mencatat di angkot

Pukul sembilan malam lebih dua puluh menit, saya dan Hamdani tiba di Terminal Ubung, Denpasar. Kami berpikir dua kali juga untuk memutuskan apakah akan bermalam dulu di terminal ini an menunggu angkutan ke Padang Bai besok pagi atau justru menaiki angkutan tembak dengan biaya yang lebih mahal. Harga angkutan malam ini, untuk langsung ke Padang Bai, dipatok seratus ribu minimal per orang.

Setelah menimbang-nimbang dengan Hamdani, karena katanya fast boat pertama dari Padang Bai ke Bangsal adalah pukul delapan, kami rasa akan cukup riskan jika baru berangkat pukul enam dari Terminal Ubung. Oleh karena itu, saya dan Hamdani pun sepakat untuk menaiki angkutan yang mahal itu saja.

Dhuha, Maria, dan Joe Datuak berpisah dengan kami tadi subuh. Mereka ke Pelabuhan Tanjung Perak, memilih menaiki kapal yang langsung menuju Lembar karena harganya lebih murah. Saya keukeuh untuk memilih jalur melintasi bali karena alasan yang sudah saya catat kemarin malam.

Sekarang ini, bayangkan saja—demi membela proyek pribadi di blog ini (menulis catatan harian dan mengunggahnya setiap hari di blog), saya bela-belain mengetik di dalam angkot yang kami tumpangi. Saya duduk di bangku depan sementara Hamdani di belakang. Dengan kondisi duduk yang cukup waspada, punggung tegak dan mata memantau jalanan yang kami lintasi, sedangkan tangan saya bergerak otomatis karena sudah terlatih mengetik dengan Teknik sepuluh jari (mengetik tanpa melihat keyboard), teks-teks ini seedikit demi sedikit bertambah mengisi halaman Word di laptop Mac saya.

Sudah delapan belas menit berlalu. Kata pak supir, jika perjalana malam ini tidak macet (baiasanya jam-jam segini jalanan memang tidak akan macet), durasi tempuh kami ke Padang Bai adalah satu jam lima belas menit. Sementara itu, saya sudah mulai merasa tidak enak badan karena sedari kemarin tidak bisa tidur dengan sempurna dan diserang oleh dinginnya AC kereta yang betapa norak itu.


Sore tadi, ketika saya berada di atas kapal yang menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk, saya berbincang via WhatsApp dengan cukup intes bersama Ijul. Ia mengaku sudah merasa baikan meskipun batuk-batuk dan pusing—pusing kepalanya masih terasa sedikit. Karena ia dan Dini harus menjamu seorang temannya yang menginap semalam di kosan, Ijul terlambat pergi ke klinik sore tadi untuk cek darah. Saya menyayangkan sekali situasi itu dan menjadi khawatir kalau nanti malam demam Ijul kumat lagi. Dan karena “stress” memikirkan ini, batuk berdahak dan bengek yang menimpa saya dari tadi pagi mulai mengganas. Jujusr saja, detik ini di dalam angkot, tubuh saya mulat terasa panas dingin.

Saya pun maklum, Ijul pasti juga akan khawatir saat membaca catatan hari malam ini. Tapi, entah mengapa, selalu begitu polanya. Saya orang yang terbiasa sakit, dan setiap minggu dalam satu bulan pasti ada jatah untuk sakit. Tapi jatahnya akan bertambah jika pasangan saya juga sakit. Biasanya, saya akan sakit saat pasangan saya itu menampakkan tanda-tanda mereda gejala sakitnya.

Aduh! Mata saya berkunang-kunang dan terasa rada panas sekarang ini. Saya harus menghentikan sejenak aktivitas mengetik ini.


Pukul sembilan malam lebih lima puluh tiga menit Waktu Indonesia Barat, berarti pukul sepuluh lebih lima puluh tiga menit Waktu Indonesia Tengah. Saya harus menyundahi catatan ini.

 

Gianyar, Bali, 31 Januari 2019, pukul 22:55 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: