mencari adegan pembuka

Pukul sepuluh malam lebih empat belas menit. Saya hampir lupa menulis catatan harian untuk hari ini gara-gara asyik menggambar oil pastel. Saya menggambar dari pukul lima sore tadi, sebenarnya, sedangkan sejak pukul sebelas pagi hingga satu jam setelah makan siang, saya membaca lima literatur yang dirasa memiliki relevansi dengan sebuah film tahun 1959, Pickpocket-nya Robert Bresson. Pukul dua sore, saya tertidur dan baru bangun pukul empat sore. Ketika bangun, saya mengambil nasi ke dapur umum lalu kembali ke tempat saya duduk di depan laptop sejak pagi, makan. Dari tempat duduk itu, saya menikmati sore sambil melihat orang-orang senam rudat di petakan sawah yang saya ceritakan kemarin. Usai makan, saya membaca lagi, hingga tiba waktunya saya merasa harus memulai pembuatan gambar oil pastel untuk keperluan karya “buku seni” saya.

Studi atas Bresson, film Pickpocket (1959).

Hari ini adalah hari keempat dimulainya proyek seni di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara. Orang-orang sudah sibuk, terutama membersihkan sebuah lapangan di dekat Pelabuhan Bangsal, yang rencananya akan digunakan untuk pertandingan Bangsal Cup (yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Bangsal Menggawe 2019), dari tanggal 10 hingga penhujung bulan ini. Lapangan itu sebenarnya sebidang sawah yang sudah kering dan ditumbuhi rumput-rumput yang tinggi juga kuat. Panitian menargetkan lapangan itu sudah harus bersih sebelum tanggal 7.

Saya, yang karena tiba di kecamatan ini dengan kondisi fisik yang sangat memprihatinkan, tidak diikutsertakan bergotong-royong mencabut rumput. Saya mendapat tugas untuk mengelola semua hal yang berhubungan dengan teks dan tulisan, termasuk tulisan para anggota Pasirputih yang merekam semua kegiatan di festival ini selama satu bulan ke depan. Berhubung tulisan-tulisan belum semuanya masuk ke email saya, jadi dari pagi hingga siang, saya belum punya banyak kerjaan. Seminggu pertama ini, bisa dibilang, saya masih memiliki waktu luang yang melimpah di Pemenang. Oleh karena itu, saya bisa memanfaatkannya untuk melanjutkan proses pembuatan “buku seni” tersebut. Untung saja saya membawa seratus lembar karton board dan satu botol fixative serta tiga kotak oil pastel sehingga saya bisa berkarya visual di sini.

Obat saya habis hari ini. Tadi pagi saya juga bangun dengan cukup baik meskipun perut saya belum baik sepenuhnya. Anehnya, tiga orang lain justru jatuh sakit hari ini. Pertama, Hamdani (yang menemani saya melintasi Bali—sakitnya telat menghampiri), lalu Anggra, dan yang terakhir Nawawi (pegiat di Pasirputih). Kemarin, Maria mencret-mencret.

Menu makanan hari ini pun juga terasa lebih lezat daripada yang kemarin. Kakak saya adalah koki dapur umum Bangsal Menggawe 2019, dan memang masakannya selalu lezat. Satu keluarga besar saya juga mengakui kalau masakan kakak saya enak, seperti nenek kami. Karenanya, wajar sup ikan yang dimasaknya secara sederhana siang ini mampu menggugah selera makan saya yang baru sembuh dari sakit.


Saya berkomunikasi dengan Ijul hari ini via DM Instagram karena siang tadi saya mengomentari Instagram Stories-nya tentang “elitisme ilmu pengetahuan akademik”. Ia mengomentari disiplin Hubungan Internasional yang ia pelajari di kampus, yang menurutnya sangat elitis dan tidak membumi.

Mungkin pendapatnya benar—dan saya pun mengakui bahwa ilmu-ilmu di universitas-universitas pada dasarnya akan selalu bersifat elite. Namun, yang menjadi kekhawatiran saya adalah, mahasiswa-mahasiswa kelas sarjana (yang berarti belum lulus S1) yang sering saya lihat berkoar di media sosial mengkritisi soal apa yang elite dan tidak elite dari sebuah disiplin pengetahuan, mungkin saja belum benar-benar mendalami apa yang mereka pelajari. Artinya, mengkritisi dengan tanpa terlebih dahulu melakukan pendalaman pemahaman, justru akan menciptakan pribadi yang munafik dari segi intelektualitasnya. Nah, menanggapi kemungkinan itu, saya justru menganjurkan untuk “belajar sajalah dulu dengan benar dan dengan disiplin yang tinggi, minimal hingga lulus kuliah”, baru nanti dari situ akan ketahuan, apakah ilmu yang dituding “elite” itu memuakkan atau tidak.

Bukan berarti saya tidak setuju pada kritisisme terhadap ilmu-ilmu di universitas, tapi saya justru mengkhawatirkan adanya kritisisme yang semu, yang sebenarnya hanyalah bentuk lain dari kesombongan belaka. Bagi saya, kritisisme justru harus ditunjukkan lewat kajian terhadap ilmu yang dikritik. Jika kritisisme terhadap sifat elite sebuah disiplin ilmu itu dilakukan lewat penulisan esai panjang yang komprehensif, misalnya, (yang mana hal ini mengindikasikan bahwa si mahasiswa tersebut belajar dengan benar), dan bukan dengan sekadar berkoar di media sosial, maka saya justru akan bertepuk tangan kepada si mahasiswa yang menulis esai tersebut. Namun, tepuk tangan itu pun ada syaratnya: esainya harus berkualitas. Kalau isinya asal koar juga—tiada beda dengan koarannya di media sosial—ya, itu artinya hanya bentuk lain belaka lagi dari kesombongan, yaitu kesombongan yang dipanjang-panjangkan DAN dipintar-pintarkan.


Saya duduk, mengetik, di dalam salah satu campcraft yang menjadi studio Pasirputih. Di sinilah Dhuha menginap, dan sekarang dia sudah terlelap. Baru semenit yang lalu Gozali pamit pulang ke rumahnya yang berlokasi di sebuah kebun yang bertetangga dengan tanah lapang ini. Pukul sebelas malam lebih empat menit, suasana sudah sepi sekali, berbeda dengan kemarin yang masih hiruk-pikuk karena ada acara konser mini. Sekarang ini, yang terdengar ialah suara jangkrik yang konstan dan rintik hujan yang pelan dan diiringi desiran angina yang demikian halus, serta suara tarian jari saya di atas keyboard, yang mengetik kata demi kata yang (mungkin sekarang sedang) kau baca, lalu sesekali bunyi kretekan Dji Sam Soe yang tinggal setengah batang, yang terapit di antara telunjuk dan jari tangah tangan kanan yang mengetik kata-kata itu.

Sibawaihi belum menunjukkan batang hidungnya. Bersama Oka dan beberapa anggota Pasirputih yang lain, ia sedang melakukan pertemuan di rumah pribadi para pejabat desa dan kecamatan, untuk membicarakan rencana Bangsal Menggawe 2019.

Nah, dari kejauhan saya mendengar suara Maria. Tampaknya dia baru saja pulang dari rumah Mintarja.


Seharian ini, saya cukup kebingungan mencari image pertama yang akan saya gambar dengan oil pastel. Image pertama ini saya rasa sangat penting karena ia menjadi adegan pembuka. Film yang saya pilih, Pickpocket, bukanlah film pertama Bresson, tapi saya sengaja memilih film ini sebagai yang pertama saya bongkar visualnya karena film itulah yang pertama kali membuat saya kenal Bresson. Saya ingat, ketika baru bergabung ke Forum Lenteng sekitar sembilan tahun yang lalu, Ugeng T. Moetidjo sering menyebut film ini.

Dhuha lelap sekali malam ini.

Saya membaca cepat lima literatur, di antaranya: “Stealing the Scene: Crime as Confession in Robert Bresson’s Pickpocket” karya S. Ceilidh Orr, yang merupakan bagian dari Border Crossing: Russian Literature into Film (Eds. Alexander Burry & Frederick H. White, penerbit Edinburgh University Press, 2016); lalu bab pertama buku The Psychology of Criminal Conduct karya D. A. Andrew dan James Bonta (Edisi ke-5, tahun 2010, penerbit Matthew Bender & Company, Inc.); lalu “Criminal Behavior, Criminal Mind: Being Caught in a ‘Criminal Spin’” karya Natti Ronel (International Journal of Offender Therapy and Comparative Criminology 55(8), hal. 1208–1233, tahun 2011); kemduan yang keempat adalah Criminology Goes to the Movies: Crime Theory and Popular Culture karya Nicole Rafter and Michelle Brown yang diterbitkan New York University Press tahun 2011; dan disertasi Thibaut Schilt (The Ohio State University) tahun 2005 yang berjudul Marginal Pleasure and Auteurist Cinema: The Sexual Politics of Robert Bresson, Jean-Luc Godard, Catherine Breillat and François Ozon. Dengan kelima sumber bacaan inilah saya baru bisa memutuskan image mana yang saya pilih untuk digambar, yaitu punggung si pencopet yang mendekati keramaian orang yang sedang menonton balap kuda [sepertinya] di pinggir lintasan.

Dan gambar itu pun belum selesai. Oleh karena itu, catatan harian malam ini sampai di sini dulu; saya harus menyelesaikan gambar itu segera. Selamat malam!

 

Pemenang, 4 Februari 2019, pukul 23:37 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: