pertanyaan sekelebat tentang abstrak

Hari ini saya bangun siang; bangun pukul setengah satu. Partisipan Milisifilem Collective angkatan kegita, angkatan Anggrek, sedang mendengarkan materi dari Hafiz ketika saya menuruni tangga. Saya pergi mandi setelah menghabiskan sebatang rokok. Sembari merokok, saya melihat-lihat Instagram, tapi tidak ada yang menarik.

Saya belum menemukan kalimat yang pas untuk mulai mengurai bagaimana praktik Barbara Kruger memiliki relevansi tertentu untuk menelaah teks-teks @masdalu.

Dan catatan ini mungkin merupakan sebentuk “pelarian melalui kata-kata” yang saya buat untuk melepaskan dahaga kebuntuan dalam proses pengerjaan esai tersebut.

Suasana di ruang tengah Forum Lenteng tadi siang. Foto ini saya ambil ketika menghabiskan sebatang rokok pertama yang saya hisap segera setelah bangun tidur, sebelum pergi mandi.

Tadi malam saya begadang bukan hanya karena larut membaca esai Walter Benjamin sampai lewat tengah malam, tetapi juga karena setelahnya saya ikut bergosip bersama Ijul, Andra, dan Robby tentang hantu-hantu. Dua hari terakhir, beberapa orang di markas kami berbagi cerita tentang pengalaman horor yang mereka punya. Beberapa pengalaman juga terjadi di markas kami. Orang-orang ini saling berbagi cerita juga bukan karena merasa senasib pernah mengalami hal yang menakutkan—dan, tentu saja, tidak semua dari cerita-cerita itu benar adanya, kan? Iya, kan…?! Saya rasa, orang-orang di markas ini berlomba-lomba menceritakan keberadaan sejumlah hantu hanya untuk menggoda Andra yang penakut. Ekspresi ketakutannya sangat lucu sehingga banyak yang suka menggodanya. Tapi gara-gara itu pula saya jadi tahu siapa saja anggota Forum Lenteng yang penakut—selain saya. Mereka yang sudah diketahui penakut, antara lain, adalah Ijul (pacar saya), Andra (korban utama), Theo (saya baru tahu ini, sungguh), dan Asti (saya cukup kaget ketika mengetahuinya).

Dari semua yang diceritakan oleh masing-masing orang, cerita yang menurut saya paling menyeramkan justru datang dari si paling penakut, Andra, sendiri, yaitu kisah yang konon sudah sangat terkenal di kalangan pengunjung mal Grand Indonesia: hantu kakek-kakek di toilet perempuan, di bioskop CGV, yang mengganggu salah seorang pengunjung bioskop. Adegannya seperti ini: ketika si korban berada di dalam salah satu bilik toilet untuk buang air, dari celah di bagian bawah pintu bilik, ia melihat ada bayangan langkah kaki yang mondar-mandir. Semakin lama, langkah kaki itu mondar-mandir dengan semakin cepat, dan suatu ketika berhenti tepat di depan pintu. Si korban berjongkok dan melongok ke celah pintu bagian bawah itu dan ia melihat bahwa memang ada kaki seseorang yang sedang berdiri di depan pintu bilik toiletnya. Karena ketakutan, si korban kemudian membaca doa/ayat Injil untuk mengusir si hantu. Ia membaca terus sambil membuka pintu bilik. Tapi, alih-alih pergi, si hantu yang bertampang kakek-kakek itu tak bergeming. Malahan, kepalanya bergoyang-goyang seperti penari Bali, dan sambil tersenyum, juga mengucapkan doa/ayat Injil yang dibaca si korban. Ia tersenyum jahil, mencandai si korban.

Menakutkan! Sungguh sangat menyeramkan! Cerita tersebut lebih menyeramkan daripada cerita paling menyeramkan tentang markas kami yang, katanya, juga ada “penunggu”-nya ini.

Buat saya, adegan itu menyeramkan. Mungkin cara saya menceritakannya di catatan ini jauh dari kesan menyeramkan, jauh berbeda dengan kesan yang saya terima ketika mendengarnya dari Andra. Menyeramkannya pun bukan karena itu semata-mata cerita hantu, tapi tentang hilangnya rasa aman, juga tentang kerentanan perempuan sebagai korban kejahatan. Cerita itu membuat saya jadi mengingat kasus-kasus kriminal yang sering beredar di masyarakat urban. Kalaupun si kakek bukan hantu, berarti dia seorang kriminal yang berindikasi seorang psikopat atau predator seksual, kan…? Pelaku kejahatan yang sangat menakutkan karena meneror korbannya terlebih dahulu sebelum benar-benar menyerangnya, entah itu perkosaan ataupun pembunuhan.

Namun, gosip soal hantu itu tak berlanjut hingga ke dalam mimpi. Walau bangun siang, saya tidur cukup nyenyak.


Kembali ke soal adegan saat saya melihat Instagram sembari merokok, beberapa saat sebelum mandi, saya jadi teringat tentang kesan saya terhadap si media sosial yang satu ini.

Biasanya, saya begadang karena keranjingan media sosial, tapi itu tak terjadi akhir-akhir ini. Bisa dibilang, durasi saya melihat media sosial sudah sangat tereduksi berjam-jam jika dibandingkan dengan aktivitas bermedia sosial saya pada awal tahun lalu. Rasanya, media sosial sudah membosankan, dan saya kira kebosanan ini bisa dihilangkan jika ada “virtualitas” yang lebih baru yang melampaui Instagram—media sosial yang di mata saya, sejauh ini, paling memuaskan hasrat netizen dalam konteks “aksi kreatif di ranah visual”. Nah, yang sekelebat menjadi mimpi saya tadi malam adalah tentang “kemonotonan” media sosial.

Ada mimpi lain tadi malam yang sebenarnya telah melipatgandakan “kenyenyakan” tidur saya. Mimpinya sederhana saja, buat yang mengerti saja. Saya tidak tertarik untuk menulis mimpi yang satu itu di catatan ini.

Media sosial yang monoton itu, yang saya maksud singgah sekelebat di mimpi saya, adalah, ya, si Instagram yang mulai membosankan itu. Ia berubah menjadi ruang yang di dalamnya orang-orang justru sedang menggambar garis-garis yang—kemarin saya ceritakan—membuat saya kesal. Lalu, gambar itu keluar dari halaman-halaman buku catatan harian orang-orang yang sedang menggambar tersebut, menjadi cahaya-cahaya gelap yang mengudara, memenuhi dinding-dinding kosong yang mengitari kami semua.

Adegan kemudian tiba-tiba berubah ke suasana interior ruang tengah sebuah apartemen mewah; suasananya persis seperti ruangan yang pernah saya saksikan di adegan salah satu film buatan Hitchcock, berjudul Rope (1948). Tapi tidak ada peristiwa pembunuhan di ruangan yang muncul di mimpi saya itu. Yang menarik, di dalamnya justru ada sebuah televisi yang menyala, dan seorang bocah gendut sambil makan junk food duduk di sofa di depan televisi itu, menonton acara berita yang tersiar dengan tampilan hitam-putih. Dengan nada-nada yang berteori, di dalam mimpi itu saya mendengar pernyataan-pernyataan tentang pertarungan antara yang privat dan publik. Tapi, mimpi tersebut menunjukkan bagaimana Instagram hilang sama sekali, dan perbincangan yang hadir justru berbalik meninjau testimoni historis mengenai citra-citra yang, pada masa kapitalisme lanjut, kerap menghampiri masyarakat dengan sendirinya ketimbang di-temu-kan oleh para pencipta.

Semenit yang lalu, saya baru tersadar bahwa, jangan-jangan, mimpi kocak ini dipengaruhi oleh bahan bacaan yang membuat saya begadang tadi malam. Atau mungkin juga karena saya belum menemukan kalimat yang pas untuk mulai mengurai bagaimana praktik Barbara Kruger—yang mengkritik kapitalisme, konsumerisme, dan patriarki—memiliki relevansi tertentu untuk menelaah teks-teks @masdalu.


Pemahaman terhadap hal-hal yang abstrak, agaknya, bukan untuk menghindari realitas dari kehadiran teknologi, tetapi sebagai jalan tempuh lain belaka untuk bisa peka terhadap cara kerja dan dampak dari teknologi.

Saya kira, alasan Bazin mengeluarkan pendapat yang sama juga bukan dalam arti meremehkan para praktisi senirupa, tetapi justru menjelaskan adanya suatu lompatan di ranah kebudayaan.

Suasana kelas Milisifilem Collective angkatan Anggrek hari ini di Forum Lenteng. Para partisipan saling mengomentari tugas sketsa yang mereka buat di Taman Margasatwa Ragunan.

Siang hari ini, saya terbangun karena mendengar suara Otty dan Hafiz yang tengah memberi materi kepada partisipan Milisifilem angkatan ketiga (angkatan Anggrek). Di momen itu, Otty bertanya kepada partisipan kelas tentang arti dari “abstrak”—pertanyaan tersebut agaknya berhubungan dengan konsep “seni abstrak” yang sepertinya sedang menjadi bahasan utama kelas mereka saat itu.

Saya merasa pertanyaan Otty itu penting, dan saya malah jadi ikut berpikir, “Oh, iya! Pengertian dasar ‘seni abstrak’ itu apa, ya?” Dan karenanyalah saya memulai hari ini dengan membuka halaman-halaman website via smartphone mencari beberapa artikel yang memaparkan pengertian dari “seni abstrak”. Tindakan yang cukup produktif karena memulai hari dengan langsung membaca “informasi”, tetapi menggelikan karena saya bertindak layaknya perilaku warganet milenial yang “sedikit-sedikit buka Google”.

Saya terpicu untuk segera membuka berbagai kanal informasi tentang macam-macam istilah dan konsep kesenian karena dalam waktu dekat ada banyak kegiatan seni yang mesti direalisasikan. Selain tugas karya “buku seni” yang diberi oleh kelas Milisifilem Collective, pameran tunggal yang akan segera diadakan adalah pameran tunggal Pandji.

Pandji tadi siang menggambar dengan oil pastel. Kebetulan, di momen saya mengambil foto ini, Pandji sedang menggambar sesuatu yang terlihat abstrak.

Dari informasi yang saya baca, saya menjadi ngeuh atas perbedaan antara “seni abstrak” dan “seni figuratif/representasional”. Temuan yang sangat terlambat ini membuat saya mengerti—dan rasanya saya pun akhirnya bisa menjawab—mengapa saya kesal dengan garis-garis tekstur yang saya gambar seminggu terakhir.

[Mungkin] jawabannya: saya terjebak pada yang figuratif ketimbang membebaskan diri dari hal-hal yang bersifat representasional. Hal ini juga yang mungkin membuat saya tak nyaman menggambar garis tekstur paling terbaru di catatan harian saya—yaitu tadi sore—karena saya menduga bahwa tangan saya pelan-pelan dan tanpa sadar sedang mengejar hal yang figuratif.

Gambar garis tekstur di buku catatan harian saya hari ini yang belum selesai.

Mungkin sekali sementara ini saya harus mengambil kesimpulan bahwa, untuk membuang rasa kesal terhadap garis, saya harus bisa membebaskan diri dari referensi-referensi objek riil yang ada di lingkungan kita dan menciptakan tegangan atau “konflik garis” dari/dengan/di dalam garis itu sendiri.

Kesimpulan ini seakan-akan didukung oleh kegiatan menonton dalam Program Yukitanonton di Forum Lenteng sore ini. Film-film buatan seniman avant-garde yang kami tonton antara lain Symphonie Diagonale (1925) karya Viking Eggeling (Swedia), Rhythmus 21 (1921) karya Hans Richter (Jerman), dan Le Retour à la Raison (1923) karya Man Ray (Amerika).

Saya juga ingat—atau setidaknya punya dugaan berdasarkan apa yang sudah diajarkan—bahwa seniman-seniman sejak dahulu berusaha melakukan studi atas bentuk-bentuk abstrak karena mewawas diri terhadap teknologi mekanis yang mampu menyalin hampir sempurna kenyataan, dan pada perkembangannya juga mampu mereproduksi sesuatu menjadi demikian massal. Pemahaman terhadap hal-hal yang abstrak, agaknya, bukan untuk menghindari realitas dari kehadiran teknologi, tetapi sebagai jalan tempuh lain belaka untuk bisa peka terhadap cara kerja dan dampak dari teknologi (bagaimana pun bentuknya).

Sementara itu, media sosial menurut saya sekarang ini lebih banyak menghasilkan hal-hal yang cenderung bersifat salon (atau ‘menekankan tampilan cantik’) daripada “abstrak kritis”, dan oleh karena itu ia mulai membosankan. Barangkali, loh, ya…!

 

Jakarta, 19 Januari 2019, pukul 21:22 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: