mengenal medium

Berbeda dengan kemarin, pagi hari ini saya bangun dari tidur yang sangat tidak nyenyak dan juga tidak cukup. Soalnya, semalam saya begadang sampai subuh. Setelah membaca—bukan lagi hanya esai Walter Benjamin, tetapi juga—tulisan Marshall McLuhan hingga pukul setengah empat dini hari, saya melanjutkan begadang sambil menghadapi layar smartphone, membaca-baca tentang zodiak di berbagai website.

Kegandrungan saya dalam kepo soal zodiak dipengaruhi oleh kebiasaan anggota perempuan yang ada di organisasi tempat saya beraktivitas sejak tahun 2009 ini. Terutama, dua atau tiga bulan terakhir ini, minat terhadap zodiak itu meningkat sejak saya kenal dengan Ijul dan Andra. Hampir setiap malam setiap hari sejak mereka begabung di Milisifilem Collective, perbincangan di teras belakang markas kami selalu dibumbui dengan singgungan mengenai zodiak—jika mereka ada di teras belakang saat perbincangan itu terjadi.

Tapi sebenarnya, ketertarikan saya dengan zodiak bukan karena ingin mengetahui karakter seseorang dengan mempelajari zodiak miliknya. Saya malah lebih penasaran terhadap apa isi teks (konten) dari zodiak tertentu, dan bagaimana isi teks tersebut diartikulasikan atau disampaikan kepada manusia manusia-manusia yang membacanya, meskipun tidak semua dari mereka percaya dengan zodiak-zodiak yang ada. Dengan kata lain: saya lebih tertarik dengan bagaimana “medium zodiak” itu bekerja pada manusia. Percaya atau tak percaya pun mereka, kalau menurut “sabda”-nya McLuhan, “zodiac sebagai medium” pasti turut menentukan dan membentuk komunikasi dan interaksi manusia-manusia secara sosial dan kultural.

Jadi, saya tertarik dengan zodiak bukan karena ia menginformasikan seseorang, tetapi karena ia membentuk persepsi seseorang tentang dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Jika sifat dan karakter seseorang serupa dengan sifat dan karakter zodiak tertentu, itu terjadi bukan karena takdir kelahiran tapi barangkali karena si orang itu mengikuti “informasi” yang dianggapnya sebagai “nujuman”. Dalam konteks perspektif ini, maka zodiak sebenarnya merupakan “instruksi perilaku” ketimbang “katalog sifat-sifat”.

Kira-kira, logika berpikir saya masuk akal, nggak, sih? Mungkin yang begini ini, alasan ketertarikan saya terhadap zodiak itu, bisa dibilang merupakan salah satu cara saya untuk memahami apa itu “medium” dalam konteks “the medium is the message” yang terkenal itu, dengan merefleksikan hal-hal terdekat/terbaru dalam komunikasi yang saya alami sehari-hari.


Onyong sedang membuat sketsa, di sebelahnya Hamdani memperhatikan.

Saya bangun pagi pada pukul setengah tujuh; Onyong yang membangunksan saya. Saya pun lupa pukul berapa tepatnya saya terlelap. Onyong sudah mandi, bersih dan rapi; bersiap-siap untuk pergi ke Kebun Margasatwa Ragunan. Orang-orang yang ikut serta, antara lain: Ule, Vian, Ufik, Hamdani, Ijul—mereka semua ditugaskan oleh dosen Milisifilem (yaitu Hafiz) untuk membuat sepuluh sketsa tentang suasana di kebun binatant tersebut. Saya join kegiatan mereka hari ini sekadar untuk melihat-lihat dan menemani Ijul, sebelum sorenya saya dan Ijul berkencan.

Ule sedang membuat sketsa burung bangau.

Vian sedang membuat sketsa burung bangau.

Ufik sedang membuat sketsa burung elang.

Kebun Margasatwa Ragunan bukan yang pertama kali saya kunjungi. Kunjungan saya di masa lalu yang paling saya ingat adalah dua atau tiga tahun lalu, dalam suatu minggu liburan bersama Ageung (mantan saya) dan tiga orang temannya. Pada kunjungan kala itu, kebun binatang tersebut dipenuhi manusia melebihi kepadatan pasar tumpah yang biasa terjadi di taman Lenteng Agung pada kisaran tahun 2010-an. Namun, kebun binatang yang sama tampak lebih sepi dan asri pada hari ini.

Ijul sedang membuat sketsa burung julang sulawesi.

Seekor burung julang sulawesi yang digambar oleh Otty.

Karena semua orang selain saya dalam rombongan Milisifilem yang pergi ke kebun binatang ragunan hari ini memiliki kewajiban untuk membuat sketsa, saya pun mempunyai banyak waktu untuk mengamati sejumlah binatang dengan lebih saksama. Saya tidak ikutan menggambar karena sketsa-sketsa yang ditugaskan harus dibuat dengan tinta cina sementara stok tinta cina, pulpen, dan kertas yang mereka bawa terbatas. Setiap satu sketsa biasanya memakan waktu kira-kira tiga puluh hingga empat puluh lima menit. Jadi, ketika berhenti di depan sebuah kandang, Ijul pasti akan bertahan di sana cukup lama; dan saya hampir selalu menemaninya selama membuat sketsa sehingga setiap binatang yang ia gambar pasti juga menerima pengamatan yang cukup memadai dari saya yang duduk kalem di sampingnya, hampir tidak melakukan apa pun selain merokok ataupun mengambil beberapa foto dengan smartphone dan mengunggahnya ke media sosial Instagram.

Membuat sketsa burung bangau.

Ijul dihampiri anak-anak ketika membuat sketsa burung bangau.

Ijul dan Ule membuat gambar di depan kandang burung bangau.

Pada saat membuat sketsa-sketsa itu, ada kejadian yang membuat hati saya tak enak karena melakukan kekeliruan. Konyolnya, kekeliruan itu terjadi malah di saat saya berniat membantunya. Ijul cukup direpotkan dengan tinta cina yang tumpah beberapa kali ketika tutup botolnya dibuka-tutup. Botol tinta cina miliknya pun belepotan. Kami berdua lupa membawa tisu—sedang stok tisu yang ada selalu dibawa-genggam oleh Onyong yang entah sudah berada di posisi mana di area kebun itu sejak sketsa keduanya dibuat—maka saya membantu Ijul membersihkan dan mengeringkan permukan luar botol tersebut dengan tangan kosong, yang akhirnya berefek menghitamnya semua permuakaan telapak tangan saya. Selanjutnya, saya membantu Ijul memegang botol tersebut, memastikannya tidak tersenggol orang dan tidak tumpah, juga ikut menyandang tas di dalamnya berisi campuran lembaran-lembaran kertas kosong dan yang sudah tersketsa. Namun, di tengah-tengah lamunan saya menatap dua ekor singa yang sedang ia gambar, Ijul meminta saya mengambil selembar kertas kosong karena sketsa yang baru saja ia buat gagal. Saya merogoh isi map dalam tas secara asal dan tanpa berpikir harus hati-hati, dan celakanya saya tak sengaja memegang lembaran kertas yang sudah berisi sketsa yang jadi. Sisi kanan di halaman kertas yang berisi gambar itu menjadi bernoda hitam akibat tersentuh tangan saya yang—betapa tololnya saya tak ingat saat itu—sudah hitam oleh tinta cina luberan dari botol. Si gobloook!

Membuat sketsa burung kukabura.

Saya sempat merasa tak enak hati selama beberapa saat karena sudah merusak gambar-gambar Ijul tanpa sangaja. Jumlah gambar yang rusak tak pula hanya satu, tapi ada sekitar tiga atau empat gambar. Ijul tidak terlalu mempermasalahkan kelalaian itu, memang, tapi saya sejujurnya tak bisa abai sama sekali dengan rasa bersalah yang muncul pasca-keteledoran yang menggelikan itu.


Kegiatan membuat sketsa di Kebun Margasatwa Ragunan terpaksa kami hentikan tepat pada pukul empat, ketika hujan gerimis membubarkan orang-orang yang meramaikan jalur-jalur block paving yang mengulari area kebun, yang duduk-duduk santai di atas karpet di area berumput di bawah pohon-pohon besar yang dikitari lapak-lapak pedagang pecel madiun yang juga mulai bergegas membentangkan atap plastik seadanya milik mereka, atau bocah-bocah dan muda-mudi yang umumnya memagar di depan hampir setiap kandang binatang yang mereka lalui dalam tur, baik yang mereka berwisata bersama keluarga, teman, atau rombongan sekolah dan rukun tetangga tertentu. Tepat saat rintik gerimis itu belum mengubah warna jalan-jalan setapak menjadi lebih coklat pekat, pengumuman dari petugas kebun terdengar, mengabarkan informasi bahwa kebun akan tutup pada pukul lima sore.

Membuat sketsa kura-kura sawah.

Menggambar rusa.

Gagal menggambar rusa yang kabur di bawah terik matahari sore.

Ternyata gerimis hanya menyapa kami sebentar saja. Setelah sempat berteduh di salah satu atap teras toilet umum yang ada di dekat area rusa-rusa, saya dan Ijul pun berlari-lari kecil menuju area ungags, menemui Onyong, Vian, Ule, Ufik, dan Hamdani yang sudah menunggu kami, bersiap-siap untuk pulang ke markas. Hampir setengah jam pula kami tertawa-tawa terlebih dahulu di depan gang area unggas itu—berhubung Ufik belum menyelesaikan sketsanya yang terakhir—sebelum akhirnya benar-benar melangkahkan kaki menuju gerbang keluar bagi para wisatayan yang tidak membawa kendaraan.

Saya dan Ijul tidak ikut kembali ke markas karena kami sudah janji akan berkencan sepulang dari Ragunan. Kami berpisah dengan lima orang lainnya di depan gerbang. Mereka memesan Go-car menuju Tanjung Barat, sedangkan Go-car yang saya dan Ijul tumpangi menuju arah Margonda.


Kegiatan membuat sketsa memang periode penting dalam proses studi di platform Milsifilem Collective yang digagas organisasi saya, Forum Lenteng, sejak tahun 2017. Tahun lalu, saya (yang masuk sebagai angkatan kedua, yaitu angkatan Mawar), juga mendapatkan tugas untuk membuat sketsa selama beberapa minggu, tapi bukan dengan medium tinta cina. Saya dan teman-teman di angkatan Mawar (dan juga angkatan Melati, angkatan pertama) ditugaskan untuk membuat sketsa di Pasar Minggu dengan menggunakan charcoal.

Kegiatan membuat sketsa di ruang publik tersebut semacam ujian level lanjutan setelah fase melatih keterampilan membuat nirmana secara “studio” (yaitu membuat karya visual yang pengerjaannya cukup dilakukan saja di markas kami atau di rumah masing-masing). Membuat sketsa di ruang publik memiliki tantangan yang jauh lebih sulit karena si perupa harus mampu menaklukan kegugupan ketika diperhatikan oleh orang-orang yang tidak dikenalnya, harus mampu menyiasati distraksi-distraksi yang terjadi selama proses pembuata sketsa, harus tangguh melawan panas terik atau dinginnya malam, dan harus berhati-hari jika ada gangguan-gangguan yang mengancam keamanan barang bawaan atau yang lainnya.

Kegiatan membuat sketsa juga merupakan semacam latihan untuk mencoba mengalami apa yang dilakukan para pioneer dan pengembang senirupa di masa impresionisme. Kegiatan ini dilakukan bukan karena ingin pandai membuat gambar “gaya ala impresionis”, tetapi lebih untuk memahami secara menebuh apa yang sesungguhnya dimaksud dengan impresi dalam konteks praktik kesenirupaan (atau praktik produksi visual). Kegiatan yang berangkat dari kesadaran sejarah seni, yang direalisasikan pada masa kontemporer lewat pengalaman ketubuhan dengan iringan atribut-atribut era globalisasi, ini semua dianggap penting sebagai dasar pengetahuan visual, terkhusus jika diniatkan untuk mempelajari film.

Mengapa?

Karena, pada masa seniman-seniman memutuskan keluar dari studio di pertengahan abad ke-19 itulah lompatan kultural terjadi, yang akhirnya memunculkan bacaan-bacaan visioner di era-era setelahnya, misalnya bacaan yang dibuat Bazin, Walter Benjamin, ataupun Marshall McLuhan.

Dan sejauh tafsiran saya, ini semua adalah tentang “mengenal medium”. Bukankah begitu…?! #asyek

 

Depok, 20 Januari 2019, pukul 23:25 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: