rapat bangsal menggawe yang berjalan pelan

Seharian hanya menggambar oil pastel saja. Di luar campcraft: hujan, reda, hujan, reda. Udara ruangan ini pun terasa lembab. Karton board yang saya gunakan juga ikutan lembab. Sejak siang, aktivitas menggambar yang baru selesai sesaat sebelum makan malam ini [lagi-lagi hanya] menghasilkan satu gambar—sebuah adegan dari film Pickpocket, yang merupakan lanjutan dari adegan yang saya pilih kemarin sebagai pembuka.

Gambar kemarin dan gambar hari ini, keduanya, terletak berjejer di sebelah saya sekarang. Di ruangan ini, detik ini, pukul sepuluh malam lebih sepuluh menit, orang-orang berkumpul, melaksanakan rapat. Rapat tidak dilakukan di luar karena khawatir akan diserang hujan tiba-tiba. Selain itu, tanah berumput di luar juga becek sementara bangku-bangku kayu yang biasa diduduki basah semua. Karenanya, saya sekali lagi duduk di tengah-tengah rapat sambil mengetik catatan harian.

Saat saya mau mengetik paragraf kedua, rapat justru segera diakhiri. Oka menutup rapat dan kemudian memimpin doa. Kakak saya memperhatikan saya mencatat, dan ketika ia membaca kalimat ini, ia tertawa.

Delapan menit berlalu, setengah dari jumlah orang yang tadi ikut rapat sudah meninggalkan ruangan ini. Masih ada Anggra, Harry (penulis dan kurator dari Inggris), Dhuha, Maria, dan Afifah (kakak saya). Anggra dan Harry berdiskusi tentang isi rapat tadi, sedangkan kakak saya berbincang dengan Maria tentang uang belanja dapur esok hari.

Tak lama kemudian, Afifah juga meninggalkan ruangan ini.


Mengingat-ingat rapat tadi, saya merasakan suatu aliran diskusi yang demikian lambat. Entah mengapa. Mungkin karena hujan sepanjang hari dan cuaca langit yang mendung, membuat semangat teman-teman Pasirputih agak berbeda—semangat yang diiringin oleh demam-demam halus, dan lelah yang ogah dikeluhkan (dan memang wajah lelah itu tak tampak di setiap wajah mereka, kecuali di wajah si warga negara asing).

Setiap orang, organ acara, memberikan laporan terbaru dari perkembangan persiapan acara mereka masing-masing. Sejauh yang saya dengar, tidak ada kendala selain masukan-masukan baru atau antisipasi-antisipasi mendesak yang perlu dilakukan untuk menghadapi kemungkinan kendala yang sudah diprediksi. Oka, Rajib, dan Sibawaihi cukup lugas menentukan arah diskusi rapat meskipun, ya…, itu: bernuansa lambat. Bukan geraknya yang lambat, tapi suasana gelombang isi dari rapat itu sendiri. Pelan yang bukan mengindikasikan rendahnya kualitas kerja, tapi pelan yang secara tak sadar menyelearaskan nuansa alam hari ini: hujan sepanjang hari.

Kepelanan semacam ini juga saya rasakan sendiri ketika menggambar oil pastel, tapi dalam arti yang sebenarnya: bergerak lambat. Saya, masih seperti kemarin, hanya mampu membuat satu gambar. Sangat lambat! Tapi, selain gerak yang lambat, juga gejolak energi yang mengalir cukup lambat ke mata dan telinga saya sehingga kesemarakan ber-oil pastel kurang terasa oleh saya sendiri. Dan keadaan ini, buat seorang pengkarya, konon, adalah hal yang tidak menyenangkan.


Sebenarnya hari ini saya ingin memulai aktivitas menggambar oil pastel pagi hari, tapi Sibawaihi mengajak saya, Albert, dan Dhuha menemui Tuan Guru Amir di rumahnya. Tuan Guru adalah ayah kandung Siba. Beliau adalah seorang ulama. Jemaahnya ribuan di Lombok ini. Orang-orang di organisasi kami sangat menghormati Tuan Guru. Karenanya, bersilaturahmi ke rumah Tuan Guru adalah hal yang penting. Maka, saya menghabiskan pagi dengan menikmati kopi (buatan saudari SIba) dan segelas jus kurma (buatan kakak saya) di berugak Tuan Guru. Kami bercerita banyak hal-hal kecil yang sepintas-sepintas lalu, selain sesekali menyinggung soal rencana Bangsal Menggawe.

Tuan Guru orang yang ramah, bijak, lagi humoris. Di setiap topik perbincangan, ada saja gurauannya yang membuat saya tertawa atau membuat saya berpikir. Terutama ceritanya tentang orang-orang hilang di tahun-tahun misterius negeri ini, yang ternyata juga terjadi di pulau Lombok. Kami juga sempat membahas tentang adat lokal, tentang tradisi seorang pemuda menculik kekasihnya untuk bisa dinikahkan. Juga tentang perjalanan saya dari Surabaya melintasi Bali (melewati Ketapang, Gilimanuk, dan Padang Bai) hingga ke Lombok. Saya pun takjub, ternyata kakak saya sudah sangat akrab dengan Tuan Guru—kalau diingat-ingat memang kakak saya sudah lebih dari dua bulan tinggal di pulau ini.

Ayah Sibawaihi mengingatkan saya akan sosok Gus Dur. Walaupun saya tak pernah bertemu si ulama besar yang mencintai keberagaman itu, saya sangat mengaguminya sejak membaca esai-esainya, dan sebuah buku kumupulan tulisannya yang berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela. Gestur Tuan Guru, di mata saya sekarang, persis seperti Gus Dur. Hanya suaranya yang berbeda. Gus Dur lebih serak dan berat (sebagaimana yang sering saya dengar di YouTube), sedangkan Tuan Guru lebih cempreng.


Ijul sedang bikin sketsa. (Foto: Taufiqurrahman).

Hari ini, saya sangat rindu sekali dengan Ijul. Di Instagram, saya melihat aktivitas teman-teman Milisifilem Collective yang membuat sketsa tinta cina ke Kebun Raya Bogor. Ijul mengenakan pakaian yang menggemaskan. Dari foto-foto yang ditangkap, juga tampak Ijul cukup serius membuat sketsa, dan keseriusannya itu justru membuat saya semakin gemas. Jadi rindu. Hahaha!


Pukul sepuluh malam lebih empat puluh lima menit. Anggra dan Maria bersiap-siap meninggalkan ruangan ini. Harry sudah lebih dulu pergi. Hamdani kini memasuki ruangan ini, kemudian berbaring. Orang-orang berpikir untuk pergi tidur lebih awal malam ini.

Ya, energi hari ini bukan berarti tidak ada atau lebih lemah daripada hari kemarin. Hanya saja, perputarannya terasa demikian lambat, pelan, dan nuansa yang ada seakan terasa sendu mengiringi langit yang mendung meskipun suara berisiknya Maria tetap saja menggema-gema.

 

Pemenang, 5 Februari 2019, pukul 22:48 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: