menonton fassbinder lagi

Pukul sembilan malam lebih tiga puluh menit. Saya, dan teman-teman di markas, baru saja selesai menonton film Ali: Fear Eats the Soul (Jerman: Angst essen Seele auf, 1974) karya Rainer Werner Fassbinder yang dikurasi dalam program film Senin Sinema Dunia (SSD), Forum Lenteng. Afrian, selaku kurator, memandu jalannya diskusi informal.

Film tersebut, menurut saya, turut menegaskan betapa Fassbinder memiliki perhatian yang sangat tinggi pada isu-isu marginalisasi dan diskriminasi yang ada di Jerman. Pemeran utama dalam film tersebut adalah El Hedi ben Salem yang menjadi pemain figuran dalam film Fassbinder yang kami tonton minggu lalu, berjudul Fox and His Friends. Isu ini bisa dibilang bahkan masih relevan hingga hari ini sehingga film yang kami tonton ini masih signifikan untuk diperbincangkan.

Saya mengetik catatan ini di tengah-tengah diskusi, seperti biasa kalau kegiatan di Forum Lenteng masih berlangsung hingga lebih dari pukul sembilan malam.

Kiri ke kanan: Yuki, Maria, Anggra, Ufik, dan Afrian.

Yang menarik, meskipun isu-isu yang diangkatnya ke film diketahui sangat sensitif dan menyiratkan kepiluan tertentu—dalam film tersebut ia mengangkat isu diskriminasi ras terhadap pekerja imigran (Maroko) oleh masyarakat Jerman—Fassbinder piawai mengemas persoalan tersebut menjadi gelitikan yang tak jarang menimbulkan tawa penonton; bukan tawa yang merendahkan, tapi tawa cerdas dan ironis karena adanya kesadaran tentang kritisisme yang disajikan oleh si sutradara. Pendapat saya ini agaknya sama dengan pendapat teman-teman saya—Maria, Luthfan, Walay, Yuki, Maria, Ufik, dan Asti—yang sekarang ini ikut berdiskusi. Sementara itu, ada Dhuha, Hafiz, Ijul, Pingkan, dan Henry, yang belum menyampaikan pendapatnya.

Walay memiliki pendapat soal komposisi visual Fassbinder di film tersebut, yang menurutnya mengesankan gaya lukisan-lukisan Edward Hopper. Sementara itu, ketika menerima gilirian berpendapat, Dhuha mengutarakan dugaan bahwa jangan-jangan film ini adalah curhat personal Fassbinder tentang pacarnya—konon Salem adalah pacarnya si sutradara.

Kiri ke kanan: Hafiz, Walay, dan Yuki.

Hafiz mengaku bahwa dia terakhir kali menonton film tersebut lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dia menontonnya di sebuah pemutaran film di Goethe-Institut Jakarta. Katanya, kala itu juga ada diskusi tentang film ini. Saat itu, para intelektual muda sedang gandrung-gandrungnya berbicara tentang postmodernism dan post-structural. Salah satu pertanyaan yang paling sering dilontarkan ialah, yang bagaimanakah film yang “postmodernist” itu? Menurut cerita Hafiz, di kalangan intelektual saat dia masih muda dulu, film-film Fassbinder dianggap salah satu yang mewakili jawaban untuk pertanyaan semacam itu. Merujuk ke film yang baru saja kami tonton, Hafiz berpendapat bahwa adegan-adegan ketika tetangga Emmi berbicara di tangga apartemen agaknya mengindikasikan gagasan arsitektural dalam postmodernism. Film-film Fassbinder yang mengangkat topik serupa dengan film ini pun, mungkin, bisa dibaca sebagai kritik terhadap kegagalan multikulturalisme. Hal tersebut menjadi poin menarik dari film itu sendiri.


Saya akan berangkat ke Lombok Utara menggunakan jalur darat dan laut pada hari Rabu (30 Januari) mendatang. Saya sudah memesan tiket kereta menuju Surabaya. Akhirnya, Maria dan Dhuha ikut rombongan saya karena mereka gagal mendapatkan tiket untuk keberangkatan hari ini.

Besok, saya mau tidak mau harus ke bank untuk mengurus fitur mobile banking karena tagihan tahunan website ini sudah diemail oleh pihak WordPress. Pembayaran hanya bisa dilakukan via non-tunai (tapi tidak bisa transfer) maka saya harus mengaktifkan akun pembayaran virtual yang difasilitasi oleh bank BNI. Sebenarnya, akun tersebut sudah aktif di nomor ponsel saya yang satu lagi. Akan tetapi, ponsel itu berada di kontrakan seorang mahasiswa Jurusan Antropologi UI; ia meminjamnya untuk kebutuhan pameran seni yang diadakan oleh organisasi kampusnya. Pameran itu sudah selesai lebih dari sebulan lalu, tapi saya tak pernah menyempatkan diri mengunjungi kontrakannya untuk mengambil handphone tersebut hingga hari ini.

Satu-satunya cara untuk bisa kembali menggunakan akun mobile banking saya adalah dengan memindahkan akun pada aplikasinya ke handphone yang saya pegang sekarang. Tapi pemindahan itu harus melalui meja customer service di bank-nya langsung. Karena lusa saya sudah harus ke Lombok, jadi saya hanya punya esok hari untuk mengurus pemindahan akun mobile banking saya ke handphone yang saya pegang sekarang. Kalau mobile banking saya gagal diurus, maka bulan depan website pribadi saya ini tak akan bisa diakses. Anjir!


Suasana rapat ARKIPEL di markas Forum Lenteng hari ini (28 Januari 2019).

Teks pengantar tentang “bromocorah” yang saya susun bersama Dhuha sudah resmi diterima sebagai teks pengantar untuk acara festival film kami bulan Agustus mendatang. Ya, ARKIPEL Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2019 mengangkat tema “Bromocorah”. Keterangan itu bisa diakses di link ini.

Saya tiba di markas pukul sepuluh pagi tadi. Ijul pergi ke kampusnya, mengurus pendaftaran ulang untuk kuliahnya semester depan—yang akan dimulai bulan Februari—dan baru tiba di Forum Lenteng sekitar pukul tiga sore.

Hari ini, dari pagi sampai sore, kegiatan saya dihabiskan dengan rapat dan melakukan finalisasi terhadap teks pengantar tema “Bromocorah” (sebelum diunggah ke website resmi ARKIPEL).

Dan sekarang, usai diskusi SSD, pukul sepuluh malam lebih dua puluh menit, perut saya lapar sekali karena—saya baru ingat—belum makan sedari siang. Aduh! Mau pesan menu apa, ya, di Go-food hari ini…? Hm…!

Jakarta, 28 Januari 2019, pukul 22:21 WIB.f

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: