yang meracun

Tanpa menunda-nunda, bangun pagi pukul 10:30, saya segera mandi. Tanpa sarapan terlebih dahulu, saya berangkat menuju Barel, Depok, menemui Ijul di kosannya. Setibanya di sana, yang membuka pintu kamar kosan adalah Dini, teman sekamarnya, sementara Ijul sedang mandi.

Hari Minggu biasanya tidak ada aktivitas di markas, jadi saya punya waktu seharian untuk kencan dengan Ijul. Hari ini kami rencananya memang ingin menghabiskan waktu berdua saja, menyempatkan diri makan siang di restoran yang enak dan murah—tapi sajian menunya banyak—di Jalan Margonda, dan menonton film-film koleksi Ijul di laptop. Tapi rencana yang terakhir gagal dilakukan karena ternyata Ijul meninggalkan laptopnya di markas.

Saat saya mengetik ini, Ijul sedang terpingkal sembari melihat smartphone-nya. Ketika saya tanya mengapa, ia menjawab bahwa ia chatting dengan Andra. Tapi sesekali ia mengeluh karena jaringan internet yang susah akses.

Saya berkata kepada Ijul bahwa saya kehabisan ide untuk catatan kali ini. Sebenarnya, bukan kehabisan ide, tapi ada beberapa bagian dari hari ini yang rasanya tak elok diceritakan di “halaman publik” seperti blog ini.

Ijul masih berusaha mencari kemungkinan untuk mendapatkan sinyal. Barangkali ia masih harus melanjutkan chatting-nya dengan Andra. Saya menduga-duga, Andra curhat lagi tentang masalah-masalah yang menggelisahkannya satu bulan terakhir.

Beberapa orang yang saya kenal juga agaknya menghadapi sejumlah masalah yang hampir menciptakan suatu keadaan depresif di diri mereka secara personal. Ada indikasi-indikasi yang menguatkan hal itu. Salah satunya adalah game online, yang menjangkiti tidak hanya satu orang dari mereka. Bayangkan saja! Sengaja begadang hingga pukul empat sore dan tidak kembali ke rumah masing-masing ataupun mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan atau masa studi. Buat saya, dunia virtual yang sudah dikritik habis-habisan oleh Harun Farocki itu adalah racun paling berbahaya jika diselami dengan mental konsumerisme dan pelarian. Hanya orang-orang yang punya kesadaran kultural, seperti sutradara yang saya sebut itu, yang mampu menjadikan game sebagai ladang data untuk menghasilkan pengetahuan baru. Sayangnya, sebagian besar mereka yang saya kenal belum memiliki mental baja semacam itu.

Dan terkait masalah-masalah yang menimpa mereka, yang tak sedikit pula saya tahu fragmen-fragmennya, juga tak elok jika saya tulis di sini.

Nah, kalau begitu, sepertinya catatan hari ini akan gagal menghibur hasrat si pembaca yang menanti-nanti kelanjutan catatan harian di blog ini—itu pun jika ada di antara kalian yang menanti-nantinya.

Besok, Senin, rutinitas di markas akan kembali seperti semula. Kelas kelompok belajar Milisifilem Collective akan dimulai pukul sepuluh pagi. Yang tidak mengenakkan adalah, saya mulai merasakan radang di langit-langit mulut saya. Penyakit ini selalu menjengkelkan, dan anehnya kerap tercantum dalam sejumlah catatan saya yang pernah ada.

 

Depok, 13 Januari 2019, pukul 21:34 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: