garis kesetaraan

Memasuki halaman ke-119, cerita Nawal el-Saadawi semakin membuat saya gelisah. Saya akui kalau saya merasa tak nyaman, dan karena tahu akan hal itulah saya justru semakin sadar betapa kaum saya begitu memuakkan. Itu satu sisi. Sedang sisi yang lain: saya merasa takut dan khawatir, bertanya-tanya kepada diri sendiri, bagaimana jika kekejaman semacam itu muncul dari diri saya, seorang laki-laki? Bagaimana dengan kekerasan-kekerasan di masa lampau, baik yang disadari maupun tidak oleh saya dan orang lain?

Walau belum selesai membacanya, buku bersampul warna merah itu memang benar-benar memberikan pukulan yang telak kepada saya.

Tidak berani saya mendeklarasikan diri sebagai orang bermartabat (apalagi orang suci), yang hanya karena puluhan teori tentang kesetaraan—yang sudah saya pelajari di universitas kelas wahid—kemudian dengan pongahnya meyakinkan diri tidak akan terjebak dalam perilaku-perilaku yang sudah disumpahserapahi Firdaus bahkan sejak umurnya belum seperembat abad. Tidak! Saya tidak berani! Tapi, betapa memalukannya saya karena berlindung di balik pengakuan saya tentang ketidakberanian diri saya ini, yang mungkin saja dengan sembunyi-sembunyi juga berharap untuk tidak disalahkan kalau-kalau kekerasan itu muncul dari saya suatu waktu nanti—yang pada saat itulah saya akan meruntuhkan citra-citra seorang terdidik-terpelajar yang ada pada diri saya, yang selama hampir sepuluh tahun juga barangkali angkuh secara diam-diam dan, tanpa sadar, takabur menganggap diri piawai beretorika tentang kesetaraan gender.

Perempuan di Titik Nol itu belum lagi selesai saya baca, tapi Nawal el-Saadawi telah memojokkan saya ke titik paling tertuduh. Namun begitu, tak satu patah kata pun, yang terbersit di kepala ini, yang bisa saya gunakan untuk membantahnya, kecuali untuk mengakuinya dengan muka merah padam. Dan adakah kegundahgulanaan saya ini berguna bagi keadilan, ketika saya tahu bahwa laki-laki yang diakui paling suci pun tak sepenuhnya suci ketika sejarah perlahan-lahan membalikkan halaman-halaman barunya?


Pukul sepuluh malam lebih dua puluh sembilan menit, saya duduk di salah satu sisi meja di ruang tengah markas Forum Lenteng sambil mengetik catatan ini, sementara partisipan Milisifilem Collective angkatan Anggrek sedang mengikuti kegiatan kelas Roman Picisan pertemuan pertama.

Sama seperti pertemuan pertama yang saya alami beberapa bulan lalu, kelas diskusi Roman Picisan dimulai dengan pengenalan istilah “roman picisan” itu sendiri, yang dari sana kemudian Otty akan menuntun diskusi ke arah perbincangan tentang sejarah media. Dalam perkembangannya nanti, diskusi reguler Roman Picisan—yang menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan platform Milisifilem Collective—akan fokus pada hal-hal keseharian yang dialami masing-masing peserta diskusi; hal-hal keseharian itu menjadi bahan yang dibicarakan atau diolah dalam sejumlah simulasi (latihan praktis) tentang bagaimana merumuskan sebuah ide/konsep dan mengembangkannya menjadi karya. Mereka yang termasuk dalam angkatan ketiga (angkatan Anggrek), antara lain Melisa, Ufik, Mika, Ijul, Ule, Andra, Theo, Niska, dan Onyong.

Penampakan karya garis tekstur saya yang belum selesai. Di seberang sana, Ijul (baju hitam) sedang mengerjakan “tugas sertifikat” berupa garis biomorfis sementara Dini (baju kuning) sedang mendengarkan lagu.

Seharian ini, kegiatan saya tidak terlalu banyak. Ada dua aktivitas yang dominan. Pertama, melanjutkan proses penyelesaian karya garis tekstur di atas kertas berukuran A0. Kegiatan menggambar ini berlangsung berjam-jam, mulai dari pukul sepuluh pagi hingga pukul setengah delapan malam. Waktu sepanjang itu pun belum cukup bagi saya buat menyelesaikan karya yang belum saya pikirkan judulnya itu.

Ijul juga mencoba menyelesaikan “tugas sertifikat” Milisifilem-nya hari ini. Ia kemudian menunda pekerjaannya itu sekitar pukul tiga sore dan memilih untuk mengetik sesuatu di teras belakang. Garis-garis biomorfis miliknya belum memenuhi setengah bagian dari kertas A0. Saya kira, masih lima hingga tujuh hari lagi yang dibutuhkan Ijul untuk menyelesaikan “tugas sertifikat” itu. Dini sudah berhasil menyelesaikan “tugas sertifikat”-nya dua hari lalu, sedangkan Mika berhasil menyelesaikannya malam ini. Di hari Senin ketika ia mempresentasikan “tugas sertifikat”-nya, Dini mendapat nilai terbaik. Malam ini, karena saya tak menyimak proses penilaian, saya tak tahu apakah Mika berhasil lolos dari pengujian Hafiz selaku “dosen” di kelas Milisifilem.


Saya belum sehat sempurna dari demam radang. Pilek, langit-langit mulut yang perih, dan tenggorokan yang gatal masih mengganggu saya seharian ini. Batuk datang sesekali. Pusing sudah pergi, tapi nyeri-nyeri masih menghiasi badan saya sepanjang sore. Saya curiga kalau dokter yang saya datangi malam-malam dua hari lalu itu sudah membohongi saya, karena obat yang ia berikan seakan tak memberi efek perubahan apa pun di badan saya. Atau, yah, mungkin memang karena saya gagal menahan nafsu merokok—kebiasaan yang jadi faktor utama yang sering dipersalahkan oleh para dokter dan orang-orang di sektar saya—makanya radang ini tak kunjung reda.

Empat menit sebelum pukul sebelas malam, sekarang ini: Vian, anggota angkatan Anggrek lainnya, tiba-tiba datang dan turut bergabung ke dalam kelas diskusi Roman Picisan.


Aktivitas dominan kedua saya hari ini, dimulai pukul delapan malam dan selesai pukul setengah sepuluh, ialah membaca buku Perempuan di Titik Nol. Sebenarnya, saya mulai membaca buku ini dua minggu yang lalu, tapi tak kunjung selesai karena ada banyak kejadian di markas ini yang membuat saya tak bisa fokus membaca. Tapi entah mengapa, hari ini, saya bisa menyerap lebih dari setengah isi buku tersebut meskipun saya membacanya di tengah-tengah kebisingan. Asal kau tahu, perasaan gelisah yang saya coba utarakan di awal catatan ini masih terasa benar di kepala saya hingga kalimat ini diketik.


Menggambar garis berjam-jam terkadang membuat pikiran saya menjadi fokus untuk merenungkan satu pokok persoalan. Suasana bising yang mengitari kegiatan menggambar pun tak akan membuyarkan fokus saya itu. Dan hari ini, pokok soal yang saya pikirkan adalah tentang kesetaraan gender dan kekerasan terhadap perempuan. Apa sebab? Ada gosip baru yang sampai ke telinga saya: tiga orang laki-laki pegiat kultural di bidang perfilman konon melakukan perkosaan terhadap para penggemarnya. Kabar ini benar-benar menjengkelkan. Saya jengkel karena lagi-lagi ranah kultural dilukai.

Namun, terlepas dari soal “ranah kultural yang terluka” itu, dan beriringan dengan umpatan-umpatan saya sedari kemarin, saya juga merasakan adanya kekhawatiran yang demikian kuat mulai menjalari saya.

Betapa laki-laki—(saya laki-laki)—selalu [dan akan] mudah melakukan kekerasan. Siapa pun laki-laki itu, tidak terkecuali saya sendiri. Apalagi jika si subjek laki-laki ini berada dalam posisi berkuasa, kekerasan akan semakin mudah dilakukannya. Kabar terbaru yang saya dengar itu justru membuat saya jadi mewawas diri sendiri: bagaimana jika saya melakukan kekerasan?

Belum lama ini, saya pun pernah melakukan kekerasan terhadap perempuan—kalau mau dibilang begitu. Hanya karena emosi akibat keberisikan yang ditimbulkan seorang teman saya (perempuan), saya menjentik telinganya sambil marah-marah. Dan kalau dipikir-pikir, tindakan lancang saya itu terjadi karena secara tidak sadar saya menganggapnya remeh—dia junior saya.

Betapa terkutuk!

Jika saya mengingat-ingat pertengkaran-pertengkaran yang pernah terjadi antara saya dan mantan-mantan saya, betapa lebih terkutuk lagi saya ini—seharusnya dari dulu saya mengutuki diri sendiri. Dalam pertengkaran-pertengakaran itu, saya ingat, demikian banyak perkataan saya yang pasti telah menyakiti hati mereka.

Oh, betapa terkutuknya saya!

Dan adakah pengakuan seperti ini, di catatan harian ini, berguna bagi keadilan? Apakah renungan saya selama menggambar garis-garis di atas kertas A0 sore hari ini berguna bagi garis kesetaraan yang sebenarnya? Akankah catatan ini berguna juga?

Sementara itu, malam ini, Perempuan di Titik Nol yang belum selesai saya baca justru tengah merentangkan sebuah refleksi menohok yang tak bisa saya sangkal barang satu kata pun: kebobrokan masyarakat yang didominasi kaum lelaki!

Saya malu dalam keluhan diri sendiri.

Jakarta, 16 Januari 2019, pukul 23:25 WIB.

2 thoughts on “garis kesetaraan

  1. Kadang-kadang perempuan juga menggunakan relasi kuasanya mas untuk melakukan kekerasan, meskipun mungkin kekerasan verbal, apalagi dalam sebuah hubungan. Ada toxic feminity yang seringnya malah jarang diakui. Menganggap perempuan enggak bisa melakukan sesuatu yang mengerikan kurasa juga bentuk seksisme tipis-tipis. Tapi, hmmm, mungkin nggak bisa digeneralisasi kali ya pendapatku ini. Hehe. Btw, udah kelar belum gambarnya mas? Aku belum baca Perempuan di Titik Nol tapi kapan hari sempat lihat kutipannya di salah satu toko buku online. Kutipan itu seingatku ngomong gini, “Lebih baik jadi pelacur daripada jadi istri orang karena berada di bawah kuasa laki-laki.” Aku sebel banget sama kutipan itu, sesama perempuan bukannya saling mendukung tapi lagi-lagi malah saling menjatuhkan, mana atas nama kebebasan lagi. Huvt.

    Liked by 1 person

    • Waduh! Saya baru menyadari ada komentar ini bahkan lebih dari satu tahun kemudian, ya… wkwkwkwk Maaf sekali, Mba!

      Saya membaca tulisan ini lagi karena beberapa menit yang lalu, saya menemukan artikel seorang blogger yang membahas buku el-Saadawi, dan baru meyadari ada Mba Ruhaeni memberikan komentar. wkwkwwk

      Gambarnya sudah selesai, tapi saya tinggal di Jakarta. Sekarang saya sudah berkeluarga dan bersama istri saya, saya tinggal di Yogyakarta. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.