empat buku baru

Okeh! Tadi malam akhirnya saya menonton konser Feast juga. Andra tidak se-excited yang saya duga sebelumnya. Kalau Ijul, ya, dia bersemangat. Yang paling “wa anjir bole juga lu” adalah Dini—dia mengaku ikutan moshing (slamdancing) ke tengah-tengah kerumunan para milenial yang menggemari band penggubah Sectumsempra (2017) dan Peradaban (2018) itu. Sayangnya, acara yang berlangsung di Queens Head, Jl. Kemang Raya, itu adalah milik perusahaan rokok yang semestinya tidak saya datangi. Benar sekali, jika mengetahui hal itu sebelumnya, saya pasti tidak akan datang.

Konser Feast di Queens Head, 26 Januari 2019.

Saya sarapan bersama Ijul tadi pagi; sarapan yang diakhiri dengan perbincangan mengenai situasi politik terkini di Amerika. Ijul yang lebih banyak berbicara sementara saya diam mendengarkan karena memang tidak mengikuti—dan karenanya tidak mengerti—perpolitikan negara Paman Sam tersebut. Lalu saya tidur lagi hingga siang. Sekitar pukul tiga sore, saya dan Ijul berjalan-jalan di sekitaran Jl. Margonda, Depok. Kami makan sate, beli ikat pinggang, menyempatkan diri masuk ke Timezone untuk foto di photobox, lalu ke toko buku Gunung Agung.

Harga sate kambing yang kami makan di dekat Margonda Residence itu terbilang mahal, sebenarnya. Sedangkan harga ikat pinggang yang saya beli, ya, standar-standar saja. Nah, terkait photobox, karena baik saya maupun Ijul tak punya kartu Timezone, kami mau tak mau harus membeli kartunya terlebih dahulu sehingga harga berfoto yang seharusnya terbilang murah menjadi tiga kali lipat. Tapi tak apa karena Ijul bisa memanfaatkan kartu Timezone barunya itu kapan-kapan.

Di toko buku Gunung Agung, sindrom penggila buku premature (ngoleksi buku banyak tapi entah kapan buku itu akan dibaca) lagi-lagi menimpa saya hanya karena tak sengaja melihat deretan buku-buku kinclong. Saya tahu, ketika memasuki mall Margo City, saya seharusnya tidak berniat sama sekali untuk mendatangi toko buku. Tapi mulut saya bergerak otomatis dan berkata kepada Ijul, “Abis foto kita ke toko buku, ya!” Si Ijul, man, iya-iya saja dianya.

Sebenarnya ada enam buku yang ingin saya beli; enam buku itu saya temukan tadi di toko buku Gunung Agung. Dua di antaranya berbahasa Indonesia (salah satunya adalah terjemahan), tapi saya urung membeli kedua buku itu karena uang saku saya kurang. Buku pertama yang tidak jadi saya beli adalah Habis Gelap Terbitlah Terang yang diterbitkan oleh Pustaka Narasi tahun 2017. Buku yang merupakan kumpulan surat-surat Kartini itu sendiri awalnya berjudul Door Duisternis tot Licht (1911) dalam bahasa Belanda dan diterbitkan pertama kali dalam bahasa Melayu oleh Balai Pustaka tahun 1922. Meskipun sebagian surat-surat Kartini pernah saya baca di internet, saya masih punya keinginan membeli buku itu karena belum pernah mengoleksinya—tapi, seperti yang saya bilang, tidak jadi.

Buku kedua yang tidak jadi saya beli adalah Lahirnya Tragedi (terbitan Pustaka Narasi, 2015) karya Friedrich Nietzsche, yang merupakan terjemahan dari buku pertama si filsuf Jerman itu, berjudul Die Geburt der Tragödie aus dem Geiste der Musik (1872).

Saya urung membeli kedua buku tersebut karena empat buku lainnya lebih menggoda mata saya: empat buku berbahasa Inggris (terjemahan dari bahasa Rusia) karya Fyodor Dostoevsky. Di rak buku kosan saya, sudah ada karya Dostoevsky yang berbahasa Inggris lainnya, tapi belum pernah selesai saya baca. Hahaha! Buku-buku Dostoevsky yang sudah tuntas saya baca semuanya adalah terjemahan Indonesia. Meskipun belum sanggup menuntaskan novel-novel berbahasa asing si sastrawan besar Rusia itu, hasrat untuk mengoleksi dan memajang buku-buku itu di rak kosan saya pribadi, entah mengapa, selalu tak pernah tertahankan. Ini Namanya sindrom pamer, kan, ya?! Sssshoongong mode on!

Jadi, hari ini berlalu dengan kegiatan kencan penuh manfaat: mulai dari diskusi politik luar negeri, makan kenyang, hingga beli buku. Malamnya, sepulang dari Margo City, kami makan sate lagi. Dan sekarang, saya duduk mencatat postingan hari ini sambil ditemani oleh Ijul. Besok, pekerjaan-pekerjaan kultural masih banyak menanti.

Selamat malam! #asyek

 

Depok, 27 Januari 2019, pukul 21:54 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: