bercanda dengan kesabaran

Bercanda dengan kesabaran. Itulah kalimat yang saya tangkap dan ingat, juga sebagai intisari—sejauh penafsiran saya—dari semua penjelasan Tonny Trimarsanto kepada partisipan Akademi ARKIPEL pagi ini.

Sedikit keluh kesah: saya kesal ketika mengunggah tulisan ini karena bluetooth komputer saya tak kunjung terkoneksi dengan perangkat smartphone saya. Selain itu, jaringan internet vila ini, Vila Athaya, juga lemot mampus!

Tonny Trimarsanto ketika memberikan materi tentang “Dokumenter dan Estetika Keberpihakan” di Akademi ARKIPEL, 9 Januari 2019. (Foto: ARKIPEL).

Tonny, yang berjibaku cukup lama dengan isu-isu terkait fenomena intoleransi di Indonesia, juga isu-isu sensitif seperti LGBT, konflik warga dan korporat, secara khusus diminta oleh Forum Lenteng untuk mengisi materi kelima tentang “Dokumenter dan Keberpihakan Estetik” di dalam dunia perfilman.

Bercanda dengan kesabaran, atau “menunggu momen”—Lav Diaz juga pernah berujar seperti itu ketika ditanya pendapatnya tentang esensi dari dokumenter—adalah pokok dari penemuan bahasa dan estetika visual film yang menggunakan pendekatan dokumenter. Hal ini, menurut saya, mungkin bisa dikaitkan pula dengan apa yang dikenal sebagai “politics of patience” (pernah disinggung oleh Arjun Appadurai). “Politik Kesabaran” tentu bisa dimaknai sangat luas, tapi prinsip ini kerap menjadi pendekatan yang cukup ideal dalam praktik-praktik perekaman yang pernah saya alami selama ini, sejak tahun 2009.

It’s a Beautiful Day (2011) karya Tonny Trimarsanto juga menarik hati kami. Film yang membingkai isu privatisasi air lewat kegiatan latihan wayang beber itu menunjukkan cara yang berbeda dalam merekam isu-isu sensitif dan berisiko untuk dibicarakan. Bagi saya, film ini adalah contoh dari strategi kreatif melalui seni (dan film) dalam menyoroti isu krusial yang perlu diketahui oleh masyarakat dan berhasil menyiasati keterjebakan dalam konteks etika dan kendala-kendala hukum formal yang sarat manipulasi kaum elite, tetapi mampu merasuk ke kesadaran penonton demi menciptakan suatu empati, untuk memicu (atau setidaknya mendukung) gerakan kultural tertentu dari masyarakat lokal itu sendiri.

Ronny Agustinus ketika memberikan materi tentang “Penulis, Kepenulisan, dan Sastra” di Akademi ARKIPEL, 9 Januari 2019. (Foto: ARKIPEL).

Materi keenam yang diisi oleh Ronny Agustinus—sebagaimana sudah saya tebak sebelum kegiatan ini dilaksanakan—memang menjadi sesi favorit saya dari semua rangkaian Akademi ARKIPEL 2019. Mungkin karena minat utama saya di dunia kepenulisan, walaupun istilah “kepenulisan” yang diulas oleh Ronny tidak terbatas pada ranah praktik yang menggunakan medium teks, maka semua yang disampaikan oleh Ronny memiliki relevansi dengan tambahan pengetahuan baru yang saya butuhkan. Terutama ketika ia menyajikan sejumlah contoh, atau peristiwa-peristiwa di dunia sastra (terutama lewat contoh karya teks sastra), yang menunjukkan bagaimana sastra melihat sinema dan bagaimana sinema kemudian juga memengaruhi perkembangan dunia sastra.

Tampilan salah satu slide presentasi dari Ronny Agustinus di Akademi ARKIPEL, 9 Januari 2019.

Juga tentang beberapa metode (walaupun Ronny tidak menyebutkannya demikian) yang kerap ia terapkan dalam menghasilkan karya tulis, apalagi karya tulis kritis atau kuratorial terkait film.

Otty Widasari memberikan tanggapan pada sesi diskusi film-film karya partisipan Akademi ARKIPEL 2019. (Foto: ARKIPEL).

Sedangkan sesi terakhir, ialah kegiatan nonton bareng sekaligus diskusi karya-karya film partisipan. Jumlah partisipan Akademi ARKIPEL tahun ada dua belas orang, sembilan di antaranya adalah pembuat film dan tiga sisanya adalah penulis (kritikus) film. Ada delapan film yang ditayangkan dan didiskusikan—satu film disutradarai oleh dua orang.

Alur diskusi juga berjalan dengan cukup intens (tapi kurang alot) dan banyak yang memberikan tanggapan. Namun secara keseluruhan, saya sendiri lebih berperan sebagai moderator saja, dan tidak memberi tanggapan substansial yang mendalam terkait karya-karya itu. Otty memberikan sejumlah kritik yang sangat membangun, dan saya kira itu akan bermanfaat bagi para partisipan. Begitu juga dengan para pembicara lainnya, mereka bersedia mengulas satu per satu karya partisipan yang ditayangkan tersebut.

Shalahuddin Siregar dan Tonny Trimarsanto memberikan tanggapan pada sesi diskusi film-film karya partisipan Akademi ARKIPEL 2019. (Foto: ARKIPEL).

Ronny Agustinus memberikan tanggapan pada sesi diskusi film-film karya partisipan Akademi ARKIPEL 2019. (Foto: ARKIPEL).

Di samping itu semua, seharian ini pikiran saya juga tersita oleh rencana untuk menggarap karya found object yang sampati detik ini belum tereksekusi. Saya sepertinya tetap memilih spot yang sudah saya tentukan sejak hari pertama kegiatan Akademi ARKIPEL, dan Walay rupanya juga berencana akan menggunakan area yang bersebelahan dengan area yang saya pilih. Tapi, berhubung kegiatan Akademi ARKIPEL baru berakhir malam ini, pukul sembilan malam, mau tak mau saya dan Walay baru akan bisa menggarap karya kami masing-masing besok, pagi-pagi sekali, dan harus selesai setidaknya sebelum pukul sepuluh, karena kami semua (ada sekitar 10 orang partisipan Milisifilem Collective, angkatan pertama dan kedua, yang ikut dalam proyek karya found object ini) harus mempresentasikan karya-karya tersebut kepada semua peserta dan hadirin Akademi ARKIPEL tepat pada pukul sebelas siang.

Saya punya rencana untuk merespon situs yang saya pilih dengan memilih objek batu dan daun-daun kering. Lewat dua objek itu, saya akan membuat semacam bentuk-bentuk biomorfis dan seakan-akan menjadikan situs (yang merupakan lahan rumput hijau yang cukup luas, kira-kira seluas lapangan futsal, yang terletak di sebelah Vila Athaya) sebagai “kanvas”. Untuk memastikan agar daun-daun itu tidak terbang ditiup angin, saya akan merekatkannya ke tanah berumput (yang saya jadikan “kanvas” itu) menggunakan sedotan kecil (sisa-sisa dari perabotan makan siang dan makan malam selama akademi ini berjalan). Entah bagaimana nanti jadinya visual yang akan saya buat, dan apakah itu pas disebut sebagai karya found object yang baik, saya pun tak tahu. Tapi paling tidak, karya ini sudah saya pikirkan berulang-ulang dan kini saya menganggapnya sebagai sebuah ide yang cukup matang, dan pertimbangan-pertimbangan yang saya lakukan tersebut sudah saya usahakan tetap mengacu pada referensi yang sudah diajarkan di Milisifilem Collective mengenai karya found object. Mudah-mudahan saja pengerjaannya besok berjalan lancar dan selesai tepat waktu. Mungkin akan butuh waktu lebih dari dua jam, atau lebih lama dari itu. Apakah kiranya prinsip “bercanda dengan kesabaran” bisa pula saya terapkan dalam proses karya yang ini?

Saya sekarang jadi berpikir-pikir, apakah mungkin jika saya membuat bentuk-bentuk biomorfis itu seperti praktik menulis, bukan meracau? Hahaha!

Sementara itu, Ijul juga sibuk dengan tugas-tugas sketsa tinta cina-nya. Ia satu kelompok dengan Onyong dan Niska. Partisipan Milisifilem Collective angkatan ketiga kebagian tugas untuk membuat karya seri sketsa tinta cina, dan mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka semua juga akan menampilkan karya performans kolaboratif. Dengar-dengar, pertunjukan yang sedang mereka persiapkan itu berpotensi menjadi penampilan “seni performans bunyi” yang bagus.

Yah! Itu semua baru akan bisa saya ketahui dan catat esok hari.

Saya mencatat ini di dalam kamar di lantai atas—tapi kemudian, karena internet kampret yang lemotnya semakin membuat jengkel itu—saya terpaksa pindah ke lantai bawah, HANYA UNTUK MENGUNGGAH TULISAN INI!

Sekarang saya jadi bimbang, apakah memutuskan untuk tidur saja (menghemat tenaga agar bisa mengerjakan karya found object itu pagi-pagi sekali bersama Walay), atau menahan lelah sedikit lebih lama dan bergabung dengan teman-teman yang sudah heboh sedari tadi di lantai bawah, di ruang televisi yang disulap jadi ruangan berkaraoke…?


Di tengah-tengah pengerjaan catatan ini, dan di saat saya kesal karena foto-foto yang saya pilih untuk melengkapi catatan ini tak juga bisa terunggah ke blog, Ijul mengabarkan bahwa Hafiz memanggil saya. Ketika ditemui, Hafiz, yang sedang duduk nongkrong bersama Tonny dan Shalahuddin di gazebo vila, menanyakan apakah saya membawa sejumlah katalog yang dapat diberikan kepada para pemateri Akademi ARKIPEL sebagai cinderamata? Boom! Saya lupa menyiapkannya. Sebuah kelalaian diri sendiri yang menjengkelkan. Dan malam ini, saya terpaksa menghadapi aura teguran di wajah Ketua Forum Lenteng itu.

Saya hanya bisa memukul jidat di dalam hati. Koplak! Yah, kalau untuk yang ini, mah, ngga bisa bercanda, kita…! Wkwkwk!

 

Puncak, 9 Januari 2019, pukul 22:20 WIB

2 Responses to “bercanda dengan kesabaran”

Leave a Reply to Ikha Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: