Fitzcarraldo membuat saya jadi tidak banyak berbicara

Hari ini, kegiatan saya sangat sibuk. Sedari pagi—saya bangun pukul sepuluh—Forum Lenteng sudah ramai. Para partisipan Akademi ARKIPEL sebagian besar sudah berkumpul. Kami semua—anggota Forum Lenteng dan para partisipan—akan berangkat menuju Puncak pada pukul 12 siang. Yuki, Asti, Maria, Andang, dan Robby berangkat lebih dulu (pada pukul sepuluh itu) untuk mempersiapkan segala hal di tempat penginapan di Puncak, sebelum rombongan utama datang.

Sebelumnya, perlu saya utarakan bahwa catatan ini sedari awal memang diniatkan untuk terbit tanggal 7 Januari 2019 di blog ini, tapi dalam proses pengerjaannya, sejujurnya catatan ini baru sempat saya ketik di Microsoft Word pada tanggal 8 Januari 2019 pukul 00:42 WIB, lalu dipindahkan ke WordPress pada pukul 01:00 WIB. Namun begitu, saya tetap memuatnya di blog ini tertanggal 7 Januari 2019, karena isinya adalah narasi tentang peristiwa yang saya alami tanggal tujuh, bukan tanggal delapan.

Suasana di Forum Lenteng pagi ini, satu setengah jam sebelum kami semua berangkat ke Puncak.

Bisa dibilang saya tak punya cukup waktu untuk mencatat kegiatan hari ini. Karena, setibanya di Puncak, saya melakukan observasi area sekitar Puncak (tapi sempat bermain bola biliar—permainan yang saya tak bisa sama sekali). Saya melakukan observasi itu untuk keperluan membuat karya seni found object, yang merupakan salah satu tugas dari kelas Milisifilem Collective, untuk dipresentasikan di akhir kegiatan Akademi ARKIPEL yang akan berlangsung mulai dari hari ini hingga tanggal 11 nanti.

Para partisipan Akademi ARKIPEL 2019 dan anggota Forum Lenteng berfoto di depan markas Forum Lenteng sebelum berangkat menuju lokasi pelaksanaan akademi di Puncak. (Foto: ARKIPEL).

Menunggu bus datang. (Foto: ARKIPEL)

Suasana di dalam bus saat perjalanan menuju Puncak. (Foto: ARKIPEL)

Vila Athaya ternyata tak sebagus Vila Plataran yang biasa kami pilih di penyelenggaraan Akademi ARKIPEL di tahun-tahun sebelumnya (2017 dan 2018). Pelayanan dari pemilik vila juga tak maksimal. Menu makan siang hari ini juga kurang menarik. Beberapa anggota Forum Lenteng memiliki penilaian yang sama dengan saya.

Saya mengobservasi area sekitaran Vila Athaya hingga maghrib. Saya sudah menemukan spot yang menarik untuk diintervensi atau dijadikan “panggung” bagi karya found object saya, sebenarnya. Tapi saya masih kebingungan apa kira-kira benda yang bisa saya ambil (temukan) untuk “disulap” menjadi karya. Ada beberapa objek/benda yang menarik—masih saya rahasiakan untuk sementara—tapi masih ada keraguan untuk menggunakannya karena saya belum menemukan konteks yang relevan terkait benda dan spot yang rencananya akan saya pilih agar itu menjadi “pernyataan yang utuh” sebagai karya seni. Sampai sekarang saya masih berpikir keras diiringi perasaan was-was, khawatir jika hingga hari terakhir Akademi ARKIPEL saya masih juga belum berhasil merealisasikan karya ini.

Ba’da maghrib, saya menyempatkan diri untuk tidur barang sejam atau dua jam. Saya baru benar-benar terbangun setelah Walay membangunkan saya untuk makan malam. Saya ingat, setengah jam sebelum Walay membangunkan saya, Ijul juga sempat membangunkan saya (dia menanyakan apakah saya ingin dibelikan perlengkapan mandi atau tidak).

Seharian ini, saya kurang banyak bercengkerama dengan Ijul, padahal saya ingin sekali bisa berbincang banyak dengannya. Tapi kesibukan dan hiruk-pikuk kegiatan akademi agaknya menjadi alasan saya untuk menunda hal-hal pribadi tersebut.

Yuki (berdiri paling kiri) dan Hafiz (jaket hijau) ketika sedang membuka acara Akademi ARKIPEL 2019. (Foto: ARKIPEL).

Usai makan malam, agenda pertama Akademi ARKIPEL dimulai. Setelah saya membuka acara—saya adalah Koordinator Acara untuk Akademi ARKIPEL, saya mempersilakan Yuki memberikan kata sambutan. Ia berpidato seperti tahun-tahun sebelumnya: mengucapkan selamat datang, tujuan diadakannya Akademi ARKIPEL (sebagai usaha untuk mengidealkan festival ARKIPEL sebagai ruang pendidikan alternatif tentang film), dan juga sebagai liburan tahunan Forum Lenteng yang produktif (dalam arti, tidak semata berlibur tanpa ada kegiatan-kegiatan diskusi). Lalu setelahnya, masing-masing orang yang hadir memperkenalkan diri, dan kemudian giliran Hafiz yang berbicara di hadapan para partisipan dan para tamu Forum Lenteng yang ikut serta ke dalam kegiatan ini.

Beginilah ramainya suasana Akademi ARKIPEL 2019. (Foto: ARKIPEL)

Pidato Hafiz lebih banyak membahas tentang sebuah film yang akan kami tonton bersama sebagai “Sajian Pembuka” dalam rangkaian kegiatan beberapa hari ke depan. Film yang dimaksud adalah Fitzcarraldo (1982) karya Werner Herzog. Film itu sengaja dipilih karena tahun ini, Hafiz ingin menayangkan sebuah karya yang menurutnya “gigantic”.

Suasana ketika menonton Fitzcarraldo. (Foto: ARKIPEL)

Saya pribadi sangat menyukai film ini. Benar-benar membius. Kisah tentang kapal yang tidak semata menjadi “kapal”, tentang seorang tokoh yang mempunyai mimpi yang sangat mustahil dan “gila”, tapi mencapainya lewat sebuah cara yang sangat reflektif lagi puitis. Menegangkan, tapi bukan karena menyeramkan. Terutama adegan-adegan ketika kapal ditarik melintasi bukit, atau ketika kapal itu mulai masuk ke kawasan Sungai Pachitea. Suara genderang yang tak bisa diterka berasal dari arah mana di balik rerimba hutan yang ada di kanan-kiri sungai, tentang payung yang hanyut di sungai dan bergerak mendekati kapal, tentang opera yang berhasil dipertunjukkan di atas kapal yang sebenarnya sudah rusak karena sempat hanyut di jurang sungai Pongo de Mainique, tentang Fitzcarraldo yang gigih dalam ketidakmasukakalan mimpinya.

Usai penayangan film itu, tidak ada kegiatan diskusi karena hari sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Beberapa orang masih bertahan di posisinya mencoba berdiskusi secara informal. Saya sempat juga berbincang dengan beberapa di antara mereka, seperti dengan Iqbal, Mukmin, Abi, Onyong, Hamdani, dan Pandji. Sama seperti saya, mereka juga takjub dengan film tersebut. Dari sela-sela keramaian, saya juga melihat Ijul berbincang tak kalah semangatnya dengan anggota Forum Lenteng dan partisipan akademi yang lain.

Ekspresi Dhio (jaket kuning), Dini (jaket merah), Pandji (di belakang Dini), Ule (kaos hitam lengan panjang), dan Abi (di belakang Ule) ketika berdiskusi dengan saya secara informal tentang Fitzcarraldo. (Foto: ARKIPEL).

Ijul (berkacamata), Anggra (jaket hijau) dan Asti (jaket hitam) berdiskusi tentang Fitzcarraldo. (Foto: ARKIPEL)

Maria, Afrian (berkacamata), Pingkan (jaket biru muda), dan Jorren (di dekat kamera) mendiskusikan Fitzcarraldo. (Foto: ARKIPEL)

Saya tak sabar, bagaimana kira-kira pembahasan film ini besok pagi, di salah satu sesi kuliah Akademi ARKIPEL, jika saja ada salah satu di antara kami semua yang ingin membuka perbincangan tentang film itu ke dalam proses diskusi di hadapan pemateri. Saya pribadi sangat berharap Ronny Agustinus akan membahas film itu besok siang.

 

Puncak, 7 Januari 2019
(selesai diketik tanggal 8 Januari 2019, pukul 00:42 WIB).

3 Responses to “Fitzcarraldo membuat saya jadi tidak banyak berbicara”

  1. | manshur zikri

    […] Saya bersyukur bisa terbangun sebelum pukul nol-nol. Jika saja saya bablas terlelap hingga lewat tengah malam, saya gagal mencatat kegiatan pada hari ini—seperti catatan harian tanggal 7 Januari. […]

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: