mading di Forum Lenteng

Saya bangun pagi pukul sepuluh kurang lima belas menit dengan kepala berat. Semalam, saya tidak bisa tidur hingga azan subuh terdengar. Kalau dibilang bahwa alasannya adalah “banyak pikiran”, itu tidak tepat meskipun yang membuat saya tidak bisa tidur adalah memang karena berpikir. Tapi, tadi malam saya berpikir tentang ide karya yang mendadak terpikirkan di kepala saya saat membuat coret-coretan garis tekstur di kertas bekas bungkur rokok. Ide itu mencoba merespon karya Milisifilem Collective angkatan Anggrek yang berjudul Esion (2019), sebuah karya performans bunyi yang dipresentasikan pada acara Akademi ARKIPEL 2019. Tapi ide yang nongol di kepala saya bukan karya performans bunyi secara khusus, melainkan lebih berupa karya konseptual. Saya berjanji akan menulis tentang ini di rubrik lain di blog ini.

Seharusnya, pukul sepuluh adalah waktu yang disepakati buat kami untuk kembali berdiskusi tentang bromocorah. Tapi rencana diskusi itu molor hingga pukul 12 siang karena dua alasan. Pertama, Otty dan Hafiz terlambat datang. Kedua, mading yang saya dan Robby pesan minggu lalu sudah selesai dibuat oleh toko kaca yang ada di dekat Pejaten Village dan hari ini datang ke Forum Lenteng. Kami—saya, Robby, Dhuha, Walay, Pandji, Pingkan, Ule, Asti, Maria, Onyong, Hamdani, Yuki, dan lainnya—yang excited melihat kedatangan mading itu dengan seketika memutuskan untuk segera memasangnya di samping pintu masuk markas kami.

Kegiatan kami siang ini menempel mading di depan markas.

Menempel mading seukuran dua meter lebih (panjang) dikali satu setengah meter (tinggi) itu ternyata memakan waktu yang tak sebentar. Karena harus memastikan mading itu terpasang kokohlah makanya diskusi tentang bromocoran bersama seluruh pengurus harian Forum Lenteng baru bisa dimulai pukul dua belas lewat.

Anehnya, diskusi tentang bromocorah hari ini—tidak seperti diskusi-diskusi sebelumnya—berjalan lumayan singkat. Kami semua bubar pada pukul dua siang. Sebagian orang pergi ke Goethe-Institut Jakarta untuk menghadiri forum diskusi terbuka Postcolonial Perspectives from The Global South. Saya dan Dhuha memilih untuk tetap di Forum Lenteng karena ingin melanjutkan diskusi tentang bromocorah, mempertimbangkan beberapa masukan dari diskusi sebelumnya, terutama masukan dari Hafiz dan Yuki.

Poin dari masukan Hafiz ialah bagaimana melihat konsep “bromocorah” sebagai ide tentang progresifitas dan juga bagaimana melihat ide itu dalam konteks estetika sinema, serta bagaimana pembahasan mengenai konsepnya bisa diartikulasikan dalam komunikasi yang sifatnya lebih universal secara bahasa, bukan hanya berdasarkan lokalitas di Indonesia. Hafiz juga mengingatkan bahwa fenomena bromocorah tersebut juga terjadi di berbagai wilayah, seperti Amerika Latin (Brazil, Kolombia, dlsb). Konteks di Indonesia juga perlu dipertegas, seperti peristiwa di kisaran tahun 1980-1985 dan juga 1965, ataupun fenomena organisasi paramiliter. Sementara itu, Yuki memberi masukan penting tentang gerakan Pink Film (Pinku eiga), yang selain karena isu-isu film mereka sangat relevan untuk melihat medan sosial bromocorah dalam konteks yang lebih global, juga penting melihat gejala gerakan tersebut yang tangguh menyiasati industri film di Jepang pada masanya.


Semingguan ini, di sela-sela kesibukan di markas, saya menyempatkan diri mengumpulkan kertas-kertas bekas bungkus rokok Dji Sam Soe untuk saya gambari sisi putihnya dengan garis-tekstur. Maksudnya sederhana, karena saya ingin berkontribusi memberi konten visual untuk mading. Robby, yang menjadi Pemimpin Redaksi mading tersebut, memberi nama mading kami Modern Times (sengaja diambil dari judul film Chaplin tahun 1936.

Rencananya, kami ingin mengangkat tajuk “Metamorfosis” sebagai edisi pertama (untuk satu bulan ke depan, dengan dua kali update konten setiap dua minggu). Saya pikir, mungkin coret-coretan garis-tekstur di kertas rokok saya ini bisa dikurasi oleh Robby sebagai representasi ide tentang konsep “metamorfosis” itu. Tapi yang pasti, kami juga akan mencantumkan ke dalam konten mading edisi pertama ini beberapa kutipan dari cerpen Kafka yang berjudul Metamorfosis (1915) juga.


Pukul setengah tiga sore, tiba-tiba saya merasakan kantuk yang demikian kuat sehingga saya terlelap hingga pukul setengah lima. Jadi, diskusi tentang bromocorah baru saya dan Dhuha lanjutkan pukul lima lewat.

Dari diskusi kami sore ini, saya dan Dhuha memutuskan untuk harus membaca satu buku dari Gabriel García Márquez yang berjudul Clandestine in Chile: The Adventures of Miguel Littín yang sudah diterbitkan oleh Henry Holt & Company (1987) dan New York Review of Books (2010). Kami juga merasa perlu untuk menonton film Miguel Littín yang berjudul El Chacal de Nahueltoro (atau Jackal of Nahueltoro, 1969). Dua referensi ini, saya kira, perlu kami tinjau dan alami untuk dibaca dan ditonton demi memahami konteks bromocorah yang fenomenanya—dalam istilah dan medan sosial yang berbeda—juga terjadi di Amerika Latin. Maksudnya, supaya teks-teks yang kami susun nanti tidak sotoy.

Suasana cengkerama di Forum Lenteng malam ini.

Malam harinya, Hafiz dan beberapa anggota Forum Lenteng berbincang-bincang ringan tentang masa-masanya masih kuliah dulu. Ia bercerita bagaimana dirinya bertemu Ugeng T. Moetidjo dan Ronny Agustinus. Saat itu, di dapur Onyong sedang masak. Ia adalah chef handal yang senang memasakkan sajian makan siang dan malam buat orang-orang. Karena saya melihatnya bekerja sendiri, saya pun membantunya menggoreng tempe.

Onyong sedang masak.

Dhuha dan Niska sedang meng-edit film.

Hamdani (kiri) dan Yuki (kanan).

Onyong (kiri), Pandji (tengah), dan Ufik (kanan).

Ijul (berdiri) saat siap-siap mau makan malam.

Setelah makan, saat saya mulai bersiap-siap membuat catatan ini, di sebelah saya Bodas sedang membuat karya moving image, berupa animasi dari lilin yang dibuat menggunakan fotografi. Di mata saya, aktivitas Bodas yang bekerja di dekat ayahnya (Hafiz) terasa begitu hangat dan menggemaskan.

Bodas sedang membuat karya animasi dengan lilin dan di dekatnya, Hafiz menemani.


Hm…! Hari ini saya memperhatikan Ijul cukup sering membaringkan diri di ruang screening, tampak sekali ia tidak fit dan kurang tidur. Ketika saya tanya, ia juga mengaku bahwa dua hari terakhir badannya lemas (dan ia mengaku takt ahu apa sebabnya).

Jujur saja, buat saya kebiasaan Ijul yang kurang tidur—kalau saya sendiri masalahnya adalah begadangan—cukup bikin saya was-was karena saya khawatir ia akan jatuh sakit tiba-tiba.

 

Jakarta, 24 Januari 2019, pukul 22:54 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: