bangsal cup dimulai hari ini

Saya teringat presentasi Harry Burke beberapa hari lalu yang mengulas Bangsal Cup sebagai contoh kasus untuk konteks di Kecamatan Pemenang, dalam usahanya menjelaskan teoretisasi pengalamannya di Artist Space tentang “seniman sebagai panitia”. Bahwa, proses dalam mempersiapkan Bangsal Cup bukan semata mengejar “terjadinya sebuah event”, tetapi juga proses tentang bagaimana warga masyarakat mengaktivasi dirinya dan terlibat secara riil dalam sebuah tindakan [ber]kebudayaan.

Bangsal Cup 2019 dibuka hari ini, 10 Februari 2019.

Hari ini, Bangsal Cup tahun 2019, turnamen khusus untuk pemain usia 13 tahun, dimulai. Turnaman futsal ini adalah bagian dari rangkaian besar perayaan Bangsal Menggawe 2019. Camat Pemenang menghadiri acara pembukaan; memberikan pidato sambutan sekaligus membuka jalannya pertandingan. Hingga akhir bulan ini, setiap sore di sepetak tanah yang sudah dibersihkan oleh beberapa pemuda (para pegiat Pasirputih) sejak seminggu lalu itu, akan diramaikan oleh warga yang menonton pertandingan futsal U-13.

Tahun ini adalah penyelenggaraan kali ketiga Bangsal Cup. Turnamen ini pertama kali direalisasikan pada tahun 2016 dalam rangka proyek AKUMASSA Chronicle yang diadakan oleh Forum Lenteng dan Pasirputih. Proyek seni AKUMASSA Chronicle itulah yang menelurkan festival rakyat Bangsal Menggawe. Tahun itu, Bangsal Menggawe mengangkat tema “Membasaq” (“Membasuh Diri”). Digagas sebagai proyek seni salah seorang seniman yang kala itu ikut kegiatan residensi di AKUMASSA Chronicle Lombok Utara, Bangsal Cup kemudian disepakati menjadi acara tahunan dan akan menjadi bagian dari penyelenggaraan Bangsal Menggawe yang juga disepakati menjadi festival rakyat tahunan warga Lombok Utara pasca AKUMASSA Chronicle. Ahmad Tabibudin (biasa dipanggil Asta; seorang seniman teater dan juga jurnalis) adalah si seniman yang menggagas ide Bangsal Cup tersebut.

Tahun 2017, ketika diselenggarakan Bangsal Menggawe kedua yang mengangkat tema “Siq-siq O Bungkuk” (sebuah kalimat filosofis yang menyiratkan kerendahhatian dalam aksi-aksi kultural), Bangsal Cup juga diadakan kembali. Kala itu, Fatih Kudus Jaelani adalah seniman yang bertanggung jawab menyelenggarakannya. Dalam garapannya, Fatih menghasilkan sebuah buku yang diproduksi dalam kolaborasinya bersama tokoh-tokoh pemuda di Kecamatan Pemenang. Buku itu berisi tentang komunitas-komunitas pecinta bola di kecamatan tersebut, secara khusus, dan Lombok Utara secara umum.

Tahun 2018, Bangsal Menggawe tertunda karena negeri Siq-Siq O Bungkuk terkena musibah bencana gempa. Tahun 2019 ini, niat untuk mengadakan kembali Bangsal Menggawe tak padam sama sekali. Di sinilah saya sekarang, ikut terlibat menyaksikan dan bantu-bantu realisasi festival rakyat itu untuk ketiga kalinya. Dan Bangsal Cup, yang tahun ini dikoordinasi oleh Rajib—anggota Pasirputih—juga menjadi sajian utama dalam rangkaian Bangsal Menggawe 2019 yang kali ini berupaya mengangkat ide tentang “museum dongeng tetangga”.

Camat Pemenang memberikan sambutan sekaligus membuka turnamen Bangsal Cup U-13.

Tapi wajah pelaksanaan Bangsal Cup tahun ini berbeda karena yang bertanding adalah pemuda-pemuda berusia 13 tahun. Di dua penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya, peserta Bangsal Cup adalah pemuda-pemuda usia produktif. DI mata saya sendiri, pemandangan Bangsal Cup 2019 sangat berbeda, tapi terasa lebih fresh. Lokasinya juga bukan di pantai (sebagaimana mestinya Bangsal Cup seharusnya diadakan), tapi di sebuah petak tanah yang jaraknya agak sedikit jauh dari pelabuhan Bangsal. Dan kerja gotong-royong membersihkan rumput setinggi pinggang yang sebelumnya menyesaki petak tanah itu, adalah “peristiwa penting” lainnya yang perlu dicatat. Saya rasa, momen bergotong-royong membersihkan rumput itulah yang justru membuat Harry Burke—yang juga ikut bergotong royong mengangkat cangkul—menemukan esensi dari inisiasi Bangsal Cup dalam rangka Bangsal Menggawe ini.


Utang-utang gambar oil pastel saya semakin banyak saja. Hari ini, hingga pukul empat sebelum saya berangkat menuju lapangan Bangsal Cup, saya hanya mampu membuat dua saja. Lalu, setelah maghrib, saya hanya mampu membuat satu. Sementara kemarin, saya tak sanggup menyelesaikan semua utang. Jika dihitung-hitung, bisa dikatakan bahwa saya belum menyelesaikan lima gambar oil pastel untuk jatah hari ini karena waktu yang ada saya gunakan untuk melunasi utang-utang gambar hari sebelumnya. Dan rasanya tak mungkin membuat lima gambar dalam satu malam, kan? Sungguh gila!

Hari ini saya hanya mampu membuat tiga gambar. Mampus~~~

Jika kemarin saya mengeluh bahwa rasa-rasanya jari saya akan meledak, kini saya benar-benar merasakan bahwa jari saya sudah menggelembung seperti balon yang siap-siap meletus. Sakitnya sudah terasa ketika jari itu disentuhkan ke karton board. Detik ini saja, jari saya selalu mengeluarkan sensasi setruman setiap kali jari telunjuk dan jari manis tangan kanan saya menyentuh keyboard laptop ini.

Batangan-batangan oil pastel saya juga sudah mulai habis. Sedangkan kertas karton board yang sudah digambar juga sudah mulai menumpuk. Saya kebingungan: pertama tentang stok oil pastel, kedua tentang bagaimana cara mengatur letak gambar-gambar yang sudah jadi ini. Saya tak sabar menunggu kedatangan Anggra dari Jakarta membawa lima buah map holder, tempat yang paling aman untuk menyimpan gambar-gambar ini agar terlindung dari debu. Selain itu, botol fixative saya juga, sepertinya, sudah mulai habis. Saya tak menyangka bahwa satu botol ini hanya mampu melapisi kurang dari dua puluh gambar berukuran A3.


Terdengar suara rekaman orang mengaji dari tetangga, entah tetangga yang sebelah mana. Malam ini, di markas Pasirputih, suasana sepi sekali. Orang-orang—para pegiat Pasirputih pulang ke rumahnya masing-masing lebih awal, mungkin lelah karena tadi sore mengurus jalannya turnamen Bangsal Cup. Oka, Direktur Bangsal Menggawe (salah satu anggota Pasirputih yang paling sibuk), juga tampaknya tidur lebih awal. Sejak kemarin, tampak badan Oka tidak fit karena kelelahan. Sibawaihi pergi ke Bayan mengantar istrinya, Etika. Sementara itu, Maria dan Gozali pergi ke rumah Mintarja untuk lanjut mendiskusikan rencana pembuatan terompet besar yang rencananya akan dijadikan sajian utama dalam Bangsal Menggawe nanti.

Dhuha dan Hamdani sedang menyunting video di campcraft yang satu lagi, yang letaknya di sebelah campcraft tempat saya mengetik catatan ini. Dhuha mengatakan bahwa sudah ada tiga tempat yang ia dan Imran pilih untuk dijadikan sebagai stasiun satelit “Berugaq TV” mereka. Dhua dan Imran sekarang sedang kebingungan bagaimana menyiasati ketiadaan DVD player dan kurangnya stok kabel.

Besok, rencananya saya dan SIbawaihi akan ke badan arsip kecamatan—kegiatan yang agak merepotkan dan sudah bisa diprediksi tak akan membuahkan apa-apa karena, katanya Gozali, badan arsip kecamatan ini terkelola dengan tidak baik. Saya dan SIbawaihi perlu meninjau badan arsip ini untuk mencari clue tentang signifikansi “museum” yang akan digali dan direfleksikan dalam proyek seni Bangsal Menggawe tahun ini. Tapi, keharusan untuk berangkat (menemui Sibawaihi) ke Tanjug besok siang itu cukup memberatkan, karena bulan ini terik matahari di siang hari Lombok Utara sangat tidak mengenakkan ubun-ubun kepala. Siang begitu terik, malam terasa dingin tak nyaman. Maka wajar banyak “seniman panitia” di Pasirputih yang juga jatuh sakit, seperti yang saya alami di hari pertama kedatangan saya ke kecamatan ini sepuluh hari yang lalu—walaupun banyak yang berkomentar bahwa saya sakit karena melintasi Bali.

 

Pemenang, 10 Februari 2019, pukul 23:02 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: