat dengan rencana pembuatan dan pengelolaan mading ini karena, sejak Milisifilem Collective digalakkan di Forum Lenteng, saya lumayan banyak membuat coretan-coretan visual di lembaran kertas ataupun di dalam catatan harian saya, yang rasanya pas untuk dipajang di mading tersebut. Selain itu, saya juga senang membuat puisi. Mading ini bisa menjadi ruang untuk “mendistribusikan” puisi-puisi itu selain di blog saya pribadi.

Sepulang dari toko kaca, Ijul sedang asyik melanjutkan tugas Milisifilem-nya, kali ini adalah “tugas sertifikat” (begitulah kami mengistilahkannya), yaitu tugas berupa karya nirmana di atas kertas berukuran A0. Ijul memilih bentuk biomorfis garis, sama seperti karya Ule (yang sudah lebih dulu selesai—dia bahkan merupakan partisipan kelas Anggrek pertama yang menyelesaikan “tugas sertifikat”) dan juga Melisa.

Saya lupa, selain Ijul, Melisa, dan Ule, siapa lagi, ya, yang memilih bentuk nirmana untuk tugas sertifikatnya? Menurut saya, pilihan bentuk berupa biomorfis ini cukup taktis, karena sederhana cara pengerjaannya (tapi bukan berarti lebih tidak bernilai) dan sangat potensial untuk hadir sebagai karya yang “meledak” jika dikerjakan dengan serius.

Ijul sedang membuat karya “biomorfis garis” di kertas A0. Saya duduk di sebelahnya, menggambar “tekstur garis” di buku catatan harian.

Saya sesungguhnya masih ada utang “karya nirmana di kertas A0” pasca “tugas sertifikat” saya tahun lalu. Saya berencana akan membuat karya “tekstur garis” (sebagai studi atas bentuk tekstur dan permainan garis itu sendiri), sebagaimana halnya “tugas sertifikat” saya. Akan tetapi, karya kali ini (yang masih dalam proses) merupakan sebuah karya seri. Ukurnya juga sama, A0, tapi mungkin saya akan membuat tiga hingga lima “tekstur garis dengan pulpen di atas kertas A0”. Sayangnya, output pertama dari seri itu pun belum juga saya selesaikan. Pengerjaannya sudah tertunda lebih dari dua bulan. Saya sekarang ini justru sedang “khusyuk” memperbanyak sketsa “tekstur garis” di bidang yang lebih kecil, yaitu di halaman-halaman catatan harian saya. Itu saya lakukan sekadar untuk mengasah kedekatan dengan “si garis” itu sendiri.

Saya juga mulai mencoba-coba melakukan studi terhadap “garis-garis-nya Hafiz”. Saya ingat betul, di dalam esai panjang Otty tentang praktik kekaryaan Hafiz, yang dimuat di katalog pameran tunggal Social Organism (2018, di Galeri Nasional Indonesia, dengan kurator Mahardika Yudha), disertakan beberapa dokumentasi (image), salah satu diantaranya berupa coretan-coretan garis di secarik kertas, yang konon dibuat Hafiz dulu sekali di waktu-waktu senggangnya. Visual di secarik kertas itu membius saya, masih menempel di kepala saya karena saya memang kagum. Karenanya, saya mencoba-coba membuat corak visual yang serupa, sekadar untuk memahami modus komposisinya.

Di catatan harian saya tiga hari lalu di blog ini, saya sudah memuat beberapa potongan hasil studi atas “garis Hafiz” itu. Hari ini, saya sudah menyelesaikan satu “hasil studi” lagi di samping sketsa “tekstur garis” yang saya sebut sebelumnya.

Gambar di atas adalah salah satu di antaranya; sengaja saya tampilkan lagi di catatan ini karena potongan di atas adalah yang komposisinya paling saya senangi.

Suasana malam ini di ruang tengah Forum Lenteng: Dini sedang membuat karya “tekstur garis”, di dekatnya ada Pandji (kaos hitam), Yuki (berkacamata), dan Maria (duduk di dekat pintu, sedang menggambar oil pastel).

Hari ini adalah “hari garis”, karena saya senang melihat Ijul berusaha menyelesaikan “tugas sertifikat”-nya (yang tampak masih jauh dari selesai itu), berupa “biomorfis garis”. Kebetulan, hari ini Dini juga berusaha menyelesaikan “tugas sertifikat”-nya; pilihan konten visualnya sama dengan saya: “tekstur garis”. Tapi mungkin “tugas sertifikat” Dini agak lebih teratur dan lembut, sedangkan yang saya buat lebih seperti “racauan”. Istilah “racuan” itu sebenarnya saya dengar langsung dari Otty ketika ia menyampaikan pendapatnya atas karya saya.

“Karya lu seperti meracau,” katanya, sedangkan garis Hafiz seperti teks, menurutnya.

Saya setuju dengan pendapat Otty. Kalau diingat-ingat, perasaan saya sebenarnya memang sedang kacau saat berusaha menyelesaikan “tugas sertifikat” yang saya beri judul Rumpang Barik (2018) itu tahun lalu; hari-hari yang saya lalui untuk menyelesaikannya penuh dengan racauan kemarahan di dalam hati. [Anjaaay! Drama! *Fak.]

Rumpang Barik (2018), karya Manshur Zikri.

Mengapa saya menyebutnya “hari garis”, karena hari ini saya tiba-tiba mendapat inspirasi untuk esai ketiga saya tentang @masdalu. Sebelumnya, saya punya rencana untuk mengulas praktik artistik Dalu Kusma sebelum “periode @masdalu”, tapi rasanya belum pas jika harus menuliskan narasi itu di artikel ketiga. Dan ketika bangun tadi, saya bertanya ke diri sendiri, “Apa ide yang menarik yang akan muncul di kepala saya hari ini?”

“Garis! Garis-garis @masdalu; tipografinya, karena itu ia kau lihat sebagai teks-image!” sebuah suara menjawab pertanyaan saya itu.

Aha!” saya berseru, di dalam hati.

Saya berterima kasih kepada Hans-Ulrich Obrist karena sudah menulis Ways of Curating (2014, diterbitkan oleh Penguin Books tahun 2015) yang di dalamnya terdapat banyak kisah mengenai pengalamannya bertemu para kurator dan seniman kelas dunia. Di salah satu pertemuan, ia mendapatkan nasehat dari Gilbert dan George, yang kemudian ditulisnya ke dalam buku itu, seperti ini:

We always think that waking is one of the most important moments of a person’s life. It is the beginning of a new day. You know, Welsh people call the early morning ‘morning wood’, because every male wakes up with a hard-on. And all sex advisers always say if you have a problem with erection, then do it in the morning. It’s a moment of purity, the time when everyone has their first idea of the day. When a young artist asks, ‘What would you advise us?’ we always say, ‘When you wake up in the morning, sit on the edge of the bed, don’t open your eyes, sit on the edge of the bed and think, “What do I want to say to the world today?” ‘Because they are normally students, I suppose we also tell them, ‘Fuck the teachers.’ But, really, it doesn’t matter whether you have a computer, a brush or a pencil, just decide what you want to do and you’ll be fine. Waking in the morning is like staring into the abyss, looking into the universe. (Hans-Ulrich Obrist, 2014. I forget the page number, but I re-wrote this paragraph on my diary).

Sejak saya berhasil membaca buku itu hingga tuntas ketika melakukan penelitian tentang film di London pada bulan Juli tahun lalu, saya kerap mencoba menerapkan saran itu ke diri saya sendiri. Beberapa kali saya mendapat inspirasi, sering kali tidak. Beberapa di antara ide yang datang ke kepala saya cukup membantu pekerjaan atau kegiatan kreatif saya—misalnya lokakarya dan pameran antropologi visual pada bulan November-Desember tahun lalu—tapi kebanyakan sisanya masih belum bisa terealisasi. Tapi setidaknya, kisah-kisah Obrist berkesan bagi saya dan sangat memengaruhi saya ketika berusaha memulai hari demi hari dengan cara dan niat yang baik. Dan ide “garis @masdalu” yang ternyata datang sebagai jawaban bagi pertanyaan pertama saya pagi ini, bukan lagi hanya “sebaiknya direalisasikan” tapi justru “mau tidak mau harus direalisasikan” ke dalam esai, karena saya sudah berkomitmen akan membuat proyek seni yang dikerjakan Dalu maksimal dan menghasilkan output yang berkesan pula.

Oh, iya! Bulan depan, saya juga akan mengurasi pameran tunggal Walay! #asyek —apakah saya sudah menyebut hal ini di catatan sebelumnya…?

Detik ini, di depan saya ada Mika (salah satu partisipan kelas Milisifilem Collective angkatan ketiga—kelas Anggrek). Ia sudah lama tak kelihatan. Kata teman-temannya, ia sibuk menyelesaikan tugas syuting filmnya (ia mahasiswa IKJ).

Seperti biasa, saya duduk di teras belakang Forum Lenteng untuk mengetik. Di ruang tengah sana, Yuki sedang berbaring di salah satu bangku; tampak dari sini, ia sedang main game. Pandji duduk di dekatnya, saya tak tahu dia sedang melakukan apa. Posisi duduknya terhalang oleh sisi dinding yang di atasnya tertempel karya-karya kolase pameran Bagus sih, Tapi… (Desember 2018 – Januari 2019); saya hanya bisa melihat salah satu kakinya yang tengah bersila.

Suasana malam ini di teras belakang Forum Lenteng. Saya ambil foto ini di tengah proses mengunggah catatan ini ke blog.

Ijul dan Melisa datang. Sepertinya mereka baru saja mengerjakan kegiatan merekam bunyi yang, katanya, akan dipertunjukkan nanti pada acara Akademi ARKIPEL. Dan ketika kalimat ini saya tulis, Melisa pergi lagi ke teras depan markas sementara Ijul mengambil catatan hariannya, mencatat harinya.

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin saya tulis, apalagi kalau mengingat diskusi “Roman Picisan” tadi malam. Tapi, itu nanti saja, deh! Topik tentang “garis” hari ini ternyata lebih menarik, dan cerita tentang “hari garis” ini cukup sampai di sini dulu.

 

Jakarta, 4 Januari 2019, pukul 21:22 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: