mendalami bromocorah

Malam ini, pukul sembilan malam lebih lima menit, di teras belakang Forum Lenteng, kami—Dhuha, Asti, Maria, dan Otty (belakangan datang Dini)—duduk bersama untuk kembali melanjutkan diskusi mengenai “bromocorah”.

Suasana diskusi tentang bromocorah di teras belakang Forum Lenteng malam ini (23 Januari 2019).

Saya dan Dhuha mencoba mencari cara untuk “melihat”—mengingat—presentasi-presentasi kecil (baik dalam bentuk puisi, karya performans, maupun tulisan pendek) yang disajikan oleh para peserta diskusi Roman Picisan semalam. Dimulai sejak tadi sore, pukul lima, saya dan Dhuha, atas bantuan sejumlah clue dari Otty, [mungkin bisa dibilang] baru berhasil—tapi kata ‘berhasil’ ini agaknya berlebihan—menemukan kata kunci dari karya performans Pingkan, yaitu “alat produksi”.

Performans Pingkan tadi malam, pada sesi simulasi kedua yang merespon tema “bromocorah” yang ditawarkan Otty, melibatkan teknologi media sosial Instagram dan respon audiens (dalam menggunakan Instagram). Saat ia mendapat giliran untuk mempresentasikan karyanya, Pingkan langsung berdiri sambil berseru, “Gue mau ke warung, ada yang mau nitip?” Kalimat ini sungguh biasa terdengar jika ada salah satu anggota Forum Lenteng—sering kali malam hari—ingin pergi ke warung, menawarkan jasa membelikan jajanan tertentu di warung yang akan dihampiri oleh si orang yang ingin berbelanja itu. Pada performans Pingkan, beberapa orang menitipkan sejumlah uang; ada yang menitipkan rokok, yakult, dan indomie. Satu-dua orang memberikan uang seratus dan lima puluh ribuan sementara yang lain memberikan uang dengan jumlah yang lebih kecil dari nominal harga produk yang ia pesan.

Lalu Pingkan pergi ke warung kelontong. Tak lama kemudian, Onyong datang dari luar ruangan, berkata, “Tunggu sebentar lagi Instagram Stories dari Pingkan.”

Benar saja, tak lama kemudian kami semua bisa menyaksikan Instagram Stories di akun Pingkan. Di layar smartphone kami masing-masing, dapat dilihat visual berupa gepokan uang titipan orang-orang di tangan Pingkan dengan latar berupa interior warung (box kayu berisi beras, meja penjaga warung, dan si ibu pemilik warung). Awalnya, hanya satu orang—di antara kami yang melihat Instagram Stories itu di markas—yang melihat smartphone dengan menyaringkan volume; terdengar audio suara Pingkan yang bernyanyi sambil merekam: “Si kancil anak nakal, suka curi-curi ketimun; ayo lekas diburu, jangan diberi ampun!” Lalu semua orang mengikuti si orang pertama, menyaringkan volume smartphone-nya masing-masing. Pengalaman auditif kala itu mewujud secara puitik, berirama. Lirik dari nyanyian Pingkan terdengar saling tumpang-tindih antara satu smartphone dengan smartphone lainnya. Seketika, ruangan tengah tempat berlangsungnya diskusi Roman Picisan itu dipenuhi audio suara Pingkan yang berasal dari banyak smartphone.

Media sosial sebagai elemen artistik dan penggunaannya sebagai strategi dalam mengonstruksi ide, kerap menjadi pendekatan Pingkan dalam menciptakan beberapa karya performansnya. Buat saya, performansnya tadi malam cukup menjawab pertanyaan yang tak jarang saya lemparkan ke Pingkan: apa esensi media sosial dalam karya performans yang lu buat?

Tapi, sore ini, saya dan Dhuha justru mencoba menjawab—jika disepakati bahwa karya performansnya semalam mewakili “persoalan terkait konsep bromocorah”—bagaimana interpretasi yang bisa kita uraikan mengenainya? Penjelasan Otty tentang aspek penting dari karya Pingkan itu, yaitu bahwa praktiknya telah “mengambil alih nilai kegunaan” atau “mengalihfungsikan” Instagram dari kebutuhan narsistik maupun ekonomis ke kepentingan aktivisme Pingkan dalam konteks seni. Menyimak diskusi antara Otty dan Dhuha, saya menyimpulkan bahwa praktik dalam karya performans Pingkan, bisa jadi, mencerminkan usaha “perebutan” alat produksi. Saya menyimpulkan hal itu karena teringat pada tulisan Ong Hok Ham yang menyiratkan bahwa bromocorah akan dianggap ancaman—dan karenanya akan dilabeli sebagai “pelanggar hukum”—oleh pemerintah Hindia-Belanda karena membuat keonaran atau melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu kepentingan pemerintah. Dalam konteks tertentu, jika merujuk ke artikel yang lain tentang social bandit (atau social crime), “penjahat-penjahat” semacam ini dibela oleh petani kelas bawah karena tindakan-tindakan mereka memberikan keuntungan bagi masyarakat kelas bawah, karena mereka bertindak dalam rangka merespon ketidakadilan sosial; dan saya mengasumsikan bahwa itu mungkin juga berkaitan dengan fenomena-fenomena para tukang onar atau para pemberontak yang berusaha “melakukan tindakan kriminal (menurut definisi pemerintah)” untuk merebut alat produksi.

Baru menjelang pukul sepuluh, saya bisa mengonfirmasi sejumlah hipotesa pribadi atas karya performans Robby. Sebelum saya menjelaskan soal apa yang sudah saya konfirmasi itu, saya perlu menjelaskan karya performans Robby.

Tadi malam, Robby menyajikan karyanya dengan menceritakan pengalamannya waktu kecil bermain-main di sebuah kampung yang berlokasi di seberang rumahnya; kampung itu sudah terlabel sebagai kampung orang-orang berandal (sebagaimana yang ia sering dengar dari ibu dan neneknya). Tapi, saat ia pergi bermain ke sana, ia mendapati bahwa abang-abang akamsi justru baik-baik saja. Berlalunya waktu, saat Robby sudah lebih besar, ia dijegal oleh anak-anak dari kampung itu. Saat Robby melawan, para abang-abang akamsi menghardiknya dan membuat Robby ketakutan hingga lari ke rumah. Di malam hari ketika ia beribadah, Robby dengan sengaja melama-lamakan ibadahnya karena abang-abang akamsi itu sedang nongkrong di luar masjid. Robby ketakutan saat itu. Tapi, ternyata, saat ia keluar masjid, abang-abang akamsi itu biasa-biasa saja. Namun, buat Robby, pengalaman menghadapi hardikan mereka sangat traumatis.

Saya dan Dhuha mencoba mencari-cari apa kira-kira kata kunci yang bisa dipungut untuk membantu kami mengartikulasikan konsep bromocorah. Berdasarkan renungan sejak tadi siang, saya berhipotesis bahwa performans Robby berkaitan dengan persoalan (1) kelas sosial, (2) seriusitas kejahatan karena saya teringat sebuah tulisan akademik di bidang kriminologi yang memaparkan tentang lokasi-lokasi yang terstigma sebagai “kampung berandal”—yang malam ini Dhuha mengingatkan bahwa tulisan itu adalah tentang teori “broken windows”. Saya juga berhipotesis bahwa performans Robby berkaitan dengan (3) resiko kejahatan (dalam konteks viktimologi), lalu tentang (4) teritori, dan (5) sekuritas dan insekuritas. Saya sempat menduga—dan menawarkannya kepada Dhuha—apakah mungkin performans Robby juga mewakili ide tentang “fear of crime”, tetapi setelah melalui sejumlah langkan analitik dalam menilainya, saya berkesimpulan bahwa kasus Robby bukanlah semata “fear of crime”. Soalnya, saya bertanya-tanya, “trauma Robby” yang tercermin dalam performansnya, apakah itu? Apakah trauma-nya itu?

Sebenarnya, kebiasaan saya merujuk teori-teori akademik biasanya sudah dilalui oleh refleksi-refleksi kritis atas kasus tertentu, dan refleksi itu berangkat dari pengalaman-pengalaman sehari-hari. Saya merujuk teori-teori untuk mengonfirmasi dugaan-dugaan saya supaya ada landasan ilmu pengetahuannya. Tapi, kerap kali kebiasaan ini dikritik oleh Otty, bahwa saya, menurutnya, selalu terjebak pada hal-hal akademik. Nah, untuk menghindari keterjebakan itulah saya pun mencoba mengonfirmasi “konfirmasi akademis” saya tersebut—bisa dibilang menyocokkan interpretasi saya—dengan interpretasi Otty yang lebih sering melepas beban-beban akademik.

Menariknya, bacaan kami sama. Menurut Otty—yang dalam paragraf ini akan saya uraikan pendapatnya dengan bahasa saya berdasarkan tangkapan saya pribadi dalam memahami penjelasannya— “trauma Robby” yang terepresentasi dalam karya performansnya itu memunculkan suatu penegasan tentang “ledakan keaktoran” oleh “yang bukan aktor”. Robby aslinya pemalu, tapi kegugupannya dan isi kisah (dari pengalaman nyata)-nya yang diartikulasikan dengan bagus, berkombinasi dengan “gestur dan impresi traumatik”-nya, menjadi racikan artistik yang sangat jitu. Otty juga berpendapat bahwa “trauma” adalah konstruksi. Kisah Robby juga menunjukkan adanya persoalan kelas sosial dan “stigma yang termapankan oleh struktur”. Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa “konsep bromocorah” terjadi karena persoalan kelas.

Oleh karena itu, saya menyarankan ke Dhuha bahwa, barangkali, kata kunci yang bisa kami pungut untuk menafsir karya Robby dalam kaitannya dengan konsep ataupun persoalan “bromocorah” adalah kelas. Saya cukup yakin dengan kata kunci ini karena itu mempunyai benang merah dengan kata kunci hasil tafsiran kami terhadap karya Pingkan, yaitu alat produksi. “Alat produksi” dan “kelas,” menurut saya, adalah dua persoalan yang ada dalam satu jalur diskursus yang sama.


Di ruang tengah Forum Lenteng, kelas Milisifilem Collective angkatan Anggrek baru saja usai. Saya tak bisa melihat suasana di ruangan itu karena pintu tertutup.

Saat pergi ke kamar mandi tadi, saya melihat Ijul sedang melanjutkan kerjaan translasinya. Onyong baru saja selesai memasak. Sedangkan di sini, di teras belakang—Robby baru saja bergabung nongkrong—kami menyela diskusi tentang bromocorah dengan cerita-cerita pengalaman putus dari pacar. Saya dan Otty mengingat pengalaman konyol juga bodoh saya ketika putus dulu: saya yang menangis-nangis sambil ingus-ingusan, dan Otty ngomel-ngomel karena saya tak mendengar nasihatnya sejak awal. Hahaha!


Catatan malam ini harus saya akhiri dulu karena saya dan Dhuha ingin fokus melanjutkan diskusi untuk mendalami konsep bromocorah. Besok, kami harus mempresentasikan hasil pemetaan konsep kami ke semua anggota Forum Lenteng.

Saya kira, catatan besok masih akan tentang bromocorah. Saya juga berencana untuk menyertakan proses saya membuat karya “buku seni”. Hari ini, saya sudah mengumpulkan semua bahannya: film-film Bresson, 100 lembar karton board, dan dua kotak oil pastel Greebel isi 24 batang.

 

Jakarta, 23 Januari 2019, pukul 22:36 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: