wah, salaam cinema!

Mohsen Makhmalbaf berhasil mencuri hati partisipan Akademi ARKIPEL dan hadirin lainnya di acara hari ini. Dengan filmnya yang berjudul Salaam Cinema (atau Hello Cinema, 1995) yang ditayangkan sebagai bagian dari sesi materi ketiga—materi disampaikan pada pukul empat sore sedangkan acara menonton filmnya dilakukan pada pukul sembilan malam—Mohsen membuat hampir semua penonton malam ini tertawa—tidak ada yang menangis.

Suasana diskusi di Akademi ARKIPEL pagi ini (8 Januari 2019). (Foto: ARKIPEL)

Jujur saja, saya baru pertama kali menonton film tersebut. Tanpa ragu, saya ingin mengatakan bahwa Salaam Cinema menjadi salah satu film favorit saya. Mohsen berbicara tentang moral manusia dan moralitas sinema tanpa menghadirkan filmnya “bermoral-moral dengan cerewet” (walaupun dalam film ini terdengar sangat banyak dialog; karena poin “cerewet” yang saya maksud bukan dalam arti “dialog yang banyak”). Ia juga bermain di wilayah ambang batas antara yang fiksi dan bukan fiksi, tentang keaktoran dan ketidakaktoran, tentang publik sinema, tentang sejarah sinema, tentang budaya sinema, tentang realitas sosial Iran, tentang perempuan, di momen “seabad sinema”.

Film tersebut juga, menurut saya, mungkin menjadi semacam “obat” bagi salah satu partisipan (tak perlu saya sebut namanya) yang, sekitar lima menit sebelum film itu ditayangkan, bertanya (lebih tepatnya mengeluhkan) soal film yang tayang tadi pagi. Ia berpendapat bahwa Negeri di Bawah Kabut (2011) karya Shalahuddin Siregar kurang memuaskan hasratnya akan eksperimentasi dokumenter karena ada banyak adegan-adegan yang menurutnya menggunakan metode yang jauh berbeda daripada yang selama ini ia kenal.

Sebenarnya, di mata saya, ini hanya masalah tentang kesadaran akan betapa banyaknya metode dalam produksi artistik film. Mungkin si partisipan yang saya sebut itu, yang adalah teman dekat saya, lupa soal hal itu. Bahwa, walaupun metode yang digunakan Shalahuddin Siregar berbeda dengan metode yang ia gunakan selama ini, bukan berarti film Negeri di Bawah Kabut tidak penting dan tak perlu dipelajari. Tapi, memang, dalam sesi Shalahuddin tadi pagi, yang merupakan sesi materi kedua dalam rangkaian Akademi ARKIPEL, Shalahuddin lebih banyak berbicara soal teknis produksi ketimbang praktik artistik dalam konteks estetika sinematik. Dan mungkin karena arah presentasi materinya yang begitu yang membuat teman saya tersebut kurang puas.

Shalahuddin Sieregar ketika memberikan materi “Film dan Praktik Artistik” di Akademi ARKIPEL, 8 Januari 2019. (Foto: ARKIPEL).

Suasana diskusi di sesi pertama hari ini yang difasilitasi oleh Mahardika Yudha, tentang “Sejarah Kultur Sinema di Indonesia”, di Akademi ARKIPEL, 8 Januari 2019. (Foto: ARKIPEL).

Sesi pertama hari ini adalah tentang sejarah kultur sinema yang disampaikan oleh salah satu anggota Forum Lenteng, Mahardika Yudha. Dalam kesempatannya mengisi materi di Akademi ARKIPEL sebanyak tiga kali berturut-turut (sejak tahun 2017), saya pikir hari ini adalah materi sejarah kultur sinema yang paling matang yang dipersiapkan Diki, sapaan si pemateri pertama. Saya pribadi sangat menikmatinya.

Meistke Taurisia, biasa disapa Mba Dede, ketika memberikan materi tentang “Strategi Produksi, Distribusi, dan Pendanaan Film” di Akademi ARKIPEL, 8 Januari 2019. (Foto: ARKIPEL).

Materi dari Meiske Taurisia, meskipun sangat penting, cukup membuat saya sedikit bosan dan bahkan mengantuk. Bukan karena cara presentasinya, tapi murni karena materinya tidak menarik minat saya secara personal. Baru di bagian-bagian akhir presentasi Mba Dede—sapaan Meiske—saya melek kembali dan menyimak dengan saksama penjelasannya mengenai mekanisme hitung-hitungan pendanaan produksi yang perlu dinegosiasikan oleh seorang produser film, dan tentang fenomena yang umum terjadi di industri film Indonesia, terutama sorotannya tentang perbedaan antara industri film di Indonesia dan Jepang. Menurut Mba Dede, konon di Jepang industri berjalan dengan maksimal karena semua pelaku di berbagai lini kreatif berlomba-lomba melakukan investasi untuk produksi film, mulai dari agensi aktor, buku, komik, merchandise, dan film sendiri. Di Indonesia, hal itu tidak berjalan maksimal karena tidak semua lini ada atau berkontribusi. Terkadang, untuk soal promosi saja, tim produksi film harus berusaha sendiri, termasuk untuk mengusahakan bagiamana film itu juga hadir di dunia per-merchandise-an.

Afrian Purnama ketika memberikan materi tentang “Menonton, Penonton, dan Cinephile” di Akademi ARKIPEL, 8 Januari 2019. (Foto: ARKIPEL).

Materi Afrian, selain karena kegiatan menonton film Mohsen yang saya sebut di awal catatan ini, memang hadir sebagai materi yang paling menarik hati kami semua. Ia berbicara tentang cinephile, tentang penonton, dan kultur menonton dalam dunia sinema. Dari pantikannya, para partisipan kemudian saling berbagi pengalamannya dalam mengenal sinema; kapan pertama kali mengenal sinema dengan sadar dan terbangun hasrat atas sinema itu sendiri? Dan penayangan film Mohsen, Salaam Cinema, sebagai penutup kegiatan hari ini, adalah semacam picuan reflektif lainnya tentang kecintaan atas sinema itu sendiri. Benar-benar film yang memuaskan.

Nah! Hari ini, saya dan Maria juga sudah berencana “membentuk” tim pingpong kriminologi yang [sepertinya] tidak terkalahkan seantero Vila Athaya. Tapi ada baiknya saya ceritakan hal ini besok saja.

Nomgong-ngomong, Ijul di mana, ya?

 

Puncak, 8 Januari 2019, pukul 23:20 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: