ijul demam

Hari ini, saya dan Ijul berangkat dari Forum Lenteng menuju Depok pada pukul setengah sebelas. Saya berencana akan ke Bank BNI yang ada di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia sementara Ijul akan melanjutkan pengurusan daftar ulang (dan pembelian SKS) untuk kuliahnya semester depan. Dalam perjalanan, saya semakin was-was karena tampak sekali kondisi badan Ijul yang tidak fit.

Sedari malam, Ijul sudah mengeluhkan badannya yang lemas. Saya pun mengetahui itu karena kening dan lehernya terasa panas tidak wajar. Saya memaksanya untuk tidur lebih cepat—dan sepertinya Ijul kesal karena saya memaksa. Semalam saya juga berkata tegas bahwa jika hingga siang hari ia masih merasa tidak enak badan, ia harus mau dibawa ke klinik. Di UI, mahasiswa bisa mendapatkan pelayanan gratis di klinik satelit Makara UI.

Sesampainya di dekat UI, saya dan Ijul makan siang di Warung Sederhana yang berjarak satu hingga dua menit jalan kaki dari kosannya. Kami sengaja makan di sana sembari menunggu kedatangan Dini yang berjanji akan menemani Ijul untuk mengurus “belanja mata kuliah” ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB; fakultas tempat Dini kuliah). Sebagai mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, FISIP, Ijul merasa dia perlu belajar filsafat juga. Dini baru datang lebih-kurang satu jam setelah kami berdua mulai makan—Ijul makan dengan sangat lambat karena, saya yakin, pengaruh demam yang sudah menjangkitinya sejak malam. Hingga kedatangan Dini, Ijul belum berhasil menghabiskan menu makan siangnya.

Saya meninggalkan Ijul bersama Dini karena harus segera mengurus fitur mobile banking sebelum bank tutup pukul tiga sore. Saat saya meninggalkan mereka, hari masih menunjukkan pukul dua belas. Dini memutuskan makan siang terlebih dahulu sebelum mereka berdua jalan ke FIB. Tapi ketika saya menunggu antrian di bank, Ijul mengirim pesan WhatsApp kepada saya, memberitahukan bahwa ia dan Dini memutuskan beristirahat di kosan hingga pukul satu karena para staf kampus tidak akan melayani mahasiswa pada jam istirahat makan siang. Dan pukul satu lebih empat puluh lima menit, Ijul mengirim pesan lagi, mengatakan bahwa dia menggigil dan tidak bisa bangun.

Tak berlama-lama setelah urusan saya di bank kelar, saya segera menyusul Ijul ke kosannya. Dia tidur meringkuk di kasur. Dini tidak ada. Katanya, Dini pulang ke rumahnya. Mereka berdua urung ke kampus, mungkin alasannya karena Ijul merasa semakin tidak enak badan. Ketika saya meraba keningnya, sangat panas; saya tahu bahwa tidak ada alasan untuk tidak membawanya ke klinik sesegera mungkin.


Saya orang yang sangat sering sakit. Setiap bulan, pasti ada minggu yang menjadi jatah saya untuk sakit. Saya tahu ini terjadi karena pola hidup saya yang tidak sehat: perokok berat, peminum kopi asal-asalan, begadangan hampir setiap malam, sering lupa atau telat makan, kerap mengonsumsi cabai, jarang berolahraga, dan menghabiskan waktu seharian dengan duduk karena mayoritas urusan kerja saya berlangsung di depan laptop. Dua penyakit langganan saya adalah radang tenggorokan (yang faktor utamanya adalah rokok) dan tipus (yang faktor utamanya adalah makanan pedas). Yang paling sering ngomel dengan gaya hidup tidak sehat saya ini adalah: “gembel-gembel lenteng” (terutama, Pingkan) dan “orang yang menemukan istilah gembel lenteng” (yaitu: Otty).

Saya tidak menyangkal bahwa saya punya kebiasaan buruk, bahwa efeknya adalah saya jadi sering sakit dan merepotkan orang-orang. Saya juga tidak sedang mencari pembenaran atas kebiasaan tidak sehat ini. Justru, saya mengamini orang-orang yang memarahai saya di kala saya sakit dan saya juga sangat ingin membuang kebiasaan buruk ini. Karena, saya tahu pasti bahwa sakit itu tidak enak.

Saya pernah hidup sehat, dengan pola yang benar-benar sehat, yaitu ketika saya berada di Belanda dan Polandia. Kondisi kerja di sana secara tidak langsung mensituasikan saya lebih banyak bergerak. Saat di Belanda dan Polandia, saya harus berjalan kaki ke mana-mana setiap hari dan memasak makanan sendiri, dalam rangka menghemat pengeluaran. Juga, harus sering bersih-bersih karena pemilik penginapan mewajibkan hal itu. Karena aktivitas yang lebih banyak bergerak, lelah menjadi momen yang pas di malam hari dan itu membuat saya tidak akan begadang. Makan pun juga pasti teratur karena pola hidup masyarakat di sana memang sudah teratur, atau karena cuaca dingin, aktivitas memasak dan makan adalah momen favorit yang menyenangkan untuk dilakukan. Karenanya, meskipun saya berada di sana pada suhu di bawah nol derajat sekalipun—dua negara itu mengundang saya mengiktui residensi seni pada musim dingin—saya tak terkena demam ataupun pilek sedikit pun.

Tapi pola yang demikian sungguh susah diterapkan di sini, di Jakarta. Bukan tidak bisa, tapi semangat dan kesadaran saya untuk berpola hidup sehat selalu hilang jika sudah berada di Jakarta. Kenapa? Karena semuanya mudah, dan kemudahan yang ada justru menciptakan kemalasan di diri saya, dan situasi itu justru membuat pola hidup saya sehari-hari jadi berantakan.

Sampai detik ini saya masih bingung, mengapa bisa seperti itu?


Menyaksikan Ijul yang jatuh demam hari ini ternyata membuat saya benar-benar khawatir. Ditambah lagi, besok siang saya akan berangkat ke Lombok Utara (melewati Surabaya, Banyuwangi, dan Bali). Saya akan berada di sana selama satu bulan penuh selama Februari mendatang. Artinya, saya tidak bisa menemani Ijul.

Yang lebih mengkhawatirkan, diagnosa dokter tadi sore ialah dugaan bahwa Ijul mungkin terkena DBD, meskipun diagnosa itu belum berdasarkan tes darah. Dokter hanya memberinya sejumlah obat (batuk, pilek, lambung, dan antibiotik) untuk diminum dua hari ke depan. Jika lusa badan Ijul tidak membaik, ia harus mengikuti tes laboratorium untuk memastikan apakah benar yang ia terkena DBD atau justru tipus. Karena besok saya sudah tidak berada di Jakarta, situasi ini membuat saya lumayan khawatir.


Saya ingat betul, mungkin siang dan sore tadi Ijul sempat merasa kesal karena tidak sekali saya berkata cukup keras (dengan nada tinggi), memaksanya menghabiskan makanan. Saya pun, pada akhirnya, melakukan hal yang sama dengan tindakan orang-orang yang kesal jika saya sakit: ngomel dan ngoceh soal kesehatan.

Namun, tanpa mencari-cari pembenaran, saya hanya ingin menegaskan di sini bahwa saya benar-benar khawatir dengan kesehatan Ijul. Saya ingin Ijul sehat dan selalu gembira. Itu saja. Tapi mungkin lain waktu saya harus memperbaiki cara saya menyampaikan saran. Saya akui saya cukup bodoh karena sudah berbicara dengan nada tinggi ke orang yang sedang demam. Soalnya, saya juga mengakui bahwa nada tinggi itu justru akan mengakumulasi rasa tidak enak badan (saya, kan, orang yang terbiasa sakit dan saya tahu pasti kondisi semacam itu. Hahaha!). Makanya saya mengakui bahwa saya sudah bersikap keliru kepada Ijul sore ini. Kalau Ijul membaca catatan ini: Ijul, aku minta maaf, yak! Hehehe!


Ijul mungkin sedang terlelap di kasur kosannya sekarang ini. Pukul sepuluh nanti dia harus minum obat. Saya harus membangunkannya via panggilan telepon. Malam ini adalah jadwal pertama dia untuk mengonsumsi antibiotik itu. Saya sungguh berharap Ijul segera sembuh.

Detik ini, pukul tujuh malam lebih lima puluh enam menit, orang-orang di markas menyiapkan ruang bagi Otty dan Hafiz karena mereka berdua akan mempresentasikan karya performans dalam rangka kelas Roman Picisan malam ini.


Sedikit cerita tentang hal lain: Asti sedang mengidap gejala galau ringan, karena sedang jomblo. Nah, update tentang ini akan saya catat dalam beberapa hari ke depan. Hahaha!


Saya penasaran, performans macam apakah yang akan ditampilkan Otty dan Hafiz malam ini? Sayang sekali Ijul tidak menontonnya hari ini.

Selain itu, seharusnya, malam ini adalah momen bagi saya dan Robby untuk meluncurkan mading yang sudah kami beri nama Modern Times itu. Tapi, berhubung si Pemred, Robby, sangat sibuk seminggu terakhir karena dia mendapat jabatan baru sebagai Direktur Festival untuk acara seni yang rencananya akan kami garap penghujung tahun ini, konten Modern Times belum sempat kami urus. Peluncuran mading tersebut terpaksa kami undur hingga waktu yang belum bisa ditentukan karena, alasan lainnya, saya besok ke Lombok. Mungkin Robby akan mengurusnya sendiri nanti atau dibantu oleh partisipan Milisifilem Collective yang lain.


Pukul delapan lebih dua puluh menit, performans Otty dan Hafiz pun dimulai. Catatan hari ini terpaksa saya sudahi dulu.

Jakarta, 29 Januari 2019, pukul 20:21 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: