tentang mimpi dan pawang rinjani

Semalam, saya bermimpi bertemu dengan orang yang sudah tak mau saya temui. Dua malam lalu, mimpi saya juga begitu: bertemu orang itu di malam hari, pertemuan yang tidak bisa saya tolak, tapi, sedari awal pertemuan, saya menyadari bahwa saya hanya dijadikan alat untuk mengalihkan hal yang pada saat itu enggan ia hadapi. Di sini, saya kira hanya Dhuha yang mengerti jika saya menceritakan mimpi itu lewat kode-kode, dan memang begitulah kemarin saya menceritakannya, yang hanya ditanggapi Dhuha dengan tawa yang bisa dibilang sedikit mencemooh “kedunguan” itu.

Saya kesal dengan mimpi tersebut. Sebab, saya sudah tak mau sama sekali mengingat-ingat kemunafikan seseorang. Mengingat hal itu hanya akan memupuk kebencian dan menciptakan energi negatif. Tapi, datangnya mimpi itu dua malam berturut-turut ternyata membuat saya jadi berpikir-pikir: barangkali saya memang harus belajar bagaimana caranya menenggelamkan kata-kata yang biasanya akan keluar dari mulut saya, menenggelamkannya sebelum kata-kata itu mengudara dan menggapai telinga-telinga orang yang tak pernah terima menghadapi kenyataan bahwa oil pastel itu sama dengan senar gitar.

Dan sepertinya mimpi itu juga sebuah peringatan: definisi atas diri dan orang lain adalah buah dari perseteruan tiga elemen yang dirumuskan oleh si penginspirasi gerakan-gerakan 20-an yang berulang dalam lompatan yang lain di tahun 60-an. Bahwa, dramatization of evil era sekarang adalah simpangan khas dari kutukan Sisyphus kontemporer yang, dalam keabaiannya, kerap mengamini resep hentakan senandung beramai-ramai yang dibumbui tempo menggebuk-gebuk, lewat kata-kata yang dicomot sana-sini untuk dikait-kaitkan dengan persoalan aktual. Jikalau memang kualitas opresif dan mimpi buruk sering lestari di alam sastra, maka melumat kalimat di atas selembar-dua lembar kertas kusam dari tumpukan buku-buku yang kuyup lembab di balik rak-rak lapuk Kecamatan Gangga hanyalah aktualisasi kopong yang akan segera selesai begitu saja di linimasa. Saya tak habis pikir, jangan-jangan, usaha pengarsipan festival eksotis di tengah-tengah ibukota tahun lalu itu cuma dalih kemalasan yang dipoles ke bingkai satu kali satu demi citra kemandirian dan produktivitas untuk tak mau kalah—di satu sisi—dan untuk memancing-mancing—di sisi yang lain. Betapa konyolnya!


Pukul setengah sembilan pagi tadi, Imran dan Sibawaihi sudah memanggil-manggil dari luar campcraft. Saya terbangun dengan dada yang sesak dan kepala yang berat. Saya cukup tidur, sebenarnya. Kepala saya berat justru karena tak mampu menahan kesal akibat mimpi yang—tidak buruk, sebenarnya, tapi—menjengkelkan; seharusnya mimpi itu tidak perlu datang. Awas saja kalau malam ini ia datang lagi.

Hari ini, saya dan Sibawaihi mempunyai agenda mengunjungi Badan Pengarsipan di Lombok Utara yang letaknya di Kecamatan Gangga. Bangunan mereka rusak akibat gempa. Dinding-dindingnya tampak masih berdiri kokoh dari luar. Namun, jika melongok ke dalam melalui jendela-jendela yang retak, akan terlihat langit-langit ruangan yang ambruk dan tersadarlah kita betapa bangunan itu telah begitu ringkih dan rawan roboh. Sementara itu, tumpukan buku-buku diletakkan sementara di dalam tenda dari BNPB. Ruangan kantor mereka juga sementara ini menggunakan tenda. Ketika kami tiba, pemandangan malas khas pegawai negeri tak berubah sama sekali. Yang berbeda hanyalah ruangan kerja mereka.

Penampakan bangunan kantor Badan Arsip Daerah di Kecamatan Gangga. (Foto: Muhammad Sibawaihi).

Pak Johan, orang yang seharusnya kami temui, pejabat yang menggantikan Pak Usman (menurut cerita Sibawaihi), tidak berada di tempat. Kami berbincang singkat dengan salah seorang pegawai; ia menjawab pertanyaan kami sekenanya saja, lebih banyak ngeles daripada menawarkan pemikiran-pemikiran penting buat riset saya dan Sibawaihi. Intinya, kondisi badan arsip dan perpustakaan daerah kabupaten ini, sekarang, sangat menyedihkan. Jawaban mereka atas situasi itu: kami masih menunggu dana.

Suasana interior kantor Badan Arsip pasca-gempa Lombok. (Foto: Muhammad Sibawaihi).

Buku-buku dari bagian perpustakaan yang berhasil diselematkan. (Foto: Muhammad Sibawaihi).

Karena saya sadar bahwa tidak ada gunanya kami berlama-lama di sana, saya memberi usul kepada Sibawaihi untuk segera ke markas Pawang Rinjani, dengan mampir terlebih dahulu ke warung makan terdekat untuk meredam keroncong di perut.


Di Pawang Rinjani, Desa Gondang, Kecamatan Gangga, saya bertemu Ciki, tokoh komunitas itu yang sudah berkali-kali disebut oleh Sibawaihi. Katanya, saya harus bertemu orang ini. Sibawaihi juga bercerita bahwa kakak saya, Afifah (pegiat Sayurankita, Pekanbaru) sudah menganggap markas Pawang Rinjani sebagai rumah kedua di Lombok Utara ini, selain Pasirputih. Katanya juga, Ciki adalah orang yang mengerti alam. Ia tahu mana tanaman yang beracun dan mana yang tidak. Siang itu Ciki juga bercerita kepada saya tentang usahanya mengembangkan sistem penyemaian bibit agar masyarakat di sekitaran tempat tinggal mereka bisa mengakses bibit sebebas mungkin. Kalau menakar-nakar dari cerita Ciki dan Sibawaihi, saya rasa aset komunitas ini cukup melimpah. Lahan mereka saja, tempat yang saya kunjungi tadi siang, memiliki luas +/- 10 Are (1000 m2). Itu saya ketahui dari tulisan Nawawi, pacar kakak saya yang juga bergiat di Pasirputih sekarang ini.

Sibawaihi sendiri pernah berkata kepada saya, dari sekian banyak komunitas akar rumput di Lombok Utara, Pawang Rinjani adalah komunitas yang paling bersahabat dengan Pasirputih, yang (menurut saya) sepertinya memiliki kesamaan visi dengan pegiat-pegiat di Kecamatan Pemenang. Sosok Ciki pun bersahaja di mata saya. Orangnya pendek, rambutnya gondrong, kulitnya kasar, tapi suaranya lembut dan selalu tersenyum. Nawawi dalam tulisannya juga menyebut bahwa Ciki adalah orang yang suka bercanda, tapi kerap mengaitkan segala hal dengan perspektif kebudayaan.

Ia dan Sibawaihi tadi siang juga sempat membahas tentang ritual-ritual lokal, seperti peristiwa penyucian lembaran-lembaran lontar yang dianggap keramat oleh para tetua di Lombok Utara, dan keterkaitan fenomena itu dengan tradisi lokal yang ternyata juga bisa dinilai sangat mencintai arsip. Sibawaihi sedang mencoba mencari rumusan untuk membingkai hal itu menjadi persoalan kuratorial dalam proyek seni Bangsal Menggawe tahun ini, bersama Otty.


Di sela-sela obrolan Sibawaihi dan Ciki, saya teringat lagi dengan mimpi semalam dan malam sebelumnya. Suatu narasi yang tak berkait sama sekali. Yang satu adalah efek traumatis terhadap kemunafikan orang lain di masa lalu, sedangkan yang satunya lagi adalah harapan-harapan yang menyegarkan di masa sekarang.

Tapi, di antara keduanya, saya juga teringat dengan pernyataan saya yang lain di suatu masa: sekarang ini saya tak mau muluk-muluk selain mengharapkan yang baik-baik saja yang datang, yang sederhana-sederhana saja. Soalnya, saya sesungguhnya sudah benar-benar lelah dengan segala macam ekspektasi-ekspektasi. Belum lama ini, terkait soal ekspektasi-ekspektasian itu, malah lagi-lagi disalahpahami orang, bahwa katanya saya “masih selalu memaksakan ekspektasi”. Ck! Itu jelas keliru sama sekali. Padahal, itu semua hanya persoalan ketepatan mencerna saja, bukan apa-apa; seandainya cernaannya tepat, tentu kelelahan saya ini bisa disadari. Dan salah satu alasan yang menyebabkan saya lelah adalah kemunafikan orang lain di masa lalu itu, yang kejadiannya berulang dalam bentuk narasi yang lain dalam mimpi di dua malam terakhir ini.

Ya..,, biar sajalah…! Jika tidak ada yang bisa menyadari (atau tidak mau menyadari) kelelahan ini, itu bukan soal yang penting juga. Toh, saya sedang berpikir dan berencana untuk menenggelamkan kata-kata lisan sebelum mereka sempat mengudara. Menurut sebagian orang, kediaman semacam itu lebih baik; sedangkan menurut saya, itu sebenarnya pertanda kemunduran.

Tapi mundur kadang kala bukan berarti memilih mati dan menjadi pengecut. Saya memilih mundur karena pekerjaan oil pastel saya masih menumpuk. Sesederhana itu alasanya.

Tapi Pawang Rinjani mungkin bisa menjadi pengingat di masa depan, bahwa suatu saat nanti, agaknya, saya perlu berpindah dari oil pastel ke dedaunan, demi membuat puluhan, mungkin ratusan atau bahkan ribuan, herbarium. Kakak saya tahu cara membuatnya. Semoga malam ini saya mimpi herbarium.

Pemenang, 12 Februari 2019, pukul 19:51 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Subscribe to this comment feed via RSS

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: