tentang mendekolonisasi

Pukul sepuluh malam kurang dua menit. Saya baru saja memberikan komentar dalam diskusi yang menjadi bagian dari kegiatan presentasi dari Harry Burke, seorang penulis dan kurator asal Inggris, tentang proyek Decolonize This Place—proyek yang ia lakukan ketika residensi di Artist Space, Amerika Serikat. Presentasinya itu ia beri judul “Artists as Organizers”.

Acara ini bisa dibilang acara dadakan karena Harry meminta kesediaan Pasirputih untuk memfasilitasinya memberikan semacam presentasi kecil, untuk memantik diskusi, karena ia mengaku cukup terinspirasi dari pengalaman yang ia dapat selama menetap beberapa hari di Kecamatan Pemenang, melihat proses persiapan Bangsal Menggawe. Ia melihat ada semacam spirit yang sama antara apa yang terjadi di Pemenang, lewat acara yang diadakan oleh Pasirputih, dan apa yang pernah ia lakukan di tahun 2016 lewat proyek Decolonize This Place.

Dalam proyeknya itu, ruang seni yang disebut Artist Space itu, diubah fungsinya bukan lagi hanya sebagai museum, tapi tempat berkumpul (nongkrong) para pegiat kultural dan warga biasa. Gedung itu, katanya, menjadi terbuka sama sekali, dan dalam prosesnya, berbagai diskusi diselenggarakan untuk membicarakan sejumlah isu internasional yang penting, di antaranya tentang masyarakat adat, imigran, perjuangan kulit hitam, dan hak-hak kaum termarjinalkan. Dalam konteks ini, menurut Harry, yang diproduksi ialah peristiwa ketimbang hanya karya berbasis objek. Di sini, seniman menjadi “panitia” daripada sekadar “pengkarya konvensional”. Hal itu juga telah diwacanakan dalam AKUMASSA sejak tahun 2016 (tahun yang sama diselenggarakannya proyek itu), dengan istilah: “seniman menjadi fasilitator”.

Cerita yang di mata saya menarik, yang saya dengar dari Harry, ialah tentang aksi solidaritas para pegiat kultural mengorganisir gerakan anti-hari libur Kolombus yang kemudian mendekolonisasi sebuah museum sejarah yang ada di Amerika. Aksi itu juga berlanjut dengan ditaruhnya sebuah banner raksasa di Tembok Gaza, bertuliskan “Decolonize This Place”.

Demikian catatan hari ini. Saya kira, saya akan menjelaskan persoalan ini lebih detail di hari yang lain karena mala mini ada beberapa hal yang harus saya kerjakan.

Pemenang, 6 Februari 2019, pukul 22:02 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: