catatan yang tak lengkap tentang hari karya

Wah! Hari ini cukup menyenangkan. Terutama, karya-karya dari Milisifilem Collective yang dipresentasikan pada hari ini sangat memuaskan. Tentang karya saya sendiri, terlepas dari pendapat orang lain, saya puas dengan hasil found object yang pada akhirnya saya beri judul Menonton Terjangan Angin dan Hujan (2019).

Karya found object, berjudul Di Sini Sudah Sedikit Di Situ Masih Banyak (2019), karya Maria Christina Silalahi. (Foto: ARKIPEL)

Mengesampingkan karya saya dalam hitungan pada catatan ini, saya ingin mencatat bahwa saya sangat kagum dengan tiga karya. Pertama, berjudul Di Sini Sudah Sedikit Di Situ Masih Banyak (2019) karya Maria Christina Silalahi. Karyanya merespon isu tentang privatisasi air yang juga merupakan isu penting dan kontekstual jika kita membicarakan daerah Puncak, yang menjadi lokasi presentasi karya. Maria mengurangi hingga lebih dari setengah isi kolam renang (yang ukuran kecil) yang ada di vila ini, Vila Athaya. Lalu ia menggunakan botol-botol Aqua, dari botol yang ukuran sedang, hingga yang besar, dan bahkan beberapa galon. Sebagian air di kolam renang itu dipindahkan ke dalam botol-botol itu. Kalau saya tak salah ingat, ia menggunakan lebih dari dua puluh botol merek Aqua sebagai found object (materi) karyanya. Ide memindahkan air kolam ke dalam botol itu, bagi saya, sangat jenial!

Karya found object, berjudul Italo Calvino (2019), karya Afrian Purnama. Pada presentasinya, Afrian menyajikan karya ini lewat aksi performans menanm buku ke dalam tanah. (Foto: ARKIPEL)

Karya kedua berjudul Italo Calvino (2019) dari Afrian Purnama. Ia menggunakan salah satu buku karya Italo Calvino koleksinya sebagai found object untuk mematerialkan ingatan-ingatan manusia-manusia yang terlibat dalam Akademi ARKIPEL tahun ini. Dengan sengaja ia membaca buku itu selama Akademi ARKIPEL 2019 berlangsung beberapa hari ini, dan sebagian orang di vila ini pun mengingat Afrian membawa-bawa buku itu. Dan dalam penyajian karyanya, Afrian mempresentasikannya dengan melakukan performans: ia mengubur buku itu ke dalam tanah di salah satu area di samping vila ini. Performans itu sangat mencengangkan dan mengundang decak kagum! Everybody was shocked! Terutama mereka yang mengaku penggemar buku. Bagi saya, karya Rian (panggilan si seniman) sangat konseptual dan menjadi contoh yang baik untuk berbicara esensi kesenimanan dan subjektivitas yang, tentu saja, tetap memiliki relasi dengan kepentingan publik dalam berbagai dimensi.

Karya found object, berjudul A Visit (2019), karya Dhuha Ramadhani. Tampak dalam foto, Mahardika Yudha (salah satu kurator seni di Indonesia) sedang memperhatikan karya Dhuha. (Foto: ARKIPEL)

Karya ketiga berjudul A Visit (2019) oleh Dhuha Ramadhani. Karya ini juga jenius. Dhuha dengan sengaja memilih salah satu kamar di vila ini yang sudah kosong. Kamar yang ia pilih adalah kamar yang sebelumnya ditempati oleh Tonny Trimarsanto—hari ini Tonny sudah pulang ke Yogyakarya. Dia “menyikapi” kamar itu layaknya studio seorang seniman. Penonton diajak untuk “berkunjung” ke kamar yang ia klaim sebagai “studio” tersebut. Ketika kami semua masuk ke dalam kamar, lampu tidak menyala. Tirai kamar juga ditutup. Setelah ia memastikan jumlah “pengunjung studio” memenuhi kamar itu, Dhuha membuka tirai kamar, dan, voila! Saya kira kami akan dihadapkan oleh pemandangan alam Puncak yang biasanya memang terlihat dari beranda kamar, tapi ternyata pandangan itu dihalangi oleh sebuah lukisan mooi indie (yang ia collect dari salah satu dinding di vila ini). Dan ketika kami mendekat ke lukisan itu, ada suara burung-burung berkicau. Suara-suara dari alam tropis yang hangat. Dhuha menggunakan gawai untuk memutar audio tersebut; gawai itu diletakkan di balik lukisan. Saat itu, hari hujan gerimis dan cuaca terasa dingin. Tapi lukisan yang kami lihat menciptakan impresi yang hangat alam tropis: sawah dan gunung. Impresi tentang Puncak (di luar bingkai lukisan) dan impresi tentang lukisan berjukstaposisi. Lewat kejahilannya, Dhuha juga berbicara tentang sejarah senirupa Indonesia lewat sentuhan yang sangat kontemporer.

Saya kira, segitu saja dulu catatan tentang kegiatan presentasi karya found object Milisifilem Collective angkatan pertama (Melati) dan kedua (Mawar). Saya akan bercerita lebih panjang di hari yang lain. Saya berpikir untuk membuat esai panjang terkait hal ini.

Otty Widasari (kanan) ketika memberikan materi tentang seni performans, sebagai materi pengayaan di Akademi ARKIPEL, 10 Januari 2019. (Foto: ARKIPEL)

Tentang hari ini, saya juga perlu menyebut bahwa presentasi Otty tentang karya seni performansnya di Ilmin Museum of Art, Seoul, kepada para partisipan Akademi ARKIPEL menghasilkan diskusi yang baik, bahkan alot. Menonton lagi karya berjudul The Supper (2018) itu, saya malah jadi berpikir-pikir tentang limitasi-limitasi teknologis yang agaknya bisa dijadikan titik berangkat untuk memaknai kembali ke-arbitrer-an media baru. Nah, pembahasan ini bisa sangat panjang dan karenanya saya rasa akan lebih baik jika kita membicarakannya di tulisan yang lain.

Saya juga sangat senang dengan presentasi karya sound performance dari angkatan ketiga (Anggrek) Milisifilem Collective. Mereka mengomposisi rekaman-rekaman suara yang sudah mereka kumpulkan untuk dipresentasikan secara langsung. Sembari mempresentasikan rekaman-rekaman itu, mereka juga menghadirkan aksi langsung dari kegiatan sehari-hari mereka sebagai partisipan Milsifilem: menggambar. Juga kebiasaan mereka, para partisipan Anggrek, yang berbicara kencang dan dengan volume yang keras.

Suasana presentasi dari performans bunyi oleh para partisipan kelas Anggrek dari Milisifilem Collective di rangkaian kegiatan Akademi ARKIPEL 2019.

Dua dari partisipan kelas Anggrek, yaitu Ijul dan Andra, duduk di posisi penonton. Ketika pertunjukan dimulai, yaitu saat Theo, Melisa, Onyong, dan Niska memainkan instrumen untuk menghasilkan noise, sementara Ule, Vian, dan Ufik mulai membuat suara dari kegiatan menggambar (di dekat mereka, di atas meja, diletakkan microphone yang tersambung ke instrumen yang dimainkan oleh Theo), Ijul dan Andra tiba-tiba berbicara dengan volume suara yang keras. Awalnya, saya kira mereka melakukan kebiasaan mereka, yaitu berbicara di saat-saat ada presentasi (dan itu biasanya mengganggu dan saya kesal dengan hal itu), karena itu saya pun menegur mereka. Tapi mereka seakan tak peduli dan tetap saja berbicara. Saya kesal, Andang juga kesal, Dini apalagi. Tapi Otty, yang duduk di sebelah saya, berbisik: “Ini bagian dari performans, kali?”

Saya pun tersentak. “Bisa jadi…” kata saya dalam hati. Lalu saya mencoba menyimak lebih jelas isi percakapan Ijul dan Andra. “Oh, iya, benar! Mereka menarasikan hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas membuat sketsa!”

Performans bunyi dari angkatan Anggrek, Milisifilem Collective, di rangkaian kegiatan Akademi ARKIPEL 2019. Dari kiri ke kanan: Onyong, Theo, Melisa, dan Niska, memainkan instrumen untuk menghasilkan noise. (Foto: ARKIPEL)

Performans bunyi dari angkatan Anggrek, Milisifilem Collective, di rangkaian kegiatan Akademi ARKIPEL 2019. Dari kiri ke kanan: Ule, Vian, dan Ufik, meraut pensil dan menggores pensil di atas kertas untuk menghasilkan bunyi. (Foto: ARKIPEL)

Performans bunyi dari angkatan Anggrek, Milisifilem Collective, di rangkaian kegiatan Akademi ARKIPEL 2019. Andra (jaket kuning berkacamata) dan Ijul (rambut kuning, berkacamata) duduk di area penonton sambil melakukan performans vokal sebagai bagian dari pertunjukan. (Foto: ARKIPEL)

Performans bunyi dari angkatan Anggrek, Milisifilem Collective, di rangkaian kegiatan Akademi ARKIPEL 2019. (Foto: ARKIPEL)

Jujur saja, saya suka sekali dengan pertunjukan teman-teman Anggrek ini. Selain itu, saya juga senang dengan komentar Ijul di saat sesi diskusi. Ia menanggapi komentar Asti yang sempat menyinggung Black Mirror: Bandersnatch, terkait interaktivitas. Asti menyebutkan bahwa, karena dalam pertunjuk bunyi ini, para performer juga menampilkan graphic score yang bisa diinterpretasi oleh penonton sehingga penonton bisa ikut berkontribusi menghasilkan bunyi dengan mengikuti simbol-simbol di layar, maka karya ini juga interaktif dan serupa dengan Bandersnatch. Ijul kemudian menanggapi pendapat itu dengan menyatakan bahwa, di Bandersnatch sebenarnya penonton masih memiliki opsi yang terbatas untuk menentukan jalan cerita, sedangkan karya pertunjukkan teman-teman Anggrek, menurut Ijul, bersifat lebih terbuka karena interpretasi yang dimungkinkan sangat tidak terbatas.

Mengapa? Karena graphic score yang mereka sajikan juga bersifat terbuka. Mereka menyusun simbol itu bukan dalam arti harus dibaca dari kiri ke kanan atau sebaliknya, tapi bisa dari mana saja. Bisa dari bawah, atas, tengah, atau bahkan mungkin melompat-lompat. Selain itu, simbol-simbol yang menyiratkan bunyi itu juga memancing interpretasi yang bermacam-macam. Gambar lingkaran, misalnya, menyimbolkan “bunyi kebiasaan”. Penonton boleh menginterpretasi “bunyi kebiasaan” dengan membuat bunyi versi mereka sendiri, dan ketika ada penonton yang berniat melakukannya, secara otomatis bunyi yang mereka hasilkan akan menjadi bagian dari pertunjukkan. Lewat cara inilah, karya performans bunyi yang dilakukan kelas Anggrek Milisifilem Collective bersifat lebih “tidak terbatas” dalam konteks interaktivitas penonton dengan karya, jika dibandingkan dengan Bandersnatch.

Begitulah pendapat Ijul, dalam sesi diskusi menanggapi impresi Asti, usai performans bunyi tersebut. Bagi saya, pendapat Ijul ini secemerlang presentasi karya performans bunyi yang ia lakukan secara kolaboratif bersama Andra, Niska, Melisa, Theo, Onyong, Ufik, Vian, dan Ule. Karenanya, di mata saya malam ini, Ijul sungguh menggemaskan!

Suasana diskusi saat usai pertunjukan seni performans bunyi oleh angkatan Anggrek dari Milisifilem Collective. Tampak di foto, orang-orang yang beridiri (dari kiri ke kanan): Onyong, Niska, Melisa, Ijul, dan Hafiz. (Foto: ARKIPEL)

Ada banyak hal yang sebenarnya ingin saya catat. Tapi cerita-cerita hari ini, dan kemarin, terpaksa saya tunda untuk dituliskan karena saya buru-buru ingin bergabung dengan kegembiraan di lantai bawah. Saya berusaha membuat catatan yang sangat belum clear ini hanya supaya tetap konsisten menerbitkan satu artikel di blog setiap hari. Saya berjanji bahwa, di hari lain, saya akan membuat versi tulisan yang lebih berbobot tentang karya-karya yang dipresentasikan hari ini di Akademi ARKIPEL.

 

Puncak, 10 Januari 2019, pukul 22:40 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: