mencatat di malam konser

Kalau di markas Forum Lenteng, Jakarta, saya sering kali mencatat di tengah-tengah diskusi (seperti di kelas Roman Picisan ataupun diskusi pasca penayangan film di program Senin Sinma Dunia), sekarang ini saya justru mengetik di depan sebuah konser mini yang sedang berlangsung, di tengah-tengah tanah lapang yang dikitari oleh rerumahan warga. Tanah ini katanya sudah disewa oleh Pasirputih selama sepuluh tahun. Pasirputih adalah komunitas lokal di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, yang menjadi host Bangsal Menggawe 2019, sebuah festival rakyat yang sebetulnya menjadi proyek seni yang akan kami garap selama bulan Februari ini. Soal “proyek seni di Lombok”, sudah saya sebut berkali-kali di catatan-catatan sebelumnya.

Suasana persiapan konser mini Wing Sentot.

Adalah Wing Sentot Wirawan, seniman (musisi) yang secara khusus mengisi konser mini yang sedang saya tonton sekarang ini. Konon, Mas Sentot berkeliling pulau [bahkan] hingga Papua menggunakan sepeda dan sering mampir di berbagai lokasi. Lombok Utara adalah salah satunya.

Detik ini, si musisi menyenandungkan lagunya yang ketiga, berjudul Koran Pagi. Penonton konser ini tidak begitu banyak sebenarnya. Selain anggota Pasirputih dan para relawan, ada sejumlah pegiat kultural dari luar Lombok (ada yang dari Sumatara Barat, Jakarta, juga Inggris), serta para penghuni rumah-rumah yang mengelilingi tanah lapang ini (mereka menonton dari teras rumah mereka masing-masing).


Menginap di rumah Gozali, semalam saya tidak bisa tidur karena panas kembali menyerang kepala saya; saya juga menggigil hingga pagi. Hingga pukul tujuh pagi, ketika kakak saya bangun dan menyiapkan bubur nasi, saya tak bisa terlelap. Akhirnya saya memutuskan bangun total saja seperti sudah tidur semalaman. Usai saya sarapan dan menenggak obat dari puskesmas, kakak saya segera berangkat menuju Pasirputih; saya menyusulnya kemudian.

Gozali baru bangun pukul sembilan pagi—sebenarnya dia sudah bangun subuh-subuh untuk sholat tapi ia tidur lagi (begitu saya kira kalau menebak bunyi-bunyi dapur dan kamar mandi ketika saya menahan panas di kepala). Ia benar-benar bangun karena saya yang membangunkannya usai mandi karena saya harus ke markas Pasirputih—yaitu tanah lapang ini (yang sudah dilengkapi dengan satu dapur umum, satu berugak [balai panggung], dan dua campcraft). Ketika dia terbangun itu, tanpa basa-basi (mandi ataupun gosok gigi) dia langsung mencomot kerupuk yang baru saja digoreng oleh istrinya, lantas bercerita kepada saya tentang kondisi-kondisi terkini tentang Pasirputih dan kabar burung tentang adanya orang yang berniat melamar kakak saya. Kami berbincang tidak terlalu lama. Setelah mencicipi satu kudapan yang disebut bantal oleh warga lokal (lapek pisang, kalau dalam bahasa kampung saya), yang disiapkan oleh Ana, isitrinya Gozali, saya pun kemudian meluncur dengan memboncengi Gozali menaiki motor ke tanah lapang yang ternyata dekat sekali jika ditempuh dengan jalan kaki saja.

Setibanya di kompleks markas Pasirputih, terik matahari begitu terasa di ubun-ubun. Ketika motor kami melintasi berugak, saya melihat kakak saya dan Dhoom tengah memasak untuk makan siang orang-orang. Mereka memasak di dekat berugak itu karena dapur umum yang tadi saya sebut belum selesai dibangun (dapur itu baru bisa digunakan tadi maghrib).

Susana tanah lapang, yang dahulunya adalah sawah, yang kini menjadi lokasi markas Pasirputih pada pasca-gempa Lombok.

Saya tak kuat melek siang tadi sehingga saya merebahkan diri selepas makan siang di salah satu campcraft dan baru terbangun pukul empat sore. Pukul empat, saya baru mulai membuka laptop. Itupun niatnya untuk mulai memeriksa situs web milik Pasirputih karena saya berjanji akan membereskan konten dan tata redaksional situs mereka. Menurut rencana, saya juga akan membantu mereka untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan tulisan dan update dari kegiatan ini. Tapi rencana itu tertunda karena ada persoalan di situs website akumassa sendiri yang mesti saya bereskan—saya mengutuk siapa saja yang menciptakan malware. Untung urusan itu sudah selesai.

Di saat saya suntuk menghadapi urusan malware itu, saya mendengar hentakan suara yang khas, yang biasa saya dengar di setiap permulaan tarian rudat, Dan suaranya pun khas suara seseorang, yaitu suara Pak Zakaria, si maestro rudat, seniman yang telah mendapat penghargaan tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atas dedikasinya melestarikan tari tradisional rudat. Namun, ketika saya melongok dari balik pintu ke arah petakan sawah tempat orang berbaris-baris, yang posisinya di depan berugak—sementara campcraft yang saya tempati berada di petakan sawah yang lain (sekitar 100 m dari berugak), yang saya lihat justru bukan gerakan tarian rudat yang murni. Sudah ada semacam modifikasi. Oh, itu barangkali yang dimaksud Siba bawah Pak Zakaria sedang mengembangkan tarian rudat ke ranah yang lebih populer, seperti senam kebugaran, agar bisa disenangi, digemari, dan diresapi oleh generasi yang lebih muda.

Senam kebugaran yang dibuat oleh Zakaria; dikembangkan berdasarkan inspirasi yang didapat dari tari tradisional rudat.


Sekarang, pukul sepuluh malam lebih lima puluh delapan menit, situasi duduk-duduk malam ini berubah dari nonton konser—yang sudah usai setengah jam lalu—ke diskusi evaluasi harian. Artinya, saya kembali berada pada situasi “mengetik catatan harian di tengah-tengah kegiatan diskusi”.

Di konser mini pada malam tanggal 3 Februari 2019 di Kecamatan Pemenang, grup musik Tree o Amphibi juga ikut mengisi acara di sela-sela Wing Sentot beristirahat.

Rapat evaluasi dipimpin berdua oleh Sibawaihi (Program Direktur Pasirputih) dan Oka Rusli (Direktur Bangsal Menggawe 2019), dan kebetulan juga dihadiri oleh [satu orang yang perlu saya sebutkan namanya] Mintarja—tokoh lokal yang rencananya juga akan berperan penting dalam proyek seni ini.


Komunikasi saya dengan Ijul melalui WhatsApp hari ini tidak begitu banyak. Hal itu wajar saja, karena kesibukan di lokasi yang berbeda. Saya menanyakan kabarnya, dia sudah baikan, dan sudah bisa ke Forum Lenteng. Artinya dia sudah membaik. Saya pun lumayan baikan meskipun tidak sepenuhnya baik. Hahaha!

Dan detik ini, ketika saya dan Siba melakukan rapat via video call dengan Otty, saya malah kena omel Otty gara-gara kemarin jatuh tepar di puskesmas setibanya di Kecamatan Pemenang. Hahahaha! Dan via video call ini, saya sempat melihat Ijul (yang duduk di sebelah Otty) melambai-lambaikan tangan. Ijul menginap di markas malam ini dan akan memulai kuliah hari pertamanya besok.

Sekarang saya harus menghentikan catatan hari ini karena saya harus rapat serius dengan Otty dan Siba.

 

Pememang, 3 Februari 2019, pukul 23:36 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: