rencana-rencana hari ini; bromocorah belum selesai

Bahwa, catatan ini intinya masih akan mengabarkan bahwa bromocoran belum selesai.

Ijul, yang semalam menginap di Forum Lenteng, bangun pagi-pagi dan pergi ke kampus untuk mengurus pendaftaran ulang untuk mengambil SKS di semester baru di jurusannya, jurusan Hubungan Internasional. Sementara itu, saya baru terbangun pukul dua belas, ketika Onyong membangunkan saya karena dia disuruh oleh Asti. Sebelumnya, pukul sepuluh, saya sempat terbangun dan mengirim WhatsApp kepada Asti, menanyakan apakah dia sudah berada di Goethe-Institut Jakarta atau belum untuk menghadiri diskusi Panel 3 pada acara Forum Terbuka Postcolonial Perspectives from The Global South. Saya memilih memejamkan mata kembali karena rencana yang disusun semalam, mau tidak mau, sudah akan berjalan di luar dari apa yang direncanakan.

Laymert Garcia dos Santos memberikan presentasi tentang perspektif poskolonial dari Amerika Latin, pada Forum Terbuka Postcolonial Perspectives from The Global South (25 Januari 2019), Panel 4.

Kami semalam punya rencana untuk datang pagi-pagi ke acara tersebut, terutama karena Panel 3 diisi oleh, Brigitta Isabella, seorang teman kami dari Yogyakarta yang aktif berkegiatan di KUNCI Cultural Studies. Tapi ternyata semuanya kesiangan—Asti mengaku bahwa dia tidak kesiangan, tetapi tidak bisa pergi karena hujan terlalu lebat. Oleh karenanya, Dhuha, Maria, Asti, Hamdani, baru berangkan menuju tempat diskusi di daerah Gondangdia itu pada pukul setengah satu. Mereka pergi dengan menumpangi Go-car. Saya menyusul satu jam kemudian dengan menggunakan Go-ride.

Melani Budianta membuka sesi diskusi dari Panel 4, Forum Terbuka Postcolonial Perspectives from The Global South (25 Januari 2019).

Kami hanya bisa menyaksikan Panel 4, panel terakhir, yang diisi oleh Laymert Garcia dos Santos (seorang penulis asal Brazil), Ayu Utami, Marco Kusumawijaya, dan Melani Budianta (yang bertindak sebagai moderator). Tema panel tersebut adalah “Perspektif Poskolonial dari Amerika Selatan”. Walaupun tema ini penting, tapi kehadiran kami ke sana, sejauh yang saya tangkap, tidak berhasil memenuhi ekspektasi saya, yaitu informasi atau pengetahuan baru yang bisa membuka pemahaman lebih jauh saya terkait fenomena di Amerika Selatan, terutama tentang fenomena bromocorahnya. Si pembicara utama, yaitu Laymert, lebih banyak berbicara tentang pengalamannya di Brazil mengerjakan penelitian tentang shaman suku Yanomami. Sedangkan pembicara lainnya menanggapi isu tersebut.


Pukul setengah empat, tanpa berlama-lama nongkrong di Goethe-Institut, saya segera pulang kembali ke Forum Lenteng karena pada pukul lima sore saya punya janji pertemuan dengan Dalu Kusma (seniman yang mengerjakan proyek seni @masdalu). Saya ingin mewawancarainya. Di dalam kerangka wawancara saya, saya sudah menetapkan ingin berbicara isu-isu global dengan berangkat dari apa yang dialami Dalu pada hari ini.

Dalu Kusma (@masdalu) saat saya wawancarai di Forum Lenteng (25 Januari 2019).

Dalu bercerita bahwa ia memberi makan binatang piaraanya, yaitu ikan cupang, setelah bangun pagi dan mandi. Lalu dia berangkat ke kantor Kamengski dan segera membuka laptop untuk meninjau email-email terbaru setibanya ia di kantor itu. Lalu dia sholat Jum’at dan kembali bekerja di kantor setelah sholat Jum’at, sebelum akhirnya pada pukul lima kurang sepuluh menit ia datang ke Forum Lenteng menemui saya, untuk melakukan sesi wawancara. Dari aktivitasnya itu, kami lantas banyak membahas fenomena di media sosial, mulai dari fenomena netizen yang mengunggah foto dan video binatang peliharaan di media sosial, fenomena intoleransi agama dan ceramah-ceramah guru-guru agama yang sarat ujaran kebencian, hingga ke fenomena penggunaan bahasa Inggris dalam pergaulan anak muda zaman sekarang yang tampak semakin lupa esensi dari Sumpah Pemuda, dan juga tentang hal-hal receh yang membanjiri linimasa beragam platform media sosial. Wawancara tersebut selesai pada pukul setengah tujuh.


Dhuha mengabarkan bahwa dia baru kembali dari kencan—dia pergi kencan bersama Olive usai mengikuti diskusi di Goethe-Institut—pada pukul delapan. Kami punya rencana juga bahwa mala mini akan melanjutkan proses pembongkaran konseo “bromocorah”. Pada pukul tujuh malam ini, para partisipan Milisifilem Collective angkatan Anggrek (angkatan ketiga) akan mengikuti kelas diskusi Roman Picisan. Saya sempat membantu Onyong memasak karena pada pukul tujuh kelas diskusi tersebut sudah harus dimulai. Onyong adalah salah satu partisipan angkatan Anggrek. Usai memasak, saya segera makan malam, dan kemudian berencana tidur sebelum Dhuha tiba.

Partisipan Milisifilem Collective, angkatan ketiga (angkatan Anggrek), ketika mengikuti kelas diskusi Roman Picisan malam ini di Forum Lenteng.

Otty, fasilitator Roman Picisan, memberikan materi tentang strategi pemberdayaan media yang dikembangkan oleh Forum Lenteng lewat program AKUMASSA.

Tapi saya masih sedang melihat linimasa Instagram dan belum tidur ketika Dhuha sampai di Forum Lenteng. Saya meminta izin kepadanya untuk benar-benar tidur sejenak hingga pukul sepuluh karena semenjak sore, kepala saya terasa berat. Saya yakin bahwa kepala berat ini tentu saja disebabkan oleh aktivitas begadang saya tadi malam. Saya lagi-lagi mengabaikan jadwal tidur saya hanya karena terdistraksi oleh ketertarikan saya membaca biografi tokoh-tokoh filsafat—tadi malam saya membaca tentang kisah hidup Friedrich Nietzsche yang tragis—dan berpikir larut-larut tentang rencana-rencana ide karya seni saya pribadi.


Malam ini, saya terbangun dari tidur pasca-maghrib itu pukul setengah sebelas malam. Aktivitas di ruang tengah markas masih berupa kegiatan kelas diskusi Roman Picisan. Sementara itu, Dhuha tengah memeriksa hasil transkripan diskusi Forum Festival tahun lalu yang sedang dikerjakan Asti.

Saya bersyukur bisa terbangun sebelum pukul nol-nol. Jika saja saya bablas terlelap hingga lewat tengah malam, saya gagal mencatat kegiatan pada hari ini—seperti catatan harian tanggal 7 Januari.

Nah, catatan hari ini begitu saja. Karena saya harus lanjut berdiskusi dengan Dhuha, tentang bromocorah yang belum selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: