di malam debat capres dan cawapres

Pukul delapan malam lebih empat puluh enam menit. Di Forum Lenteng malam ini ada Vian, Andang, Theo, Onyong, Ule, Dhuha, Hamdani, Robby, Aridina, Anggra, Asti, dan Pingkan. Tujuh orang dari kami duduk melingkari meja yang dekat dengan televisi meskipun tidak semuanya benar-benar menonton acara yang sedang tayang—debat Capres dan Cawapres 2019.

Saya peringatkan, catatan ini mungkin agak tidak menarik seperti debat Capres dan Cawapres yang mungkin sudah kau tonton itu. Tidak ada pula isi debat yang akan saya bahas di catatan ini.

Siap-siap menonton debat Capres dan Cawapres.

Sembari menonton atau mendengarkan debat yang berlangsung di TV, Asti dan Pingkan berusaha menyelesaikan proposal; Dhuha dan Ule menyimak sambil sesekali menghadap layar komputer. Onyong menonton dengan saksama, sedangkan Vian menonton sambil mengerjakan “tugas sertifikat” Milisifilemnya—Vian juga memilih bentuk biomorfis garis. Di sisi ruangan yang lain, yang mendekati pintu depan, Andang duduk sendiri sembari melihat smartphone-nya tapi sesekali juga menoleh ke arah TV.

Lima belas menit yang lalu, saya selesai membaca Perempuan di Titik Nol—saya menamatkan buku itu dengan duduk di meja yang sama dengan orang-orang yang menonton TV. Jalannya acara debat, antara Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi yang disiarkan oleh stasiun Trans7, tidak mengganggu konsentrasi saya untuk meresapi setiap fragmen ingatan Firdaus yang diuraikannya di dalam penjara untuk menunjukkan bagaimana bobroknya kehidupan masyarakat.

Ijul berada di kosannya sekarang. Katanya, ia tertidur sepanjang sore dan baru terbangun malam hari—saya tahu hal ini karena menerima pesan WhatsApp-nya satu jam yang lalu.

Semenit yang lewat, saya sempat meninggalkan layar komputer ini karena menghampiri penjual nasi goreng tek-tek yang melintas di depan markas Forum Lenteng. Pas sekali saya sedang lapar dan saya butuh mengisi perut ini terlebih dahulu sebelum menenggak pil-pil obat dari dokter yang saya duga sudah membohongi saya itu.

Ekspresi Andang (kiri) dan Aridina (kanan) ketika menonton debat Capres dan Cawapres di TV.

Ke ruangan ini, kini, Hafiz dan Robby turut bergabung. Hafiz, bersama Aridina dan Andang, duduk di meja yang sama, sedangkan Robby duduk di kursi yang sebelumnya ditempati oleh Ule—saya tidak tahu ke mana Ule? Sebagian besar orang kini menatap ke arah TV, menyimak perdebatan yang dimulai kembali usai jeda iklan.

Topik debat di sesi kali ini adalah korupsi; jam di komputer saya menunjukkan pukul sembilan lebih sembilan menit. Si penjual nasi goreng membunyikan kualinya sesekali, memancing para calon pembeli yang tinggal di sekitaran Jl. H. Saidi.

Oh, nasi goreng yang saya pesan sudah siap. Si penjual nasi goreng mendekati pintu sembari membawa nasi yang saya pesan. Ketika piring bernasi goreng itu berpindah tangan dan saya kembali ke tempat duduk saya semula, si penjual nasi goreng membeku sesaat di ambang pintu. Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat dengan jelas layar televisi kami. Ia menyimak ucapan Jokowi yang menyindir Prabowo. Tapi sepertinya ucapan Jokowi tak begitu menarik hatinya, karena ia segera berlalu tak lama kemudian.

Maria baru saja tiba—tadi sore dia dan Otty pergi jogging ke daerah Universitas Indonesia bersama Bodas—dan kini ia ikut meramaikan ruangan tengah Forum Lenteng. Detik ini, saya melihatnya berjongkok di lantai dekat TV, lehernya mendongak dan tangannya memegang sebatang rokok yang menyala. Ia juga menyimak perdebatan. Tepat ketika kalimat ini saya tulis, Hamdani turun dari kamar di lantai atas markas dan ikut pula bergabung dengan para penonton yang lain.

Hamdani, dan satu temannya, Onyong, adalah dua orang pegiat dari Lombok Utara yang tengah menjalani “program residensi” di Forum Lenteng. Onyong menjadi partisipan kelas Milisifilem Collective sementara Hamdani menjadi partisipan Akademi ARKIPEL.

Vian mengerjakan “tugas sertifikat” Milisifilem-nya di depan saya. Di sebelahnya duduk Onyong, sedangkan yang berdiri adalah Hamdani. Mereka berdua fokus sekali memperhatikan jalannya debat.

Oke! Saya terpaksa berhenti dulu sebentar untuk menyantap nasi goreng yang sudah mulai dingin ini.


Pukul sepuluh pagi, untuk sarapan, saya membeli makanan di warteg yang terletak di depan persimpangan Jl. H. Saidi dan Jl. Swadaya. Saya makan di depan laptop. Sejak pagi hingga siang, saya membaca lima artikel yang membahas Barbara Kruger dan melihat sekilas beberapa PDF yang mengulas karya seniman tersebut. Tinjauan atas karya-karyanya saya perlukan untuk membantu saya mengembangkan bingkaian artikel ketiga tentang @masdalu. Saya pikir, dengan memahami diskursus yang diciptakan dan dikritik Kruger lewat praktik keseniannya, saya mungkin dapat mengurai bagaimana konteks estetika @masdalu di mata audiensnya (netizen Indonesia), terutama tentang permainan teks dan image yang menjadi tools-nya dalam berkarya di Instagram. Tapi, hingga detik ini, saya belum menemukan celah yang tepat untuk memulai penulisan esai tersebut.

Sore tadi, aktivitas membaca literatur tentang Barbara Kruger terpaksa saya hentikan karena mendadak Melisa meminta saya untuk menunjukkan sebelas karya oil pastel di atas karton board yang sudah saya selesaikan bulan lalu. Ia berniat ingin mendokumentasikannya ke dalam bentuk foto. Ketika hal itu dilakukan, saya baru ingat bahwa karya-karya oil pastel itu belum saya lapisi fixative. Jadilah karenanya pada pukul setengah tiga sore hari ini, bersama Dhuha, saya menyemprot belasan karton board dengan fixative. Kegiatan ini cukup menyita perhatian saya sehingga literatur-literatur online mengenai Barbara Kruger terpampang begitu saja di layar laptop.

Dinding garasi mobil Forum Lenteng masih ditempeli selotip kertas, bekas aktivitas penyemprotan fixative ke karya oil pastel partisipan Milisifilem Collective, tadi sore.

Pukul setengah lima, selesai mandi, saya harus mengikuti rapat terbaru mengenai keberlanjutan proyek seni di Lombok Utara yang akan direalisasikan bulan depan. Di tengah-tengah rapat, saya menyibukkan diri membuat gambar, berupa garis-garis tekstur, di buku catatan harian; saya membuat gambar yang mirip dengan karya garis tekstur saya di kertas ukuran A0. Kegiatan menggambar di buku catatan harian itu tetap saya lanjutkan bahkan di saat rapat telah usai, dan baru selesai pada pukul tujuh malam.

Satu minggu belakangan ini, cukup sering saya berpikir bagaimana rasanya jika saya berhasil membuat seratus gambar garis-tekstur di atas kertas ukuran A0… bagaimana, ya, rasanya…?

Gambar garis-tekstur yang saya buat di buku catatan harian.

Usai menggambar, saya lanjut membaca buku Perempuan di Titik Nol hingga hingar-bingar ruangan ini terdistraksi oleh ingatan bahwa malam ini ada acara debat Capres-Cawapres di TV.


Saya sekrang pindah ke teras belakang. Di sini ada Otty, Hamdani, Anggra, Bodas, Dhuha, Maria, dan Onyong. Saya baru sadar kalau sejak tadi mereka sedang melakukan rapat dan percakapan via video call dengan Mintarja, Gozali, Imran, dan Oka, empat orang pegiat Pasirputih di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Saya menyadari itu karena mendengar suara mereka yang berbicara dengan volume lebih tinggi—mungkin karena arus komunikasi via video call yang tidak lancar—dibandingkan hiruk-pikuk ruangan TV yang ternyata sudah sepi dari beberapa menit yang lalu. Saya turut bergabung ke dalam rapat itu karena saya termasuk dalam tim inti dari Forum Lenteng yang akan ke Lombok bulan depan.

Menyapa teman-teman dari Lombok Utara adalah hal yang menyenangkan. Berangkat ke Lombok Utara, khususnya Kecamatan Pemenang, bagi saya sama seperti pulang kampung, saking senangnya saya dengan orang-orang Pasirputih. Padahal, kampung asli saya adalah Pekanbaru, Riau.

Suasana ketika rapat via video call bersama teman-teman Pasirputih dari Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Dan saya harus menunda catatan ini lagi karena Otty meminta saya berbicara dengan salah seorang di seberang video call sana.


Pukul sepuluh malam lebih delapan belas menit, rapat via video call untuk proyek seni di Lombok Utara selesai. Semua orang yang ikut rapat berhamburan lagi ke ruang tengah Forum Lenteng, duduk di depan TV.

Saya sudah tak bisa menikmati acara debat itu—sebenarnya sejak acara itu dimulai. Entah mengapa, di mata saya debat Capres dan Cawapres kali ini tidak semenarik biasanya sebagaimana debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernukr DKI dulu, atau ketika pemilu tahun 2014. Mungkin karena saya sudah terlanjur kecewa jauh-jauh hari, baik terhadap Jokowi sendiri yang sudah jadi Presiden hampir lima tahun ini, maupun (apalagi) terhadap Prabowo, sehingga semangat untuk menyambut pemilu tahun ini sudah surut lebih dulu.

Acara debat malam ini pun usai. Orang-orang di ruangan ini mulai berkomentar, tapi bukan menyoroti isi debatnya—karena mereka juga berpendapat yang sama dengan saya (bahwa debat malam ini tidak seru). Alih-alih, mereka lebih mengomentari usia salah satu kandidat yang sudah tua dan malah tampak lelah dengan politik.

Perhatian orang-orang mengenai debat tadi dengan cepat berlalu. Orang-orang di sini ternyata lebih sibuk daripada kelihatannya. Sementara itu, Otty beberapa kali mencandai Maria soal usaha PDKT-nya dengan Luthfan.

Saya sendiri juga sudah tak bersemangat meneruskan catatan malam ini.

 

Jakarta, 17 Januari 2019, pukul 22:26 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: