mencuri kesempatan mencatat di tengah diskusi roman picisan

Sebenarnya, tadi siang saya punya ide untuk membuat catatan reflektif tentang apa yang dibicarakan pada pertemuan siang hari ini di Forum Lenteng. Tapi niat itu urung karena saya pikir perbincangan di diskusi Roman Picisan lebih menarik.

Suasana rapat di Forum Lenteng tadi siang, 15 Januari 2019.

Pukul tujuh malam lebih dua puluh satu menit, malam ini saya duduk lagi di tengah-tengah diskusi “Roman Picisan” yang difasilitasi oleh Otty. Di sini, ada Pingkan, Walay, Luthfan, Asti, Pandji, Yuki, Maria, Dini, Afrian, Robby, Anggra (beserta Bohdana), dan Dhuha.

Saya menulis catatan ini di buku catatan harian—[dan baru memindahkannya ke Word pada pukul sebelas malam lebih tujuh menit]—karena tak elok rasanya membuka laptop di tengah-tengah diskusi tersebut.

Terkait topik diskusi malam ini, Otty melempar pertanyaan: “Bagaimana lu melihat diri lu sekarang, terutama setelah membuat karya found object di Puncak?”

Pertanyaan itu erat hubungannya dengan soal “kesenian dan kesenimanan”. Sudjojono pernah menulis persoalan terkait, dengan judul “Kesenian, Seniman dan Masyarakat” (1946) meskipun esensi yang dibahasnya lebih menekankan soal-soal prinsipil dari seorang pengkarya. Sementara, saya kira Otty melemparkan pertanyaan itu dengan lebih menekankan persoalan kualitas kesadaran [kultural] yang ada pada partisipan Milisifilem Collective, secara khusus, atau anggota Forum Lenteng secara umum.

Tingkah polah Maria dan Dini yang memamerkan baju terbaru produksi Forum Lenteng. Mereka berpose sesaat sebelum diskusi Roman Picisan dimulai.

Saya juga sering berpikir, apa relevansinya kegiatan diskusi “hati-ke-hati” semacam Roman Picisan ini? Kalau boleh membandingkannya dari segi struktural dan fungsional, peran program diskusi reguler Roman Picisan di Forum Lenteng mungkin sama halnya dengan kelas Bimbingan Penyuluhan (BP) di sekolah-sekolah menengah. Tapi bimbingan dan penyuluhan di Roman Picisan dilakukan secara kolektif dan sangat intens, berjam-jam setiap pertemuan, dan saling terbuka. Kalau boleh meminjam istilah Hujjatul Islam, seorang seniman di Lombok Utara, bisa dibilang bahwa kelas Roman Picisan adalah metode “sambung hati” yang coba diusahakan oleh Forum Lenteng.

Nah, tadi siang, saya dan Ijul makan di Bakmi Papyrus yang ada di Jalan Nangka.

Diki (Mahardika Yudha), salah seorang anggota senior di Forum Lenteng, kemudian ikut serta ke dalam diskusi. Dia berbagi cerita pula soal “titik balik” yang dialaminya dulu saat masih seumuran kami. Menjawab pertanyaan Maria: “Apa yang membuat lu memutuskan untuk mau fokus di penelitian tentang arsip?”. Dan inti jawaban Diki adalah: dia ingin menjadi aktivis, dan pokok kerja aktivis adalah selalu dan pasti selalu berbagi ilmu pengetahuan.

Lantas, Diki sekarang malah bertanya balik kepada kami semua: “Setelah found object yang kalian buat di Puncak, kalian mau bikin apa lagi?”

Maria menjawab bahwa ia ingin membuat karya yang gigantic, Luthfan ingin membuat manifesto, sedangkan Dini belum punya jawaban yang pasti karena ia mengaku masih mau belajar mengonstruksi segala hal secara terstruktur. Afrian menjawab bahwa ia ingin kembali menulis, menyelesaikan rencana-rencana pembuatan bukunya, baik yang tentang kultursinema maupun tentang Hitchcock. Dhuha, dengan ujaran yang bertele-tele, menurut saya ingin menyampaikan jawaban yang sederhana saja: membuat karya seni video. Pingkan dan Asti menjelaskan bahwa mereka ingin membuat karya yang mengombinasikan konsep “manajemen seni” dalam praktiknya. Otty menimpali jawaban itu dengan menyebut bahwa “AKUMASSA Chronicle” adalah proyek seni yang bisa dijadikan contoh. Robby ingin membuat karya seni video juga, sedangkan Walay ingin mendalami pemahaman artistik, sementara Anggra ingin fokus pada kerja-kerja pendidikan; sedangkan praktik-praktik kultural yang ia lakukan selama ini lebih ia sikapi sebagai metode untuk mengembangkan pemahaman mengenai kerja “mendidik” itu sendiri. Sementara itu, saya, ketika ditanya, dengan sotoy-nya menjawab: “Gue ingin pameran tunggal, Bang Dik!”

Suasana diskusi Roman Picisan malam ini di Forum Lenteng, 15 Januari 2019.

Ternyata, Diki menanyakan hal itu untuk mengetahui lebih jauh tentang proses kami dalam melakukan uji coba atas berbagai hal—dalam konteks ini ialah ide dan praktik seni. Ia mengaku bahwa ia penasaran dengan proses yang kami masing-masing—partisipan Milisifilem Collective—lalui dalam mengambil keputusan-keputusan artistik, terutama terkait proses pembuatan karya found object di Puncak minggu lalu. Diki juga sempat menyatakan bahwa dia jatuh hati pada karya found object Maria yang berjudul Di Sini Sudah Sedikit, Di Sana Masih Banyak (2019).


Pukul sepuluh lebih empat belas menit, saya sudah mulai was-was. Diskusi Roman Picisan belum juga selesai. Saya hanya punya waktu kurang dari dua jam untuk menyalin catatan ini dari buku catatan harian ke Word (di komputer) dan kemudian mengunggahnya ke WordPress.

Saya punya target bahwa setiap Word yang saya buat harus sesai dengan hari pencatatan. Dan biasanya, sistem di komputer akan merekam secara otomatis tanggal kita membuat file di Word. Dengan kata lain, jika malam ini saya mengetik di jam yang melebihi waktu 00:00, pada metadata file tersebut akan otomatis tertera tanggal 16 Januari, bukan 15 Januari. Dengan kata lain, mau tidak mau, saya harus mengetiknya sebelum pukul dua belas teng jika ingin metadata yang tercipta menerakan tanggal 15 Januari.

Kelalaian soal disiplin metadata ini pernah kejadian beberapa hari lalu, yakni di hari pertama Akademi ARKIPEL, dan itu membuat saya kesal. Sejak itu, demi menghindari rasa kesal semacam itu, saya berusaha bagaimana caranya sebisa mungkin membuat catatan sesuai dengan hari pencatatan, demikian juga hari pengetikannya.

Usaha di tengah-tengah diskusi: saya menulis peristiwa hari ini di buku catatan sebelum memindahkannya ke Word sekitar satu jam sebelum pukul nol-nol.

Tidak semua catatan saya tulis terlebih dahulu di buku catatan harian, kebanyakan malah langsung saya ketik di Word. Mencatat peristiwa hari ini terlebih dahulu di buku catatan harian (lewat tulis tangan) adalah strategi untuk menyiapkan bahan postingan (juga untuk mempersingkat waktu saya, karena cukup menyalinnya saja nanti). Soal menyalin-pindahkan dari buku catatan harian ke Word ini, kadang-kadang ada banyak bagian yang saya ubah. Hasil di Word kemudian berbeda dengan apa yang sudah tertulis lebih dulu di buku catatan. Tapi paling tidak, aksi mencatat (menulis tangan) di buku catatan harian itu bertujuan untuk memastikan kejujuran dan etika terkait soal waktu pencatatan, agar sesuai dengan visi dari “proyek rubrik catatan harian di blog ini”: menerbitkan satu post setiap hari.

Sekarang, saya sedang memikirkan cara bagaimana konsistensi metadata itu tetap terjaga. Satu-satunya cara adalah membuka laptop sekarang juga dan mengetik semua kata-kata ini di Word. Sekarang juga! Tapi, lagi-lagi, seperti yang sudah saya sebut tadi, tak baik rasanya mendistraksi diskusi Roman Picisan dengan bunyi-bunyi keyboard.


Pukul sepuluh lebih dua puluh dua menit. Setengah jam yang lalu, diskusi Roman Picisan masuk ke tema tentang per-peta-an—hal-hal yang geografis. Otty melemparkan pertanyaan, seperti: “Ibukota negara anu apa, hayo?!” ke semua orang yang ikut serta dalam diskusi. Hanya beberapa orang yang hafal nama-nama ibukota negara-negara di dunia. Saya termasuk kategori peserta yang bodoh dalam diskusi kali ini, karena pengetahuan saya sungguh lemah jika harus berbicara hal-hal per-peta-an dunia itu. Makanya, saya memilih untuk lebih banyak diam. [Saya tak habis pikir, mengapa Maria tetap saja berani bacot padahal banyak jawabannya yang salah…?!]

Sekarang, detik ini, Otty bercerita tentang salah satu proyek seni yang sedang dikerjakannya. Topiknya berkaitan dengan ide “stateless”.

Oh, iya! Sekarang ini, Ijul dan Onyong juga ikutan nimbrung ke dalam diskusi.

Sempat pula saya menyelesaikan studi garis ini di tengah-tengah diskusi Roman Picisan! Hahaha!

Kembali ke proyek Otty, ide tentang “stateless” yang sedang dibicarakannya itu juga berhubungan dengan gagasannya mengenai kritik terhadap sistem negara [Indonesia] yang kacau. Dalam menjelaskan hal itu, ia pun sempat pula mengambil contoh kasus tertangkapnya 41 anggota DPRD Kota Malang tahun lalu yang kesemuanya tertuduh telah melakukan tindakan korupsi massal.

Saya berusaha mencatat secara diam-diam, mencuri momen di tengah-tengah diskusi, tentang ujaran-ujaran peserta diskusi, sejauh yang bisa saya tangkap.


Nah, sekarang saya sudah berada di Word! Detik ini, pukul sebelas lebih empat puluh lima menit. Bayangkan, betapa kebutnya saya mengetik semua kata-kata ini!? Unggah segera!

 

Jakarta, 15 Januari 2019, pukul 23:46 WIB.

 

[Setelah teks ini terbit, barulah saya menambahkan beberapa foto untuk mempercantik tampilan blog. Hufftt!—Saya menulis kalimat ini pukul 00:07 WIB, 16 Januari 2019]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: