ingatan di hari yang biasa

Hari ini, rencana saya untuk kencan dengan Ijul urung dilakukan. Soalnya, tiba-tiba Otty mengirim pesan via WhatsApp tadi pagi, bahwa kami harus melakukan rapat untuk merealisasikan “proyek seni” di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Sebenarnya, Otty merancang proyek ini untuk merespon situasi pasca-gempa di Lombok. Proyek tersebut mencoba melihat bagaimana seni bisa dijadikan metode untuk berkontribusi bagi usaha trauma healing pasca-bencana. Aksi ini juga bentuk solidaritas terhadap teman-teman dan warga yang ada di Lombok.

Solidaritas dan persaudaraan memang kuncinya. Selain terhadap Lombok, gempa di Palu pun juga menjadi perhatian Forum Lenteng, organisasi kami. Forum Lenteng ikut memberikan bantuan melalui jaringan komunitas yang dimilikinya.

Nah, untuk merealisasikan ide itu, Otty mengajak saya, Maria, Dhuha, dan Anggra untuk terlibat. Ajakan itu sebenarnya bersifat sukarela, tapi kami berempat setuju untuk terlibat. Karena bersifat sukarela maka rencana keberangkatan kami ke sana pun menggunakan uang pribadi. Bagi saya sendiri, keterlibatan dalam proyek yang dirancang oleh Otty (dan Sibawaihi, Direktur Program Pasirputih, salah satu pegiat di jaringan komunitas kami di Lombok) merupakan sebuah kesempatan untuk bisa mewujudkan aksi konkret demi membantu teman-teman di Lombok, seikhlasnya.

Karena urgensi rapat untuk membicarakan proyek yang rencananya akan direalisasikan bulan depan itulah maka saya terpaksa menunda rencana kencan dengan Ijul esok hari.

Jadi, sejak pukul tiga sore hingga sembilan malam, aktivitas saya didominasi oleh kegiatan rapat. Rapat itu sempat dijeda pada pukul enam sore karena kami baru bisa melakukan video call dengan Sibawaihi pada pukul setengah delapan malam. Di selanya, saya membaca buku Nawal el-Saadawi yang berjudul Perempuan di Titik Nol (Terj. Amir Sutaarga, terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2018). Buku tersebut punya Andra. Waktu jeda itu cukup bagi saya untuk membaca dua bab pertama buku tersebut.

Video call yang kami lakukan sebenarnya untuk mengonfirmasi beberapa hal yang berhubungan dengan realisasi proyek. Ada banyak agenda yang menarik terkait proyek di Lombok itu. Tapi, karena proyek ini masih dalam perencanaan, tentunya saya tak bisa bercerita banyak tentang hal itu. Tapi saya berjanji, jika proyek ini direalisasikan bulan depan, saya akan menceritakannya—semoga bisa detail—di blog ini.


Ijul sekarang berada di kosannya, di Barel, Depok. Ia berkata bahwa dirinya sedang gabut karena tidak ada hal-hal signifikan yang ia kerjakan seharian ini. Sekarang ini, UI dalam masa liburan.

Setengah jam sebelum saya menulis catatan ini, saya mengirim link kumpulan artikel kepadanya. Itu adalah artikel-artikel yang saya tulis di blog ini sejak tahun 2016, semacam catatan harian pula. Saya ingin ia membacanya supaya ia bisa mengetahui sudut pandang yang saya punya dalam merekam peristiwa sehari-hari.

Bagi pembaca yang pernah mengikuti tulisan tentang “suitcasekid” ataupun “pascalita”, tentu tahu artikel berkategori “marginal” yang pernah saya buat itu.

Inisiatif saya mengirim link artikel itu ke Ijul, untuk dapat dibaca olehnya, sebenarnya terpicu karena kemarin saya membaca lagi artikel-artikel yang sudah pernah saya tulis di blog ini. Kumpulan tulisan berkategori “marginal” itu, walaupun isinya hanya curhatan belaka, entah mengapa menghasilkan suatu nuansa dramatik tertentu yang saya sendiri cukup terkesima ketika meninjaunya kembali. Saya seakan merasakan bahwa, yang bercerita lewat artikel-artikel itu bukanlah saya.

Ada suatu perasaan yang menghampiri hati saya. Ternyata kejengkelan di masa lampau bisa dikubur dengan bijaksana melalui tulisan. Ketika “kuburan” itu dibongkar lagi, yang didapati hanyalah “tulang-belulang” ingatan yang dapat dilihat dengan jarak tertentu, artefak yang mengandung siratan-siratan psikologis tentang pengalaman personal yang agaknya tak perlu lagi disesali, tapi bisa dimaknai secara objektif. Justru, ia menjadi sebuah bingkaian prosaik yang mungkin menarik untuk di-share ke orang-orang terdekat. Ijul adalah salah satu orang yang saya kehendaki untuk menelusuri lekuk-lekuk tulang-belulang itu.

Maria (kiri), Dhuha (tengah), dan Yuki (kanan) menghabiskan malam minggunya di Forum Lenteng. Di dinding terpajang karya kolase yang dibuat oleh partisipan Milisifilem Collective angkatan ketiga (Anggrek).

Seketika, saat saya menulis kalimat ini—sementara Maria berbincang dengan Otty dengan suara yang kencang—saya teringat adegan penutup The Wind Will Carry Us: si protagonis melempar sebuah tulang, yang tak sengaja ia temukan di ladang pemakaman di atas bukit, ke sungai yang mengalir tenang. Tulang itu bergerak pelan melewati tetumbuhan yang hidup di sisi kanan-kiri sungai, di dekatnya ada kambing yang bercengkerama dengan air.

Dunia ini selalu optimis dengan kelahiran hal-hal yang baru, tak terkecuali narasi-narasi.

Secara umum, kejadian hari ini biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa.

Sekarang ini, saya duduk di salah satu meja di ruang tengah, bukan di teras belakang seperti biasanya. Di teras belakang, ada Otty, Ufik, dan Theo. Di depan saya, ada Maria yang sedang menggambar menggunakan oil pastel, ada Dhuha yang sedang menyunting video, dan Yuki yang sedang bermain game online. Di meja yang satu lagi, yang lebih dekat ke bagian depan markas ini, ada Hafiz yang tengah melihat smartphone-nya.

Otty (baju putih) dan Theo (kaos bergaris-garis) sedang nongkrong di teras belakang Forum Lenteng.

Hafiz sedang bersantai di ruang tengah Forum Lenteng.

Maria sedang membuat gambar dengan oil pastel. Ia melakukan studi terhadap karya found object-nya yang berjudul Di Sini Sudah Sedikit Di Sana Masih Banyak (2019) yang ia presentasikan di Puncak beberapa hari lalu.

Ufik sedang bekerja di depan laptopnya.


Saya penasaran, apa tanggapan Ijul usai membaca artikel yang saya bagikan padanya. Sementara itu, di sebelah saya, Perempuan di Titik Nol—yang ternyata juga sedang dibaca oleh Robby—tergeletak, menggoda saya untuk melanjutkan membaca dirinya.

Lantunan lagu Radiohead yang diputar oleh Theo di teras belakang Forum Lenteng itu pun kini ikut-ikutan pula mencipatakan nuansa yang ambigu.

 

Jakarta, 12 Januari 2019, pukul 22:40 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: