sekilas tentang proyek seniman dan diskusi mahasiswa yang terjadi hari ini

Hampir saja saya lupa membuat catatan harian malam ini. Sudah pukul 22:59 WIB! Di Forum Lenteng, ada kegiatan presentasi “Tanjung Barat” (judul proyek sound dan image) yang digarap oleh Paolo Gaiba Riva (sound artist asal Italia tapi sering keliling dunia) dan Bomi Kim (video artist asal Korea yang kini berbasis di Amsterdam) untuk residensi singkat mereka di Jakarta.

Dua seniman tersebut adalah teman Otty. Mereka berkenalan saat Otty diundang ke Filipina pada bulan November 2018 untuk menjadi salah satu panelis di simposium yang diadakan oleh Viva Excon Capiz. Saat Otty—bersama Pingkan dan Asti—diundang ke Korea bulan lalu untuk mempresentasikan karya seni performans mereka di Ilmin Museum of Art, Seoul, Paolo juga datang untuk menyaksikannya. Paolo dan Bomi berencana akan melakukan tur di pulau Jawa selama mereka di Indonesia dan mengisi beberapa pertunjukan di sejumlah kota yang mereka datangi.

Bomi (kanan), Paolo (tengah) dan Otty (kiri) ketika membuka acara presentasi karya seni bunyi dan visual berjudul Tanjung Barat, di Forum Lenteng, 6 Januari 2019. (Foto: Forum Lenteng)

Presentasi kedua seniman itu malam ini cukup menarik. Mereka berdua kemarin melakukan observasi di lingkungan sekitar markas Forum Lenteng dan merekam berbagai bunyi dan pemandangan yang ada. Dari proses itu, mereka mendapatkan suatu kesan tentang “penciptaan” (creation) dan “penghancuran” (destruction) yang saling berhubungan, juga tentang berbagai etintas di dalamnya yang coexist membentuk suatu siklus “kehidupan-kematian”. Selain itu, dalam perfomans “Tanjung Barat” itu, ternyata mereka juga punya itensi untuk tidak hanya berbicara tentang indra penglihatan (visual) dan pendengaran (bebunyian), tetapi juga indra-indra lainnya seperti “penciuman” (bau-bauan). Oleh karena itu, ketika performans dilakukan, ada aksi membakar sampah di bagian luar ruangan presentasi.

Karya video ditayangkan di atas layar, Paolo melakukan intervensi secara live terhadap suara dari video itu (yang dibuat oleh Bomi)—sebenarnya mereka berkolaborasi dalam membuatnya. Intervensi itu bisa dilihat juga, sebenarnya, sebagai bagian dari proses rekam-dan-intervensinya terhadap suara-suara yang ada di sekitaran Tanjung Barat (yang ia kumpulkan selama observasi kemarin). Sementara intervensi bunyi itu dilakukan, Bomi membakar sampah di luar ruangan. Mereka juga tampak dengan sadar merespon kondisi ruang (interior) tempat presentasi (yaitu ruangan tengah markas Forum Lenteng). Posisi layar menempel di dinding yang ada jendelanya. Jika layar itu hanya dibuka setengahnya saja, kita masih akan bisa melihat pemandangan teras depan Forum Lenteng melalui jendela. Maka, di balik jendela itu (yang artinya di belakang layar), Bomi meletakkan sebuah wadah—yaitu tempat panggang yang kami gunakan untuk memanggang ikan di malam tahun baru lalu—untuk membakar sampah, dan para penonton bisa melihat api itu membara dan bercahaya di balik layar (tepatnya, di bawah layar). Peristiwa di dalam layar, di mata saya, seakan sedang dipanggang oleh tempat pemanggangan itu. Aksi membakar sampah dilakukan selama performans audiovisual berlangsung.

Kolaborasi tersebut membentuk suatu peristiwa sinematik yang bersifat “presentasi” ketimbang “representasi”. Itu pendapat saya. Ketika sesi tanya-jawab dilakukan, hanya satu orang yang sepertinya menyadari dan mengungkapkan aspek “sinematik” yang saya maksud itu kepada kedua seniman. Yuki—Direktur Festival ARKIPEL—berpendapat bahwa peristiwa membakar sampah di belakang layar yang dilakukan oleh Bomi ketika Paolo melakukan performans sound, seakan menjadi scene tersendiri yang bermontase terhadap layar, mengkonstruk gagasan baru yang memperkaya imajinasi di layar—dan itu semua menjadi satu peristiwa yang utuh: sinematik yang langsung. Pendapat Yuki adalah pernyataan yang paling menarik buat saya karena kebetulan, saya memikirkan hal yang sama meskipun saya tidak mengajukan diri untuk berpendapat atau melempar pertanyaan.

Kegiatan presentasi tersebut selesai sekitar pukul setengah sebelas malam.


Tadi sore, saya menemani Ijul ke kosannya untuk mengambil beberapa perlengkapan, terutama pakaian. Besok, kami semua (anggota Forum Lenteng) bersama para partisipan Akademi ARKIPEL yang sudah terseleksi, juga para pemateri, akan berangkat ke Puncak pada pukul dua belas siang. Hingga tanggal 11 mendatang, lokakarya singkat Akademi ARKIPEL ketiga ini akan berlangsung. Dan buat saya, acara Akademi ARKIPEL tahun ini juga sangat menarik karena salah satu pembicaranya, Ronny Agustinus, adalah penulis favorit saya. Saya kira, tidak ada kritikus film saat ini yang secemerlang Ronny.

Ya, kembali ke peristiwa tadi sore. Ketika saya ke daerah Barel, area tempat kontrakan Ijul, kami menyempatkan diri untuk makan siang di salah satu warung nasi di sana. Namanya, Warung Nasi Sederhana. Saat makan, di dekat kami ada sebuah meja yang diisi oleh lima orang mahasiswa. Mereka berbincang tentang kegiatan-kegiatan mahasiswa, tentang kegiatan Divisi Kajian Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa, dan lain-lain. Sebagian besar isi obrolan mereka—terutama tentang “petuah-petuah” yang disampaikan oleh salah seorang di antara mereka (yang saya yakin adalah mahasiswa paling senior di antara mereka)—membuat saya jengkel. Sebab, si senior berbicara tentang aktivisme dengan gelagat seakan-akan dia adalah orang yang paling tahu, tapi dalam “petuah”-nya itu ada hal yang sangat salah secara mendasar. Saya tak habis pikir ia mengkritik dengan memukul rata “aspek ketinggalan zaman” para aktivis masa lampau; dan secara keliru pula menyebut contoh aktivis 90-an adalah Gie. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala saja.

Saya empet melihat peristiwa itu dan mendengar isi obrolan mereka yang banyak keliru. Saya tak bisa menahan kesal karena, itu tadi, yang keliru adalah hal yang mendasar. Karena kesal tapi tak mungkin mengintervensi diskusi mereka, yang saya lakukan hanya bisa ngoceh di Instagram Stories. Belakangan baru saya pikirkan, tak ada pentingnya juga saya mengoceh seperti itu. Namun karena ocehan itu sudah terlanjur di-share di media sosial, ya, biarkan sajalah…! Hahaha!

 

Depok dan Jakarta, 6 Januari 2019, pukul 23:38 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: