ya, bromocorah memang belum akan selesai

Usulan pengantar tentang topik “bromocorah” yang saya dan Dhuha kerjakan semalaman suntuk, yang baru selesai pada pukul sembilan pagi tadi, akhirnya diterima oleh Hafiz. Tapi perbincangan tentang bromocoran ini pun belum akan selesai. Satu tahun ke depan, ia akan menjadi topik yang, menurut saya pribadi, akan terus dikaitkan dengan persoalan-persoalan teraktual. Sebab, bromocorah dalam konteks ini telah menjadi sebuah “kemungkinan”, menjadi sebuah metode berpikir.

Saya pribadi puas dengan proses diskusi yang berjalan, tapi bukan karena teks sebanyak tiga paragraf yang kami coba susun itu berhasil kami rampungkan. Saya puas karena takjub, karena saya jadi tahu betapa “bromocorah” sebagai konsep memiliki sifat yang sangat fleksibel, progresif, dan penuh spekulasi. Di sini, saya pun akhirnya bisa memahami bahwa spekulasi tidak bisa dituduh begitu saja sebagai pengetahuan semu (pseudoscience). Berspekulasi bisa menjadi penting jika kita menyikapinya sebagai sebuah pendekatan, metode. Terutama di dalam konteks seni, hal-hal yang tidak objektif dapat dijadikan “kebenaran seni” justru karena karya tertentu memiliki pijakan-pijakan objektif dan empirik yang diacu oleh spekulasi seninya, yang dari sana perbincangan tentang isu tertentu menjadi sangat mungkin dikembangkan ke dalam imajinasi-imajinasi genial di lain konteks.


Malam ini, Ijul pergi menonton kosen band Feast di Kemang bersama Ufik, Andra, Langit, Dini, dan seorang teman mereka yang saya tak kenal. Saya sedang menimbang-nimbang apakah akan menyusul mereka beberapa menit lagi, atau menunggu saja di markas sampai mereka semua pulang. Saya dan Ijul punya janji untuk berkencan malam ini seusai ia menonton konser. Sebenarnya, tadi sore Ijul berniat mengajak saya ikut serta menonton konser, tapi niat itu urung (sebagaimana yang ia beritahu di WhatsApp) karena saya masih ada kegiatan rapat hingga senja menjelang.  Rapat yang saya maksud adalah rapat tentang proyek seni yang akan saya lakukan di Lombok bulan depan.

Dan tumben sekali, malam ini, markas kami sepi sekali. Hanya ada saya, Anggra, dan Yuki—Hafiz dan Otty baru saja pulang ke rumah mereka (yang letaknya tepat di seberang markas kami). Suasana sepi ini barangkali karena Robby, Ule, dan Theo sekarang ini sedang berada di Yogyakarta untuk menghadiri acara musik dan festival noise. Kunjungan mereka ke kota itu, khususnya acara tersebut, adalah bagian dari riset atau observasi mereka terhadap praktik-praktik seni bebunyian dan musik eksperimental yang ada di Indonesia, untuk kebutuhan rencana penyelenggaraan acara serupa di Samarinda.


Saya belum sempat menonton film Jackal of Nahueltoro (1969) karya Miguel Littín yang ternyata juga dikoleksi oleh Forum Lenteng. Dhuha sudah menontonnya tadi malam. Dan saya pikir pengalamannya menonton film itu cukup membantu—walau tidak kentara—dalam diskusi kami mengenai bromocorah.

Saya memutuskan untuk merombak hampir seluruh draf yang sudah didiskusikan pada Kamis siang lalu dan mengganti banyak bagian dengan kalimat-kalimat saya sendiri sembari menambahkan aspek-aspek lainnya yang dirasa perlu disertakan, terutama pandangan-pandangan yang disampaikan oleh Hafiz. Namun, dalam proses merombak draf dan menulisnya dengan kalimat-kalimat baru itu, saya tetap mengacu kepada draf yang pertama dibuat oleh Dhuha dan Anggra. Setelah teks yang saya buat selesai—sekitar satu setengah jam sebelum azan subuh tadi pagi—saya meminta Dhuha untuk meninjaunya kembali. “Kali aja lu mau memolesnya dengan kata-kata atau kalimat yang lebih canggih…?!” begitu kira-kira kata saya padanya.

Pengerjaan teks tentang bromocorah tadi malam memang menjadi berlarut-larut hingga kami harus begadang hingga hari terang karena saya terpaksa harus menyelesaikan proposal yang sudah ditagih oleh Otty (untuk proyek di Lombok). Proposal itu baru selesai pukul dua pagi. Walau terbilang sangat terlambat, tapi saya pribadi senang dengan konsep karya yang saya rancang di dalam proposal (yaitu proyek saya pribadi). Namun, proyek itu pun belum tentu bisa direalisasikan seutuhnya karena semua hal di Lombok nanti bergantung pada situasi dan kondisi dan pertimbangan-pertimbangan kuratorial. Akan tetapi, ide yang sudah saya coba susun, jujur saja, membuat saya pribadi senang. Entah dari mana saya tiba-tiba mendapat ilham soal rancangan karya seni yang memadukan found object dan sound yang akan menanggapi ruang-ruang pasca-bencana, sebagai metode kreatif dalam memetakan ingatan massa korban bencana sekaligus menjadi cara untuk melakukan trauma healing oleh warga lokal di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Dengan sedikit sotoy-nya saya memberi judul proyek itu: Sound of Our Earth – Critical Rembarance: collective healing through collect and recollect in the post-disaster space. Judulnya panjang karena dibutuhkan dalam konteks “bahasa proposal”. Sebagai karya, mungkin proyek ini bisa disebut “sound of our earth” saja.

Tentang rencana keberangkatan menuju Lombok Utara bulan depan, saya memilih jalur darat dan laut, melintasi Surabaya, Banyuwangi, dan pulau Bali. Hamdani, pegiat Pasirputih yang awal bulan Januari menjadi partisipan Akademi ARKIPEL, akan menjadi teman seperjalanan saya. Saya dan Hamdani berencana pergi tanggal 30 Januari (hari Rabu), dengan prediksi bahwa saya akan tiba di Kecamatan Pemenang tanggal 2 Februari.

Saya juga sedang menimbang-nimbang, apakah tas hijau baru yang diberi Ijul sebagai kado ulang tahun saya itu bisa menopang semua barang-barang yang rencananya akan saya bawa ke Lombok? Soalnya, saya harus membawa 100 lembar karton board dan dua oil pastel. Itu semua harus saya bawa karena saya tak mau kesibukan di Lombok ini membuat proses pembuatan “buku seni” (tugas proyek dari kelas Milisifilem Collective) itu tertunda. Saya punya waktu kurang dari satu setengah bulan untuk menyelesaikan buku itu.

Oh, iya! Saya juga harus menyiapkan HD eksternal atau mengosongkan laptop saya agar saya bisa menyalin semua film (total ada sekitar tujuh film) yang harus saya tonton untuk kebutuhan riset buku tersebut. Dan semua filmnya adalah film Bresson, film-film yang sangat susah untuk dipelajari.


Ah, sepi sekali markas ini sekarang! Mungkin saya memang harus menyusul Ijul ke Kemang sekarang juga.

Tapi, saya pribadi tak begitu antusias menyaksikan sebuah band muda yang agak melejit setahun belakangan itu. Dari semua lagu yang mereka gubah, saya hanya menyenangi satu, itu pun karena irama dan liriknya cukup dekat dengan pengalaman saya secara personal. Pertimbangan saya untuk lebih memilih ke Kemang usai menulis ini, ya, untuk bertemu Ijul. Hahaha.

Jakarta, 26 Januari 2019, pukul 21:11 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: